Konten dari Pengguna

Klub Buku: Sebuah Ruang untuk Merayakan Literasi

Christian Andre Tuwo

Christian Andre Tuwo

Guru Sejarah SMAS Rex Mundi Manado

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Christian Andre Tuwo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan Klub Buku Rex Mundi bersama asesor dari perpustakaan nasional (foto dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan Klub Buku Rex Mundi bersama asesor dari perpustakaan nasional (foto dokumen pribadi)

Ketika membaca judul tulisan ini orang mungkin akan bertanya, “apanya yang dirayakan?”. Biasanya sebuah perayaan itu identik dengan makanan, minuman, bernyanyi, berdansa dan sebagainya. Sedangkan untuk kegiatan literasi sendiri seperti membaca buku mungkin agak berlebihan jika dikatakan sebagai sebuah perayaan.

Memang bagi kebanyakan orang bekerja di dunia literasi ibarat seperti bekerja dalam kesunyian. Namun bagi anak-anak saya yang tergabung dalam klub buku SMA Katolik Rex Mundi Manado justru membaca buku adalah hal yang menyenangkan dan pantas untuk dirayakan.

Setiap dua hari dalam sepekan mereka akan berkumpul di perpustakaan sekolah untuk berbagi pengalaman membaca bersama anggota klub yang lain. Sebagai guru pembina saya merasa bangga dengan mereka yang setia membawa buku-buku kesukaan mereka untuk diperkenalkan pada pertemuan itu.

Suasana diskusi anak klub buku SMA Rex Mundi (foto dokumen pribadi)

Saya tidak menyangka kalau anak-anak ini memiliki minat terhadap beragam jenis bacaan mulai dari yang ringan sampai yang dikategorikan bacaan “berat” yang mungkin tidak banyak dikonsumsi oleh anak SMA. Sebut saja novel-novel karya Tere Leye, Leila Chudori, Trilogi pulau buru karya Pramoedya Ananta Toer, Animal Farm karya George Orwell sampai Madilognya Tan Malaka pernah menjadi bahan diskusi mereka.

Dalam pertemuan itu kadang durasinya bisa dua sampai tiga jam berlalu tanpa kebosanan. Anak -anak begitu antusias ketika menceritakan bacaan mereka. Mengingat antusias mereka yang luar biasa maka saya sering mengikutsertakan mereka dalam kegiatan kegiatan literasi di Kota Manado agar mereka juga dapat berjumpa dengan komunitas yang lainnya terutama dengan penulis-penulis buku lokal.

Tantangan yang harus dihadapi oleh kebanyakan pencinta buku adalah mahalnya harga buku di Indonesia apalagi di Manado. Kalau pun mendapat yang murah di toko online malah berat di ongkos pengirimannya. Anak-anak harus menyisikan uang jajan mereka untuk mendapatkan buku yang mereka sukai. Saya selalu bertanya, “apakah kalian tidak merasa rugi saat membeli buku?”. Mereka selalu menjawab kalau hal itu telah menjadi bagian dari hobi mereka.

Saya salut dengan tekad mereka mengingat menurut data BPS 2025 tingkat kegemaran membaca di Indonesia turun menjadi 54,80 % dari sebelumnya 72,44 % di tahun 2024. Hal ini disebabkan oleh masifnya penggunaan akses internet di kalangan anak-anak. Bahkan menurut data BPS mengenai survei nasional maret 2025 tercatat 42,45 % anak usia dini telah menggunakan telepon seluler. Akibat dari penggunaan ini menurut data We Are Social 2025, rata-rata anak Indonesia menghabiskan 8 jam per hari untuk berselancar di internet. Lalu bagaimana dengan membaca buku? Menurut data yang sama anak-anak kita hanya bisa bertahan sampai 30 menit untuk membaca buku.

Jadi jika melihat antusiasme anak-anak saya yang tergabung dalam klub buku maka saya patut berbangga bahwa mereka tidak termasuk dalam hasil penelitian tersebut. Mereka memang pengguna internet aktif namun yang membuat mereka berbeda dengan anak-anak sebaya mereka adalah budaya membaca yang sudah ditanamkan sejak dini dalam keluarga. Peran keluarga sangat penting untuk membuat anak menyukai buku. Apabila lingkungan mendukung maka kegemaran membaca akan muncul dari dalam diri anak itu sendiri.

Klub buku SMA Rex Mundi Manado mendorong setiap anggotanya untuk mencintai buku. Saya selalu mengibaratkan membaca itu sebagai sebuah perayaan---sebuah pesta! Oleh karena itu penting untuk menyenangi kegiatan membaca. Jika kita sudah menyenangi buku maka apa pun jenis bukunya pasti kita akan menikmatinya.

Desi Anwar pernah menulis bahwa membaca adalah kegiatan soliter tetapi sekaligus jauh dari kesepian (Desi Anwar:2020). Oleh karena itu ruang perpustakaan hendaknya tidak menjadi ruang mati dan berdebu. Ruang perpustakaan harus menjadi hidup dan ramai dengan adanya komunitas seperti klub buku. Dengan begitu perpustakaan tidak identik lagi dengan kesepian yang hampa tapi justru ruang hening yang bermakna.

Dibutuhkan sinergitas antara pustakawan, guru dan murid agar perpustakaan menjadi ruang ceria untuk memberikan makna bagi pengunjungnya. Hal ini selaras dengan ungkapan dari penulis terkenal Seno Gumira Adjidarma bahwa membaca buku dapat memberikan makna dan meningkatkan nilai hidup.

Sejak dibentuknya klub buku di SMA Rex Mundi Manado terlihat perpustakaan jauh lebih hidup dan ceria. Anggota klub memberikan pengaruh positif terhadap murid murid lain untuk berkunjung ke perpustakaan. Setidaknya mereka mulai tertarik untuk meminjam dan membaca buku.

J.K Rowling pernah menulis, “I do believe something very magical can happen when you read a good book”. Sepertinya halnya J.K Rowling, Saya percaya ke depannya masih akan banyak lagi hal ajaib yang akan terjadi apabila semakin banyak anak terlibat dalam klub buku.

kegiatan bedah buku yang diikuti oleh klub buku SMA Rex Mundi (foto dokumen pribadi)