Menjadi Manusia Seutuhnya di Era Digital

Guru Sejarah SMAS Rex Mundi Manado
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Christian Andre Tuwo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebuah refleksi atas pesan Paus Leo XIV untuk hari komunikasi sosial sedunia ke-60

Kemajuan teknologi komunikasi membuat ruang pertemuan antar manusia semakin sempit. Idealnya dengan perkembangan itu seharusnya manusia semakin dekat satu sama lain dalam hal interaksi sosial. Namun justru yang terjadi adalah hal yang sebaliknya. Kita sering mendengar ungkapan bahwa teknologi itu mendekatkan yang jauh namun di saat yang sama justru menjauhkan yang dekat. Tidak heran jika kita sekarang menemukan ruang makan yang kosong bukan oleh kehadiran fisik tapi hampa dalam hati. Meja makan yang harusnya menjadi tempat untuk bertegur sapa malah diisi oleh pemandangan orang yang sedang makan namun mata dan jarinya tertuju pada layar handphone.
Relasi antar manusia menjadi sebatas kiriman pesan teks, suara, foto dan video pada aplikasi komunikasi seperti Whatsapp, facebook, dan Instagram. Cara berkomunikasi beralih pada ruang-ruang digital yang sering meninggalkan kehampaan. Manusia menjadi sangat tergantung dengan teknologi dan kecerdasan artifisial sehingga mereka kehilangan citra diri mereka sebagai manusia yang diciptakan segambar dengan rupa Allah.
Paus Leo XIV dalam pesannya untuk hari komunikasi sosial sedunia ke-60 mengingatkan kita bahwa sejak awal Allah menginginkan manusia dapat berkomunikasi langsung denganNya sebagai tanda bahwa Allah ingin menjaga relasiNya yang penuh kasih dengan manusia ciptaanNya. Allah berkomunikasi dengan penuh kasih kepada manusia bahkan setelah mereka jatuh dalam dosa Allah tetap membuka ruang dialog dan tidak mempermalukan mereka.
Berdasarkan pesan ini manusia hendaknya dapat melakukan hal yang sama yakni mencerminkan citra Allah dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Paus mengingatkan agar manusia menjaga Rahmat ciptaanNya melalui wajah dan suara manusia agar tidak tergantikan oleh teknologi digital dan kecerdasan artifisial yang kadang menipu dan memperdaya manusia.
Saya teringat dengan cerita awal mula manusia jatuh dalam dosa. Pada saat menggoda Hawa, Iblis tidak berkomunikasi langsung dengannya namun ia menggunakan media berupa ular. Demikian pula sekarang ibarat “ular” berbisa “teknologi” juga dapat memperdaya manusia apabila relasi manusia sepenuhnya tergantikan oleh kecerdasan buatan yang sama sekali tidak mewakili perasaan dan hubungan personal antar manusia.
Menurut Paus, manusia sering terjebak dalam ketidakbijaksanaan saat tergoda untuk mengambil “buah pengetahuan” tanpa memedulikan relasinya dengan Allah dan sesama. Dewasa ini, buah pengetahuan yang dimaksud oleh Paus adalah teknologi kecerdasan artifisial yang dapat diakses dengan mudah oleh manusia melalui layar gawai mereka. Pengetahuan yang seharusnya dimanfaatkan secara bijak demi kesejahteraan bersama malah membuat manusia justru terjebak dalam “dunia cermin” yang hanya melihat dirinya sendiri dan hidup seolah olah bagi dirinya sendiri. Manusia menjadi eksklusif dan mudah tereksploitasi pada pesan-pesan palsu hasil rekayasa buatan manusia yang merendahkan kemanusiaan dan persahabatan.
Manusia terjerumus kembali dalam dosa kemanusiaan berupa perang, eksploitasi sumber daya alam, korupsi dan bencana ekonomi hasil buatan manusia itu sendiri. Kecerdasan buatan mengambil alih peran kemanusiaan manusia digantikan oleh robot, chatbot, dan influencer virtual. Manusia menjadi budak dosa teknologi yang berdampak pada rusaknya tatanan dunia baik secara sosial,budaya, ekonomi dan politik.
Sebagai seorang pendidik saya sangat terbantu dengan adanya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial. Namun saya juga menyadari bahwa sering saya terlena dan cenderung tidak bijak saat menggunakannya. Melalui pesan Paus saya tergerak untuk menjadi lebih bijak dalam memanfaatkan kecerdasan artifisial dan mengajak murid-murid saya untuk memanfaatkan sepenuhnya daya pikir mereka dalam kegiatan pembelajaran.
Di dalam ruang kelas saya mencoba mengajak mereka untuk tidak menggunakan handphone saat belajar dengan beralih membaca buku dan mulai menulis dengan tangan bukan mengetik pada layar. Saya percaya kemampuan membaca dan menulis akan membantu mereka meningkatkan kecerdasan kognitif dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Dengan melakukan hal itu saya percaya bahwa mereka akan mampu membedakan mana informasi yang benar dan palsu (fake) saat menggunakan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Tentunya, pesan Paus tentang bahaya teknologi digital dan kecerdasan artifisial tidak memaksudkan bahwa umat katolik anti dengan perkembangan teknologi. Bagi Paus teknologi harus diterima sebagai sekutu bukan sebagai ancaman. Oleh karena itu Paus menginginkan kita untuk bertanggung jawab memastikan agar penggunaan teknologi tidak menghilangkan rasa kemanusiaan yang telah menjadi kodrat manusia yang tidak mungkin digantikan oleh peran robot dan aplikasi digital. Diperlukan kerja sama dengan berbagai pihak terutama para pegiat teknologi dan perusahaan media komunikasi untuk memastikan prinsip keadilan dan kemanusiaan tetap menjadi tujuan utama saat mereka menciptakan teknologi terbaru.
Paus mengajak para pendidik untuk mengajarkan penguasaan teknologi secara benar kepada anak-anak---memberikan mereka pemahaman bahwa teknologi adalah alat (tools) pembelajaran bukan sebagai pengganti manusia. Menurut Paus penting bagi guru untuk memberikan literasi media yang membantu murid untuk memilah dan melakukan verifikasi data terhadap setiap informasi yang mereka terima setiap hari melalui media sosial. Jika kita berhasil menempatkan teknologi pada posisi yang benar maka hal ini selaras dengan ajakan Paus untuk membentuk pribadi yang tidak pernah berhenti untuk berpikir sendiri.
Murid-murid diajak untuk memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan dengan sadar dan bertanggung jawab. Misalnya memastikan agar mereka tidak menggunakan chat-gpt saat mencari jawaban dari soal atau tugas yang diberikan. Mereka diminta untuk mencoba mencari ide kreatif untuk memecahkan masalah agar mereka dapat menjadi manusia seutuhnya dalam belajar bukan menjadi robot yang terprogram oleh algoritma kecerdasan buatan.
Dengan demikian para murid diajak untuk mengembangkan pengetahuan kognitif dan emosional mereka agar berdampak pada kemampuan mereka untuk mengkomunikasikan ide dan gagasan mereka secara baik dan tentunya manusiawi. Pada akhirnya manusia akan kembali pada kodratnya yakni menjadi seutuhnya manusia ciptaan yang segambar dengan rupa Allah---Manusia yang memiliki relasi personal terhadap sesama dan Allah sebagai penciptanya.
