Konten dari Pengguna

Anak Muda, Ambisi, dan Rasa Kosong yang Diam-diam Tumbuh

Chorint Marchelina Sirumapea

Chorint Marchelina Sirumapea

Mahasiswi Prodi Teknik Informatika Universitas Katolik Santo Thomas

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Chorint Marchelina Sirumapea tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber gambar dari AI
zoom-in-whitePerbesar
sumber gambar dari AI

Anak muda hari ini hidup dalam tekanan untuk selalu bergerak maju. Bukan sekadar berkembang, tetapi harus terlihat berkembang. Ambisi tidak lagi lahir dari kesadaran diri, melainkan dari tuntutan sosial yang terus berisik. Kita didorong untuk cepat lulus, cepat bekerja, cepat sukses, dan cepat membuktikan diri. Di tengah semua dorongan itu, satu hal sering luput: apakah kita masih punya ruang untuk memahami diri sendiri?

Media sosial memainkan peran besar dalam membentuk ambisi generasi muda. Timeline dipenuhi narasi keberhasilan yang dipoles rapi—promosi jabatan, pencapaian akademik, bisnis yang “tiba-tiba” berhasil. Semua tampak cepat, instan, dan membahagiakan. Yang tidak ditampilkan adalah kelelahan, kebingungan, dan keraguan. Akibatnya, anak muda tumbuh dengan standar keberhasilan yang tidak manusiawi. Jika tidak bergerak secepat yang lain, merasa gagal. Jika berhenti sejenak, merasa tertinggal.

Ambisi yang seharusnya menjadi pendorong justru berubah menjadi beban. Banyak anak muda mengejar sesuatu tanpa benar-benar tahu alasannya. Mereka sibuk memenuhi ekspektasi—orang tua, lingkungan, algoritma—hingga lupa mendengarkan diri sendiri. Hidup dijalani seperti perlombaan tanpa garis akhir yang jelas. Ketika satu target tercapai, target lain sudah menunggu. Tidak ada ruang untuk merasa cukup, apalagi bahagia.

Di sinilah rasa kosong mulai tumbuh. Bukan karena kurang pencapaian, tetapi karena kehilangan makna. Kesibukan yang terus-menerus menciptakan ilusi produktivitas, padahal yang terjadi sering kali adalah kelelahan emosional. Anak muda terlihat aktif, terlibat, dan “on track”, tetapi di dalamnya merasa hampa. Mereka bertanya dalam diam, “Untuk apa semua ini?” Namun pertanyaan itu jarang mendapat jawaban, karena hidup sudah terlanjur berjalan terlalu cepat.

Budaya membandingkan diri memperparah kondisi ini. Setiap pencapaian pribadi terasa kecil ketika dibandingkan dengan versi terbaik orang lain di media sosial. Proses yang seharusnya dihargai justru dianggap lambat. Anak muda akhirnya hidup dalam rasa tidak pernah cukup. Tidak cukup pintar, tidak cukup sukses, tidak cukup menarik. Kekosongan itu bukan muncul karena kegagalan nyata, tetapi karena standar yang terus bergeser dan tak pernah bisa dikejar.

Ironisnya, keraguan dan kebingungan justru dianggap kelemahan. Anak muda dituntut untuk tahu arah hidupnya sejak dini. Padahal, kebingungan adalah bagian wajar dari proses tumbuh. Ketika ragu tidak diberi ruang, banyak yang memilih menekan perasaannya sendiri. Mereka tetap berlari, meski tidak yakin ke mana arahnya. Ambisi terus dipelihara, tetapi hubungan dengan diri sendiri perlahan terputus.

Rasa kosong juga menjadi tanda bahwa hidup terlalu berpusat pada hasil. Kita diajarkan untuk menghargai angka, gelar, dan pencapaian yang bisa dipamerkan. Namun jarang diajak untuk bertanya apakah hidup yang dijalani masih selaras dengan nilai pribadi. Ketika tujuan hanya soal pengakuan, kebahagiaan menjadi rapuh. Ia bergantung pada validasi eksternal, bukan pada kepuasan batin.

Menyadari rasa kosong bukanlah kegagalan moral atau pribadi. Justru, ia adalah sinyal penting bahwa ada yang perlu dievaluasi. Anak muda perlu berani mempertanyakan narasi sukses yang selama ini diterima begitu saja. Tidak semua orang harus bergerak cepat. Tidak semua orang harus punya rencana hidup yang rapi di usia muda. Hidup bukan lomba siapa paling dulu sampai, melainkan proses menemukan makna yang sesuai dengan diri masing-masing.

Berhenti sejenak bukan berarti malas atau menyerah. Mengurangi laju, menata ulang tujuan, dan berani mengatakan “cukup” adalah bentuk perlawanan terhadap budaya yang memaksa anak muda terus berlari. Ambisi yang sehat bukan ambisi yang mengorbankan kesehatan mental dan jati diri, tetapi yang memberi ruang untuk tumbuh secara utuh.