Konten dari Pengguna

Setelah Merdeka Diraih, Berkibarlah Jolly Roger!

Christiaan

Christiaan

Penulis, editor, dan legal specialist. Saat ini bekerja sebagai staf departemen hukum perusahaan sembari bergiat di Beta Martapian Project, sebuah penerbit berbasis komunitas.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Christiaan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bendera Jolly Roger. Foto: https://unsplash.com/id/foto/bendera-bajak-laut-dengan-tengkorak-dan-tulang-silang-di-atasnya-RvLyITzf4NU
zoom-in-whitePerbesar
Bendera Jolly Roger. Foto: https://unsplash.com/id/foto/bendera-bajak-laut-dengan-tengkorak-dan-tulang-silang-di-atasnya-RvLyITzf4NU

Kurang dari dua minggu jelang bendera merah putih bakal digerek di halaman istana kepresiden, memperingati hari jadi negara ini yang kedelapan puluh tahun. Bendera itu harusnya dwi warna: merah dan putih. Konon melambangkan keberanian hati dan kesucian niat para pendahulu dalam mendirikan negara ini. Tapi beberapa hari belakangan, yang berkibar adalah Jolly Roger, bendera bajak laut yang dikenal khalayak dari seri anime Jepang berjudul One Piece.

Peristiwa ini ironis, bagi mereka yang pemikirannya masih tertinggal seratus tahun dan belum bersih dari anasir-anasir imperialisme. Naiknya bendera Jolly Roger mestilah mengiris-iris hati patriotis mereka. Merasa dikhianati oleh saudara setanah air, dan ketakutan bukan main kalau-kalau masyarakat terpecah karena sudah tidak satu bendera lagi.

Pasalnya, kalau masyarakat sudah tidak bersatu, maka akan lebih sulit untuk menipu dan membodoh-bodohi mereka dengan dalil nasionalisme, patriotisme, dan omong kosong lainnya. Kontrol lebih mudah dilakukan jika masyarakat bersatu. Padu dalam bualan rasa memiliki (sense of belonging) yang menjadikan mereka bebal.

Nasionalisme memang adalah rasa memiliki yang dialami secara bersama-sama oleh sekelompok orang. Para pendahulu negara ini—yang biasa kita sebut dengan megah-gagah sebagai The Founding Fathers—merasa, secara bersama-sama dan pada waktu yang relatif bersamaan, telah ditindas sedemikian lama oleh kekuatan imperial orang kulit putih. Maka muncul nasionalisme di hati dan pikiran mereka: kita sesama kaum tertindas, harus melawan dominasi dan merdeka di tanah kita sendiri.

Nasionalisme boleh jadi lahir dengan mudah dalam situasi tertindas demikian, karena nyaris tak punya apa-apa selain ketertindasan. Namun setelah merdeka diraih, sense of belonging tentu tak lagi sama sebagaimana di masa terjajah dulu. Sebab rasa sama-sama tertindas itu sudah tidak ada lagi. Digantikan dengan rasa sama-sama memiliki kekayaan yang sudah ratusan tahun ditawan oleh penindas.

Tapi, lagi-lagi, spirit imperialisme yang bercokol ratusan tahun di tanah jajahan nyatanya tidak ikut pergi bersama orang-orang kulit putihnya. Spirit itu memilih tubuh baru untuk diperhamba. Rakyat yang sudah lepas dari penjajahan oleh kulit putih seketika merasa telah merebut kembali dan turut memiliki kekayaan alam yang sebelumnya dinikmati hanya oleh penjajah.

Namun cuma sampai di situ sajalah peran rakyat: merasa memiliki. Sebab di pengujung cerita tindas-menindas itu, sumber daya dikuasai dan dinikmati oleh hamba imperialisme yang baru, yang sudah berganti warna kulit dari putih menjadi sawo mateng. Menariknya, hamba imperialisme yang ini tidak perlu bersusah-susah menodong kepala rakyat dengan bedil, alih-alih secara berkala mengumandangkan romantisisme cerita mengusir penjajah. Dan agaknya rakyat memang masih gandrung akan romantisisme itu. Peringatan hari kemerdekaan diadakan setiap tahun. Rakyat mengharu biru mendengarkan dentuman meriam, pengibaran bendera, pembacaan teks proklamasi, eksebisi baju adat, hingga lantunan lagu-lagu daerah.

