Konten dari Pengguna

Belajar dari Santo Fransiskus Assisi dan Sultan Malik al-Kamil

Christian Andre Tuwo

Christian Andre Tuwo

Guru Sejarah SMAS Rex Mundi Manado

·waktu baca 5 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Christian Andre Tuwo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi St Fransiskus  Asisi. https://www.pexels.com/photo/stone-monument-with-saint-francis-of-assisi-statue-11313521/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi St Fransiskus Asisi. https://www.pexels.com/photo/stone-monument-with-saint-francis-of-assisi-statue-11313521/

Tahun 1219 suasana sangat mencekam di muara sungai Nil, penduduk kota Damieta tak bisa beraktivitas dengan nyaman dan aman, kota mereka telah terkepung sehingga kematian karena kelaparan sepertinya hanyalah awal dari penderitaan sebelum tentara salib pimpinan kardinal Pelagius menyerbu dan masuk membinasakan kota itu.

Di tengah suasana perang salib kelima ini (1217-1221), seorang biarawan yang berpakaian compang-camping tanpa beralas kaki nekat melintasi perbatasan Mesir, meski telah dilarang oleh Pelagius. Bersama temannya, biarawan ini tetap teguh untuk menyampaikan misi perdamaian kepada Sultan Malik al-Kamil. Fransiskus yang kemudian dikenal dengan nama Santo Fransiskus dari Assisi dan bruder Iluminatus berhasil melewati perbatasan yang sudah masuk dalam zona perang pada tahun 1219. Mereka ditangkap dan kemudian dihadapkan kepada sultan.

Keberanian Fransiskus menembus zona perang yang membahayakan nyawanya; apalagi sebagai seorang biarawan Kristen tentu menjadi target utama tentara lawan yang pada waktu itu memang dalam kondisi perang dengan pasukan salib- merupakan tindakan yang tidak dapat diterima secara akal sehat. Itulah sebabnya ia berulang kali dicegat oleh cardinal Pelagius agar mengurungkan niatnya menemui sultan.

Bahkan berbagai macam propaganda tentara salib tentang Sultan Malik al-Kamil seperti ‘binatang yang kejam’ dan memutilasi musuh yang tertawan sengaja dibuat untuk menggambarkan kekejaman tentara islam yang pantas untuk dimusnahkan. Bayangan tentang ‘kekejaman’ itu tak menyurutkan semangat Fransiskus untuk menjalankan misi diplomasi damainya.

Dialog Perdamaian

Apa yang menjadi kekhawatiran dari dunia Kristen tentang watak sultan Malik al-Kamil sungguh berbeda dengan yang dirasakan dan diterima oleh Fransiskus sewaktu dihadapkan dengan sang sultan. Di Mesir sultan Malik al-Kamil justru terkenal dengan toleransinya terhadap minoritas termasuk kepada pemeluk agama Kristen. Fransiskus memohon untuk berdialog dengan sultan tentang perdamaian. Sultan yang dicap negatif oleh dunia Kristen pada waktu itu ternyata lembut dan sangat bijaksana sehingga mau mendengarkan biarawan miskin dan hina dina itu.

Thomas Celano dalam bukunya The Life of St.Francis yang dikutip dari buku Santo dan Sultan karya Paul Moses (2009) menulis “Fransiskus berkhotbah kepada sang sultan, yang sangat tersentuh oleh kata-katanya dan mendengarkan dia dengan sepenuh hati.” Bukan hanya sultan yang kagum dengan Fransiskus, tapi biarawan Fransiskan itu juga sangat mengagumi spiritualitas Islam. Dialog yang terbuka dan penuh toleransi ini mempengaruhi cara pandang Fransiskus tentang islam. Ia bahkan mendesak bruder-bruder dalam ordonya untuk hidup damai dengan umat Islam.

