Guru Bimbingan dan Konseling di SD: Sebuah Kebutuhan di SDN 067776 Medan Johor

Mahasiswa PGSD: Tertarik pada dunia pendidikan, belajar hal baru, dan berbagi informasi yang bermanfaat.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Chris Ledi Pelawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Masalah
Sekolah dasar merupakan tempat pertama anak belajar mengenal dunia di luar lingkungan keluarganya. Di sekolah, anak tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga belajar mengendalikan emosi, menghargai perbedaan, menyelesaikan konflik, serta membangun hubungan sosial. Oleh karena itu, pendidikan di sekolah dasar seharusnya tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pada perkembangan karakter dan kesehatan mental peserta didik.
Namun, salah satu permasalahan yang masih banyak ditemukan di sekolah dasar adalah belum tersedianya Guru Bimbingan dan Konseling (BK) secara khusus. Kondisi ini juga menjadi tantangan bagi banyak sekolah negeri, termasuk UPT SD Negeri 067776 Medan Johor. Akibatnya, seluruh layanan bimbingan dan konseling masih menjadi bagian dari tugas guru kelas.
Padahal, guru kelas telah memiliki tanggung jawab utama yang cukup besar, mulai dari menyusun perangkat pembelajaran, melaksanakan proses belajar mengajar, melakukan asesmen, mengelola administrasi kelas, hingga berkomunikasi dengan orang tua peserta didik. Di tengah padatnya tugas tersebut, guru juga harus menangani berbagai persoalan peserta didik, seperti konflik antarteman, kurangnya motivasi belajar, kesulitan beradaptasi, perubahan perilaku, bahkan masalah yang berasal dari lingkungan keluarga.
Kondisi ini menyebabkan guru harus menjalankan dua peran sekaligus, yaitu sebagai pendidik dan sebagai konselor. Meskipun guru kelas berusaha memberikan pelayanan terbaik, keterbatasan waktu, tenaga, dan kompetensi dalam bidang konseling membuat layanan yang diberikan belum dapat dilakukan secara optimal.
Fakta di Lapangan
Berdasarkan hasil pengamatan yang saya lakukan selama menjalani kegiatan asistensi mengajar di UPT SD Negeri 067776 Medan Johor, terlihat bahwa peran guru kelas tidak hanya terbatas pada proses mengajar di dalam kelas. Dalam kegiatan sehari-hari, guru juga berperan sebagai pembimbing yang membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi peserta didik. Misalnya, guru sering menjadi penengah ketika terjadi perselisihan antarsiswa, memberikan dorongan kepada peserta didik yang kehilangan motivasi belajar, mendampingi siswa yang pemalu atau kurang percaya diri, serta menjalin komunikasi dengan orang tua apabila terdapat kendala yang memerlukan perhatian bersama.
Selama proses pembelajaran, saya juga mengamati bahwa beberapa peserta didik mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi, kurang mampu berinteraksi dan bekerja sama dengan teman sekelas, serta sulit mempertahankan konsentrasi ketika mengikuti pelajaran. Tidak jarang guru harus meluangkan waktu terlebih dahulu untuk menenangkan suasana kelas sebelum memulai pembelajaran agar kegiatan belajar dapat berlangsung dengan baik.
Di samping menjalankan peran tersebut, guru tetap memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan materi pembelajaran sesuai kurikulum, melaksanakan penilaian hasil belajar, serta menyelesaikan berbagai tugas administrasi sekolah. Dengan jumlah peserta didik yang cukup banyak di setiap kelas, guru sering menghadapi keterbatasan waktu sehingga belum dapat memberikan pendampingan secara maksimal kepada setiap siswa yang membutuhkan perhatian khusus.
Selain itu, perkembangan teknologi juga menciptakan tantangan bagi guru kelas, banyak peserta didik yang sudah terbiasa menggunakan gadget sejak kecil sehingga cendrung kehilangan fokus pada saat mengikuti pembelajaran. Sehingga membawa dampak dari media sosial ke lingkungan sekolah, seperti menggunakan Bahasa yang kurang sopan atau munculnya perselisihan antarteman sebagai akibat dari kesalahpahaman di dunia maya.
ANALISIS
Menurut saya, keadaan tersebut memperlihatkan bahwa layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar memang merupakan kebutuhan yang penting. Guru kelas memang lebih memahami karakter peserta didiknya karena setiap hari berinteraksi langsung di dalam kelas. Akan tetapi, kedekatan itu belum tentu diiringi dengan kemampuan memberikan layanan konseling secara profesional.
Jika seluruh tanggung jawab tersebut hanya ditumpukan kepada guru kelas, maka proses pembelajaran maupun pendampingan peserta didik berisiko tidak berjalan secara maksimal. Guru harus membagi fokus antara menyampaikan materi pelajaran dan menangani berbagai persoalan peserta didik. Kondisi ini dapat membuat sejumlah masalah siswa tidak terdeteksi sejak awal.
Masa sekolah dasar merupakan periode yang sangat penting dalam pembentukan karakter, kebiasaan belajar, serta perkembangan sosial dan emosional anak. Apabila peserta didik memperoleh pendampingan yang tepat sejak dini, mereka akan lebih mudah tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mampu berkomunikasi dengan baik, disiplin, dan terampil menyelesaikan masalah. Sebaliknya, jika persoalan-persoalan tersebut dibiarkan, dampaknya dapat berpengaruh pada prestasi belajar, hubungan sosial, bahkan perkembangan psikologis anak di kemudian hari.
Dengan demikian, keberadaan Guru BK seharusnya tidak dianggap sebagai pelengkap semata, melainkan sebagai bagian penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan secara menyeluruh.
SOLUSI
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan kerja sama dari berbagai pihak. Pemerintah perlu mulai mempertimbangkan penempatan Guru Bimbingan dan Konseling di sekolah dasar secara bertahap, terutama pada sekolah yang memiliki jumlah peserta didik cukup banyak.Selama kebijakan tersebut belum dapat diterapkan secara menyeluruh, guru kelas perlu mendapatkan pelatihan mengenai dasar-dasar layanan bimbingan dan konseling. Pelatihan ini akan membantu guru mengenali tanda-tanda awal permasalahan peserta didik, memberikan pendampingan sederhana, serta menentukan kapan peserta didik memerlukan penanganan lebih lanjut.
Sekolah juga perlu menyusun program layanan bimbingan yang terencana, misalnya melalui kegiatan pengembangan karakter, pendidikan antiperundungan, konseling kelompok, pembiasaan komunikasi yang positif, serta kerja sama yang lebih intensif dengan orang tua. Dengan demikian, permasalahan peserta didik tidak hanya diselesaikan ketika sudah muncul, tetapi juga dapat dicegah sejak dini.
Menurut saya, pendidikan yang berkualitas tidak hanya diukur dari keberhasilan peserta didik memperoleh nilai akademik yang tinggi, tetapi juga dari kemampuan sekolah membentuk karakter, kesehatan mental, dan keterampilan sosial peserta didik. Oleh karena itu, menghadirkan layanan Guru Bimbingan dan Konseling di UPT SD Negeri 067776 Medan Johor maupun sekolah dasar lainnya merupakan langkah yang penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Karena pendidikan yang berkualitas tidak hanya diukur dari keberhasilan peserta didik memperoleh nilai akademik yang tinggi, tetapi juga dari kemampuan sekolah membentuk karakter, kesehatan mental, dan keterampilan sosial peserta didik. Oleh karena itu, menghadirkan layanan Guru Bimbingan dan Konseling di UPT SD Negeri 067776 Medan Johor maupun sekolah dasar lainnya merupakan langkah penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