Semua tampak baik-baik saja dalam situasi demikian. Tidak terdengar jerit warga yang tanahnya dirampas. Tidak terlihat antrean sarjana yang berdesakan mencari pekerjaan. Tidak tercium bau asap hutan yang dibakar. Seolah semua sedang berjalan di jalan yang benar, dan negara ini akan segera melesat menjadi negara digdaya panutan di Asia dan dunia. Faktanya, kenyataan keseharian negeri ini adalah ironi dari penggalan bait lagu “Ibu Pertiwi”.

Hutan, gunung, sawah, lautan

Simpanan kekayaan

Kekayaan siapa hayolo?

Saya yakin, siapapun pencipta lirik ini, bukan sedang menyindir apalagi meramal, melainkan sekadar memaparkan fakta ihwal kekayaan alam negeri ini. Kekayaan yang pada akhirnya dinikmati hanya oleh segelintir elit. Lalu bagimana dengan sebagian lagi yang tidak ikut menikmati kekayaan alam itu? Ya, mereka, kita, dikondisikan (baca: dibodohkan) agar dengan bangga ikut memamerkan kekayaan itu sebagai milik kita sekalipun kita tidak pernah ikut merasakan dampak dari kekayaan itu bagi kemaslahatan hidup kita. Dan inilah yang kita sebut sebagai nasionalisme! Anda yang tak bangga pada kekayaan sumber daya negeri ini adalah seorang yang tidak nasionalis, sama sekali tak pantas disebut seorang patriot.

Barangkali inilah nasionalisme simbolis dalam pengertiannya yang paling kerdil. Di mana para pejabat bisa dengan gampang pekik merdeka tapi pada saat bersamaan mengeluarkan peraturan yang mencekik rakyat. Pun demikian sebaliknya. Rakyat yang menahankan paceklik sepanjang tahun bisa dengan mudah meneteskan air mata haru saat bendera negara dikibarkan, dan lagu kebangsaan dikumandangkan.

Saya jadi teringat pada sebuah ungkapan yang saya temukan di media sosial beberapa waktu lalu.

Ada sesuatu tentang nasionalisme yang tak pernah bisa saya pahami. Si miskin meregang nyawa untuk mempertahankan batas-batas negara. Sementara si kaya melintasinya untuk liburan.

Nasionalisme simbolis tampaknya sudah menjadi alat bagi oligark untuk mengontrol publik, dan pada gilirannya, melanggengkan kekuasaan. Sementara bagi rakyat kecil tertindas, nasionalisme simbolis menjadi semacam candu yang membuat mereka tahan akan ketertindasan, bahkan pada level yang lebih kronis, menyangkal ketertindasan itu dan lebih memilih percaya pada pemerintah.

Demikianlah pendapat saya mengenai nasionalisme dan patriotisme di negara ini. Pendapat yang belakangan ini mulai runtuh pasca menyaksikan bendera Jolly Roger berkibar di mana-mana. Berkibarnya Jolly Roger menandakan rakyat sudah muak dipermainkan dengan nasionalisme simbolis. Bahwa nasionalisme bukan sekadar pemaknaan pada warna bendera maupun nostalgia perjuangan melawan penjajah. Bukan pula sekadar rasa bangga pada kekayaan sumber daya yang telah dipupuk sejak sekolah dasar.

Nasionalisme semestinya tindakan nyata untuk memperjuangkan cita-cita nasional pasca lepas dari penjajahan. Faktanya, rakyat melihat bagaimana tindakan nyata itu makin hari malah makin terlihat sebagai perjuangan untuk melanjutkan penjajahan itu. Rakyat pun tak sudi, dan memilih untuk mengibarkan Jolly Roger.

Saya pikir, momen inilah yang membangkitkan haru pada peringatan kemerdekaan negara kita tahun ini, alih-alih pengibaran bendera di bawah laut atau anak SMP memanjat tiang bendera. Haru peringatan kemerdekaan tahun ini adalah pengibaran Jolly Roger karena tak sampai hati mengotori kesakralan sang saka merah putih dengan menggereknya di atas tanah-tanah rampasan. Itulah ekspresi nasionalisme dan patriotisme kita!