Konten dari Pengguna

Pentingnya Gaya Komunikasi Humanis Seorang Publik Figur

Christian Ariyanto

Christian Ariyanto

Writer - Sociocultural & Health Interest

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Christian Ariyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi komunikasi terjaga dengan rekan kerja. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi komunikasi terjaga dengan rekan kerja. Foto: Shutterstock

Komunikasi merupakan hal yang tentunya dapat semua orang lakukan, baik melalui verbal (lisan) atau non verbal (tertulis). Walaupun semua orang dapat melakukannya, terkadang respons seseorang dalam menanggapi sesuatu dapat berbeda.

Hal ini memang perlu menjadi concern atau perhatian bagi seorang publik figur, baik itu seorang pejabat publik atau pun pesohor tanah air. Mengapa demikian? Ini dilakukan agar terciptanya situasi yang kondusif ataupun situasi yang tidak membuat keresahan dalam masyarakat yang mendengar ataupun melihat. Seorang publik figur tentunya akan menjadi spotlight dalam segala hal, inilah yang menyebabkan mengapa sangatlah penting gaya komunikasi humanis.

Beberapa waktu belakangan kita mengetahui ada beberapa pejabat publik yang memberikan statement dengan gaya komunikasi yang “selengekan” di hadapan awak media.

Gaya respons yang terkesan meremehkan, asal bercanda, atau bahkan terkesan defensif ini acap kali memicu polemik baru di tengah publik. Padahal, pesan yang disampaikan mungkin memiliki niat baik atau bermaksud mencairkan suasana.

Namun, karena dibungkus dengan nada yang dinilai kurang empati dan tidak sensitif, dampak yang dihasilkan justru berbalik menjadi bumerang bagi pejabat tersebut.

Mengapa Harus Gaya Komunikasi Humanis?

Gaya komunikasi humanis adalah pendekatan penyampaian pesan yang menempatkan manusia dengan segala emosi, kebutuhan, dan martabatnya sebagai pusat perhatian. Ketika seorang publik figur memilih gaya ini, mereka tidak sekadar menyampaikan fakta atau argumen, tetapi juga menunjukkan pemahaman mendalam terhadap kondisi audiensnya.

Dalam konteks pejabat publik dan pesohor, ada beberapa alasan fundamental mengapa komunikasi humanis bukanlah sebuah pilihan belaka, melainkan sebuah keharusan:

  • Pengaruh Spotlight dan Resonansi Publik: Setiap patah kata yang diucapkan publik figur memiliki efek pengganda (multiplier effect). Nada bicara yang santun dan penuh rasa hormat akan menenangkan masyarakat, sementara respons yang asal-asalan atau meremehkan dapat menciptakan kekecewaan, kepanikan, hingga hilangnya rasa percaya (distrust).

  • Membangun Kepercayaan (Trust Building): Masyarakat saat ini semakin kritis. Gaya komunikasi yang terkesan bernada acuh tak acuh (selengekan) sering kali dipersepsikan sebagai bentuk ketidakpedulian atau ketidaksiapan dalam menangani isu penting. Sebaliknya, komunikasi yang humanis memperlihatkan kepedulian yang tulus, yang secara alami membangun kembali kepercayaan publik.

  • Menciptakan Ruang Dialog yang Kondusif: Ketika komunikasi disampaikan secara manusiawi dan tanpa kesan menggurui, ruang untuk diskusi yang sehat akan terbuka. Hal ini dapat meredam polarisasi dan menghindarkan perselisihan yang tidak perlu di media sosial maupun di dunia nyata.

Dampak Buruk Komunikasi "Selengekan"

Tentu tidak ada salahnya menyelipkan humor atau sikap santai untuk mencairkan ketegangan. Namun, ada batas tipis antara bersikap fleksibel dengan bersikap tidak profesional. Ketika seorang pejabat publik atau publik figur menggunakan gaya komunikasi "selengekan" saat menghadapi isu-isu krusial seperti masalah ekonomi, bencana, atau kebijakan publik implikasinya bisa sangat serius.

