Sastra dan Jejak Perlawanan di Tanah Batak

Penulis, editor, dan legal specialist. Saat ini bekerja sebagai staf departemen hukum perusahaan sembari bergiat di Beta Martapian Project, sebuah penerbit berbasis komunitas.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Christiaan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya kepikiran judul tulisan ini ketika selesai membaca Jamangilak Tak Pernah Menangis. Sebuah novel karya Martin Aleida, seorang novelis yang—selain sebagai korban langsung—telaten menuliskan seluk beluk kekerasan hingga pembantaian yang terjadi sebagai akibat dari kampanye anti-komunisme pasca peristiwa ’65.
Lalu saya kepikiran untuk menggarap tulisan ini ketika selesai membaca Bulan Lebam di Tepian Toba. Sebuah novel karya Sihar Ramses Simatupang, seorang batak yang matang berkesenian di Pulau Jawa, jauh dari kampung halamannya.
Dua novel di atas punya kesamaan, yakni latar perkampungan di sekitar Danau Toba, serta rakyatnya yang melawan sebuah korporasi yang merusak danau. Dan saya—ini mungkin tidak begitu penting untuk diketahui orang tapi saya sangat antusias menceritakannya—membaca dua novel ini secara acak.
Acak dalam hal ini bukan berarti saya menemukan buku itu dari tumpukan sampah orang yang sedang pindahan rumah, atau dibelikan oleh teman sebagai hadiah, atau memungut buku itu dari rak buku sebuah kafe karena bosan tak punya kawan bicara. Saya katakan acak, karena saya membaca novel-novel ini begitu saja. Selain nama kedua pengarangnya, saya tak punya bocoran apa-apa. Testimoni, sinopsis maupun blurb tidak saya baca.
Saya membacanya alih-alih memutuskan untuk membacanya. Artinya, tidak ada pertimbangan khusus untuk membacanya. Pertimbangan umum barangkali ada, yaitu bahwa saya telah mengenal lebih dulu nama-nama pengarangnya. Novel yang saya sebut pertama saya beli dalam keadaan bekas dari Kak Yuni Penjual Buku (silakan kunjungi akun instagramnya di @ynz.penjualbuku). Dan yang kedua saya baca dalam format digital di aplikasi iPusnas.
Ya, korporasi yang saya maksud—dan dimaksud oleh kedua novel yang saya sebut di atas, baru-baru ini dituding sebagai biang bencana banjir bandang dan longsor di sekitar Danau Toba. Konversi hutan menjadi lahan perkebunan kayu monokultur—untuk bahan baku kertas, oleh korporasi ini membuat ekosistem di sekitar Danau Toba tak lagi seimbang. Nyawa manusia melayang. Nyawa rakyat Tano Batak. Mati terseret banjir, tertimbun longsor. Dan pemerintah, yang tak berdaya melihat lebih jauh penyebab banjir itu, cuma bisa menunjuk hujan.
Yang tua akan mati dan yang muda akan lupa
Novel Jamangilak Tak Pernah Menangis terbit pertama kali tahun 2008. Lima belas tahun yang lalu. Sementara novel Bulan Lebam di Tepian Toba terbit pertama kali tahun 2009. Empat belas tahun yang lalu. Wah, sudah lama juga, saya kira. Lebih dari sedekade sudah. Eh, tapi belum sampai setengah dari usia korporasi yang merusak danau itu! Ya, korporasi perusak danau itu datang sekitar tahun 1983-84. Kurang lebih empat puluh tahun silam!
Lantas apa yang saya bisa ketahui dari membaca novel yang ditulis empat belas sampai lima belas tahun yang lalu, tentang peristiwa nyaris empat puluh tahun yang lalu? Membaca kedua novel ini justru menyadarkan saya, betapa sedikit yang saya ketahui tentang perusakan sistemik yang pernah dan sedang terjadi di Tanah Batak, kampung halaman saya.
Segala bentuk kesenian—termasuk sastra, memang saya yakini sebagai stimulus saja. Sebagai provokator. Perubahan tetap saja tergantung pada mereka yang lantas terprovokasi untuk mengambil langkah. Membaca dua novel di atas tentu sebuah berkah bagi saya. Karena saya jadi tahu sedikit. Dan sekarang saya terprovokasi untuk tahu lebih banyak.
Pengalaman membaca dua novel ini juga mengingatkan saya pada pernyataan David Ben-Gurion—Perdana Menteri pertama Israel, tentang para eksil Palestina:
“One day, the old will die and the young will forget.”
Suatu hari nanti, yang tua akan mati dan yang muda akan lupa. Tapi, tentu saja, kita telah melihat jawaban atas keangkuhan pernyataan itu hari ini. Palestina tetap berdiri melawan. Api perlawanannya bahkan merambat ke mana-mana. Membakar semangat tak hanya anak-anak muda Palestina, tapi juga anak-anak muda di seluruh dunia. Merambat jugakah semangat perlawanan itu ke Tanah Batak? Ah, saya jadi ikut-ikutan menyandingkan gerakan ini, karena Martin Aleida pun menyebut-nyebut Intifada Palestina dalam novelnya.
Empat puluh tahun tentu waktu yang cukup untuk melupakan. Empat puluh tahun tentu waktu yang cukup untuk membuat anak-anak muda di Tanah Batak, ketika ditanya ihwal bencana banjir dan longsor kemarin, memberi jawaban:
“Ya, harus dibuktikanlah! Mana buktinya kalau kegiatan korporasi menyebabkan bencana? Lagipula, korporasi itu sudah memberi makan begitu banyak orang di sini.”
Lima belas tahun tentu waktu yang cukup untuk sebuah novel menjadi usang. Belum lagi kalau ia terbit di lingkungan yang generasi mudanya kian kemari sering dihakimi oleh para duta baca sebagai generasi yang malas membaca (oleh duta baca ya, saya sih enggak ikut menghakimi, huhuhu).
Martin Aleida dan Sihar Ramses Simatupang telah menapak jejak perlawanan di Tanah Batak dalam karya mereka. Menemukan jejak itu secara acak—lantas terprovokasi karenanya, seperti pengalaman saya adalah sesuatu yang patut disyukuri. Mengharapkan orang lain mengalami hal yang sama, pantaskah? Takutnya yang tua keburu mati, dan yang muda keburu lupa.
