Dilema Ekonomi dan Kesehatan pada Masa Pandemi Covid 19

Halo saya Christabel Owena Yanuar, saya adalah mahasiswa S1 Studi Ekonomi Pembangunan di Universitas Negeri Malang
Konten dari Pengguna
13 Mei 2022 21:41
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Christabel Owena Yanuar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dilema Ekonomi dan Kesehatan pada Masa Pandemi Covid 19 (10369)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: pexels.com
Pandemi Covid-19 sebagaimana kita tahu merupakan masalah yang dihadapi oleh seluruh negara di dunia. Para pemerintah harus memutar otak untuk memecahkan masalah yang sama di seluruh dunia yaitu menyelamatkan sektor kesehatan sekaligus sektor ekonomi yang harus tetap berjalan. Tentu ini merupakan masalah yang sulit untuk diselesaikan tapi bukan berarti tidak mungkin untuk diselesaikan.
ADVERTISEMENT
Pada awal pandemi pemerintah seperti memprioritaskan sektor ekonomi dibanding kesehatan. Hal ini dapat dilihat dari longgarnya aturan pembatasan sosial berskala besar. Dengan rendahnya aturan karantina untuk turis asing maupun domestik untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, terutama turis yang berasal dari negara pertama kasus Covid ditemukan yaitu China.
Penderitaan tak hanya sampai situ, terutama untuk masyarakat kurang mampu. Panic buying yang ada pada awal pandemi membuat masyarakat kecil tercekik. Penimbunan masker, obat obatan serta peralatan medis lain membuat masyarakat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan kesehatannya sehingga tertular virus ini tidak dapat dihindari.
Daya beli masyarakat pada masa pandemi otomatis turun karena tidak adanya pemasukan. Pemerintah menerapkan aturan social distancing berskala besar yang mengharuskan setiap masyarakat untuk bekerja, sekolah, kuliah, ibadah dari rumah. Hal ini mungkin mudah untuk dilakukan orang orang yang mampu memenuhinya. Seperti para pekerja kantoran yang tetap mendapatkan gaji bulanan, internet yang tersedia di rumah sehingga dapat dimanfaatkan untuk bekerja maupun kebutuhan anak seperti sekolah maupun kuliah. Berbeda dengan masyarakat yang menggantungkan kebutuhannya dari penghasilan yang dihasilkan setiap harinya seperti berjualan, ojek online dan lain sebagainya, tentu ini akan memberatkan mereka. Belum lagi sarana yang tidak tersedia di rumah seperti gadget (komputer, telepon genggam, dll), jaringan internet, dan masih banyak lagi.
ADVERTISEMENT
Keadaan seakan menyalahkan pemerintah karena tidak menggubris “kebutuhan perut” dari masyarakat. Banyaknya argumen masyarakat yang beranggapan tidak adanya keadilan dari pemerintah. Karena pada lain sisi pemerintah berada dalam dilema, antara menyelamatkan nyawa rakyat atau menyelamatkan ekonomi yang juga akan berdampak besar terhadap masyarakat.
Dapat kita lihat bahwa kedua masalah ini merupakan masalah yang cukup serius untuk diselesaikan. Di satu sisi pandemi ini merenggut banyak nyawa sekaligus membuat masyarakat menderita karena terhambatnya roda perekonomian. Teori ekonomi yaitu trade off, kami rasa tidak akan bisa digunakan jika harus mengorbankan pada satu sektor karena keduanya harus bisa berjalan bersamaan.
Situasi ekonomi di Indonesia berada pada masa sulit, menyelamatkan nyawa manusia saat ini jauh lebih penting ketimbang menjaga ekonomi tetap sesuai target pemerintah. Tidak bisa diperdebatkan manakah yang lebih penting ekonomi atau kesehatan. Namun kami berpendapat bahwa ekonomi masih bisa dipulihkan segera setelah pandemi wabah virus corona berakhir. Kebijakan saat ini perlu menitikberatkan pada sektor kesehatan terlebih dahulu, namun tidak mengabaikan kesejahteraan masyarakat yang terdampak. Sebagai contoh adanya bantuan logistik yang tepat sasaran ke masyarakat yang benar benar membutuhkan. Adanya sosialisasi tentang inovasi untuk dapat tetap bertahan hidup ditengah pandemi seperti pemanfaatan internet dan lain sebagainya. Pemerintah sebaiknya mengutamakan keselamatan warga, karena tidak akan ada artinya memiliki ekonomi yang kuat tanpa adanya sumber daya manusia. Pemerintah harus bisa menemukan strategi terbaik, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.
ADVERTISEMENT