Menurut Jack Wintz, seorang pendeta Ordo Fransiskan menuliskan di laman Ordo Fransiskan AS, www.franciscanmedia.org, seperti dikutip dari Republika, bahwa azan yang didengar Fransiskus selama di Mesir menginspirasinya menuliskan surat pada para pemimpin di Eropa untuk membunyikan tanda menjelang malam agar umat Kristiani bisa berdoa dan mensyukuri nikmat Tuhan. Lebih jauh lagi Wintz mengutip doa Fransiskus yang menurutnya terpengaruh sewaktu Fransiskus berkunjung ke Mesir, menurut Wintz doa ini mirip dengan Asmaul Husnah:

“Engkaulah Yang Maha Suci, Tuhan Yang Esa… Engkau Yang Maha Kuat, Yang Maha Agung, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Kuasa… Kebaikan Tertinggi… Engkau Maha Mencintai, Maha Mengetahui, Engkau Pemberi Kesederhanaan, Engkau Maha Hidup. Engkau Pemberi Kedamaian…”

Hasil dialog antara sultan dan Fransiskus ternyata tidak banyak berpengaruh pada redahnya tensi perang antara tentara salib dan Islam. Sekembalinya dari Mesir pada tahun 1220, Fransiskus mengingatkan pimpinan tentara salib untuk menghentikan pengepungan dan mengurungkan niat untuk melanjutkan perang seperti yang dituliskan oleh Thomas dalam bukunya The Remembrance of Desire of a Soul (1247). Selain karena telah berdialog dengan sultan, Fransiskus pernah menjadi prajurit bagi kotanya Assisi sewaktu melawan Perugia; ia pernah merasakan menjadi tawanan perang dan diperlakukan tidak manusiawi di penjara bawah tanah selama setahun. Trauma itu membuat perubahan besar dalam diri pemuda yang dibesarkan dalam keluarga saudagar kain yang kaya sehingga ia memutuskan untuk meninggalkan segala atribut keduniawian dan menjadi seorang biarawan miskin yang sehari-hari berurusan dengan penderitaan dan lingkungan hidup. Baginya hidup sederhana adalah kunci untuk mematikan keserakahan yang menjadi sumber segala peperangan dan kekerasan yang terjadi pada masanya.

Perang akhirnya tetap berlanjut, tentara salib kalah dan harus membuat perjanjian gencatan senjata selama delapan tahun dengan Sultan Malik al-Kamil.

Perang dan kebencian tak berhenti sampai disitu, sejarah dunia mencatat bahwa perang-perang besar dan kecil terus menghantui peradaban manusia sampai sekarang. Keserakahan menjadi motivasi yang menghancurkan bahkan semakin subur karena dibumbui dengan fanatisme agama yang kadang buta dari kebenaran ajaran agama yang sebenarnya. Sewaktu berdialog dengan Fransiskus, sultan Malik bertanya, “apakah kedatanganmu mewakili Sri Paus?”

“tidak, saya mewakili Yesus Kristus.” Jawab Fransiskus. Apa yang bisa dipelajari dari dialog itu? Kita harus membedakan antara apa itu “keyakinan” atau “iman” akan Tuhan sebagai pribadi dengan apa itu “agama” atau “institusi”. Sejarah gelap kekristenan di abad pertengahan jelas tidak mewakili siapa ‘Tuhan” yang mereka sembah. Kita tidak bisa menggeneralisasikan bahwa “Tuhan” sama dengan “agama” (pemeluknya). Kita tidak bisa menyamakan Kristen dengan Kolonialisme, Islam dengan Terorisme, Yahudi dengan Zionisme, atau Atheis dengan Komunisme.

Sebuah tindakan yang positif dari setiap pemeluk agama adalah representasi dari Tuhan yang ia sembah. Namun sebaliknya setiap hal negatif yang dilakukan oleh seorang yang mengaku ‘beragama’ jelas tidak mewakili Tuhan yang ia sembah karena tidak ada kejahatan dalam Tuhan dan tidak ada keburukan dalam agama yang mewakili Tuhan.

Pada akhirnya Fransiskus harus pulang sebagai seorang biarawan Kristen dan sultan Malik al-Kamil tetap sebagai sultan Muslim, mereka telah memberi teladan pada kita untuk selalu mengutamakan dialog dalam setiap pertikaian yang terjadi. Dendam, kebencian, dan permusuhan mungkin memang pernah mewarnai sejarah dunia tapi perdamaian sejati bukanlah sesuatu yang tidak mungkin selama manusia memiliki hati dan pikiran terbuka untuk selalu berdialog.