Na Willa: Pola pendidikan anak dan relevansinya sekarang

Guru Sejarah SMAS Rex Mundi Manado
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Christian Andre Tuwo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari sebuah cerita sederhana menjadi kisah nostalgia yang hidup di layar lebar tentang kehidupan masa anak-anak di tahun 1960an yang menghidupkan kembali memori tentang bagaimana anak-anak dibesarkan di masa lalu. Buku Na Willa karya Reda Gaudiamo bisa dikatakan sebagai salah satu buku anak yang berjuang mempertahankan idealisme di tengah disrupsi kecerdasan buatan dan digitalisasi di kalangan anak-anak.
Buku ini muncul dari kegelisahan sang penulis tentang dunia anak dan pola asuh yang mulai meninggalkan nilai-nilai tradisional yang luhur seperti pengajaran budi pekerti menjadi kebebasan yang kebablasan. Dunia Na Willa yang berlatar kisah tahun 1960an ternyata juga tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh anak-anak sekarang yang kita kenal dengan sebutan generasi-Z dan generasi-Alpha (native digital). Perbedaan mereka hanya terletak pada kecanggihan teknologi pada zamannya---Na Willa dengan radio “eresnya” sedangkan Gen-Z dan Gen-Alpha dengan gadget dan kecerdasan artifisialnya.
Selebihnya terdapat banyak persamaan antara kedua generasi yang terpaut jauh ini. Persamaan itu merupakan benang merah yang mengikat keduanya dalam satu bentangan waktu sejarah yang akan selalu menghadirkan ruang, waktu dan tentunya aktor utamanya yakni manusia.
Relevansi dengan pendidikan sekarang
Dalam buku Na Willa yang kemudian difilmkan oleh sutradara Ryan Adriandhy dikisahkan tentang dunia anak-anak yang polos penuh canda dan juga tak luput dari kisah sedih dan tragis seperti kisah tentang tragedi kecelakaan yang menimpa Dul sehingga menyebabkan ia harus kehilangan kakinya.
Pola-pola seperti inilah yang kita sebut persamaan yang menghubungkan bentangan waktu tersebut. Salah satu pola yang dapat kita pelajari dalam kisah Na Willa adalah pola pendidikan anak yang masih relevan dengan perkembangan anak-anak zaman sekarang.
Na Willa lahir dari perkawinan campur antara Pak (Tionghoa) dan Mak (Indonesia Timur) sering mendapat stigma dari teman-temannya dengan memanggilnya “asu cino”. Na Willa tentunya tidak suka dengan panggilan itu. Namun ibunya selalu memberikan afirmasi positif kepadanya bahwa dia memang keturunan China dari bapaknya. Jadi tidak ada yang salah dengan perkataan teman-temannya.
Kasus lain, Farida yang tidak bisa menyebut huruf “R” sering juga diledek dengan panggilan “Falida”. Di dalam buku dan Film dikisahkan kalau Falida juga tidak senang dan merasa jengkel dengan ejekan seperti itu.
Pola pendidikan yang dapat kita tarik di sini adalah kesadaran diri tentang perbedaan ras itu penting untuk diajarkan ke anak-anak bahwa mereka memiliki identitas yang memang berbeda satu dengan yang lainnya.
Na Willa dan Farida merasa tidak nyaman dengan perlakuan ini namun mereka tetap saja mau berteman dan bermain bersama. Inilah yang sering disebut “menjadi anak-anak”---bahwa selalu ada kepolosan dalam diri anak-anak kecil yang dapat dipelajari oleh orang dewasa.
Pola pendidikan berikut adalah soal cara “menghukum” anak Ketika mereka melanggar aturan. Mak (ibu) Na Willa sering menggunakan hukuman berupa cubitan. Hal ini umum dalam pola asuh pada masa itu bahkan tidak jarang juga orang tua zaman sekarang masih menggunakan cara “kekerasan” seperti ini saat mendisiplin anak. Hal ini yang perlu kita hindari sebagai orang tua saat menerapkan hukuman sebaiknya menggantinya dengan istilah konsekuensi yang tidak mematikan kreativitas anak misalnya mengajak anak untuk berdialog dan mendengarkan alasan dibalik ia melakukan pelanggaran.