  1. Mereduksi Isu Penting: Isu yang seharusnya ditangani secara serius mendadak terlihat sepele hanya karena gestur atau narasi yang asal jawab.

  2. Melahirkan Keresahan Sosial: Pernyataan yang kurang empati sering kali melukai perasaan pihak-pihak yang terdampak langsung oleh suatu masalah.

  3. Mencoreng Reputasi Institusi: Seorang pejabat tidak hanya membawa namanya sendiri, tetapi juga merepresentasikan lembaga yang diusungnya. Ketidakbijaksanaan individu dapat merusak citra organisasi secara keseluruhan.

Tantangan Komunikasi Publik di Era Digital dan Media Sosial

Di era disrupsi informasi seperti saat ini, kecepatan penyebaran berita melalui media sosial memperbesar potensi salah paham atas setiap ucapan pejabat publik. Sebuah potongan video berdurasi beberapa detik saja sudah cukup untuk membentuk opini publik secara masif.

Ketika seorang figur publik menggunakan narasi selengekan atau sarkastik, potongan klip tersebut sangat mudah dipelintir dan menyebar tanpa konteks yang utuh. Akibatnya, alih-alih menyelesaikan masalah, gestur yang terkesan tidak serius tersebut justru memicu kepanikan massal dan gelombang kritik tajam di ruang siber.

Selain itu, masyarakat modern memiliki tingkat literasi media dan ekspektasi etis yang jauh lebih tinggi dibandingkan era sebelumnya. Audiens masa kini tidak hanya menilai substansi kebijakan dari angka dan data formal, tetapi juga menilai ketulusan serta kematangan emosional para pemimpinnya.

Ketika pejabat bersikap defensif atau menyepelekan pertanyaan awak media, publik menganggap hal tersebut sebagai bentuk kesombongan kekuasaan (arogansi birokrasi) yang merusak nilai-nilai demokrasi dan keterbukaan informasi.

Mewujudkan Gaya Komunikasi Humanis dalam Keseharian

Menjadi publik figur dengan gaya komunikasi yang humanis tidak berarti harus selalu terkesan kaku, formal, atau berjarak. Justru sebaliknya, kehangatan dan kesederhanaan adalah kunci utamanya. Berikut adalah beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan:

  • Mengedepankan Empati Sebelum Berbicara: Sebelum menanggapi pertanyaan media atau publik, tanyakan pada diri sendiri: "Bagaimana perasaan masyarakat jika mendengar jawaban ini?"

  • Mendengar Lebih Banyak (Active Listening): Komunikasi bukan hanya tentang pandai berbicara, melainkan juga tentang ketajaman dalam memahami keluhan dan aspirasi publik.

  • Penguasaan Diri dan Bahasa Tubuh: Bahasa tubuh, intonasi suara, dan ekspresi wajah menyumbang porsi besar dalam persepsi audiens. Menjaga ketenangan dan kehangatan dalam berekspresi akan memancarkan kepemimpinan yang matang.

  • Mengaku Bila Ada Kekurangan: Kejujuran untuk mengakui batasan atau kesalahan jauh lebih dihormati daripada memberikan jawaban memutar yang terkesan meremehkan kecerdasan masyarakat.

  • Penggunaan Bahasa yang Inklusif dan Santun: Menghindari jargon-jargon rumit yang membingungkan atau kata-kata yang berpotensi memojokkan kelompok tertentu, serta memilih diksi yang merangkul seluruh lapisan elemen masyarakat.

Pada akhirnya, jabatan, popularitas, dan posisi di ruang publik adalah sebuah amanah. Setiap kata yang keluar dari seorang publik figur merupakan cerminan dari kualitas kepemimpinan dan karakter yang dimilikinya.

Di Tengah dinamika informasi yang begitu cepat, gaya komunikasi humanis adalah jembatan terbaik untuk merawat keharmonisan, menjaga kondusivitas, dan mempererat hubungan antara publik figur dengan masyarakat luas.