Menanamkan budi pekerti
Hal menarik yang juga dapat kita lihat dari pola pendidikan orang tua dalam kisah Na Willa adalah mengenai penanaman budi pekerti seperti nilai kejujuran dan tanggung jawab dalam diri anak. Pola parenting yang mengutamakan contoh praktis membuat anak dapat segera menangkap pesan moral dari setiap tindakan yang dibuatnya. Misalnya untuk melatih tentang kejujuran Na Willa diajarkan untuk selalu mengingat tentang perumpamaan kerikil dalam Sepatu yang harus segera dilepaskan agar tidak menghalangi langkahnya untuk melanjutkan perjalanan. Begitu juga dengan tanggung jawab Na Willa langsung diajarkan bagaimana merawat ayam kuning kecilnya dengan rajin memberinya makan dan minum.
Saya juga terkesan dengan kebiasaan Pak dan Mak dalam meberikan na Willa buku bacaan sebagai hadiah. Tidak heran dikisahkan bahwa Na Willa lebih dulu tahu membaca dibandingkan teman-temannya yang sudah lebih dulu bersekolah. Pelajaran yang berharga untuk orang tua zaman sekarang bahwa pentingnya untuk mengenalkan budaya literasi sejak dini bahkan sejak anak kita belum bisa membaca. Orang tua dapat memulainya dengan membacakan buku cerita kepada anak-anak. Buku cerita yang mengisahkan internalisasi nilai karakter yang membantu anak mengembangkan budi pekerti meskipun mereka belum bisa membaca.
Pentingnya bersosialisasi
Namun ada beberapa yang perlu menjadi bahan koreksi bersama mengenai pola pendidikan yang diterapkan oleh Mak kepada Na Willa. Misalnya mengajarkan anak di rumah secara privat memang perlu namun orang tua juga perlu memperhatikan kebutuhan sosialisasi anak di luar rumah termasuk sekolah. Pengabaian akan hal ini terlihat dalam kasus saat Na Willa pertama kali masuk sekolah. Na Willa mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan orang baru bahkan dengan orang yang tidak sepaham dengannya. Keputusan untuk pindah sekolah karena tidak cocok dengan gurunya ibu Tini menunjukkan bahwa ada yang salah dengan pola didikan orang tua Na Willa.
Dari sudut pandang sekolah dan guru memang terlihat cara pendekatan ibu guru Tini dengan ibu guru Juwita (guru barunya Na Willa) sangat berbeda. Kita belajar bahwa sebagai guru ibu Tini tidak melakukan observasi atau pun memperkenalkan suasana belajar kepada Na Willa sedangkan ibu Juwita terlihat sebagai guru yang ideal yang merangkul Na Willa bahkan mau mengajak Na Willa melihat lingkungan sekolah dan memperkenalkan apa yang akan dipelajarinya selama bersekolah di TK Juwita. Hal inilah yang membuat Na Willa akhirnya tertarik untuk bersekolah sejak pandangan pertama dan penerimaan yang ramah dan penuh senyuman yang diperlihatkan oleh ibu Juwita.
Dari kisah Na Willa ini kita bisa melihat pola pendidikan yang kurang lebih sama masih terlihat pada masa kini. Pola mendidik yang keras “ala VOC” dan penuh prasangka masih ditemukan dalam dunia pendidikan kita sekarang. Namun di tengah masa kesuraman itu kita tidak kehilangan harapan bahwa masih banyak sekolah dan guru yang menunaikan karya pelayanan ini dengan cara memanusiakan hubungan antar manusia seperti tokoh ibu Juwita. Guru seperti ini berusaha untuk menghadirkan layanan pendidikan yang manusiawi dengan murid dan orang tua.
Guru perlu mengenali setiap kebutuhan muridnya dengan membiasakan diri untuk berkomunikasi dua arah dengan murid dan tentunya membangun sinergitas dengan menjadikan orang tua murid sebagai teman belajar dalam mendidik dan membina muridnya.
