Konten dari Pengguna

Oscar: Bukan Gebetan, Tapi Kok Susah Banget Dideketin?

Christian Patamuan

Christian Patamuan

Lulusan S1 Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, sekarang bekerja sebagai content moderator di Transcosmos.

·waktu baca 11 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Christian Patamuan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Penonton Film. Foto: Jake Hills via Unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Penonton Film. Foto: Jake Hills via Unsplash.com

Para penggemar film atau bahasa kerennya para “cinephile” lokal mungkin dapat kembali tersenyum di kala industri perfilman kita perlahan mulai membaik. Peningkatan jumlah penonton, kemunculan berbagai genre baru dan prestasi sineas kita di skala internasional masih terus berlanjut. Rasanya dunia mulai curi-curi lirik pada sinema cantik yang kita punya.

Namun sayang di tengah tren positif ini, usaha kita mengirim wakil terbaik harus kembali menelan kabar pahit dimana film Indonesia masih belum bisa unjuk gigi di Oscar.

Sejak pagelaran Oscar 15 Maret lalu, beberapa film pemenang atau bahkan nominasi masih kerap kali diperbincangkan di berbagai forum. Instagram, X dan Youtube memancing diskusi dengan penjelasan, teori, atau bahkan sekadar mengurai pujian pada film-film yang beradu dalam nominasi Oscar 2026 ini. Tak sedikit pula yang mencela dan ada juga yang tak terima.

Sempat terbesit di pikiran saya bahwa, alangkah bangganya jika salah satu film garapan Indonesia turut menjadi topik diskusi pasca Oscar. Bagaimana rasanya jika orang-orang dari seluruh dunia mencoba mengurai pesan yang hadir pada film yang didasarkan pada kehidupan kita, atau hadir dari buah pikiran warga Indonesia itu sendiri.

Bukankah akan menarik? Siapa tahu film kita viral, gara-gara satu scene Reza Rahardian makan mie ayam sambil salto depan. Tentunya hal tersebut masih berupa angan-angan liar semata, namun bukan berarti tidak layak diperjuangkan.

Di tengah tren positif perkembangan industri film kita, tentunya tak salah menaruh harapan besar akan mimpi Oscar ini. Memang masih butuh perjuangan, namun seberapa jauh kita untuk meraihnya? Apa saja bekal dan strategi yang harus kita persiapkan untuk mewujudkannya?

Oscar itu Apa Sih sebenarnya?

Tapi sebelum kita terlalu jauh membahas kenapa film Indonesia belum tembus nominasi, ada satu hal yang perlu kita pahami lebih dulu: kenapa sih Oscar begitu penting dan bergengsi di mata dunia, termasuk Indonesia?

Oscar gak cuma sekedar ajang karpet merah dan pidato inspiratif. Bagi beberapa negara, Oscar dianggap sebagai panggung pengakuan global. Kemenangan di Oscar bisa menjadi titik balik karier sineas, mendongkrak reputasi nasional, bahkan membuka jalan distribusi budaya kita seluruh dunia.

Negara kita tentunya gak mau ketinggalan untuk mencoba kesempatan tersebut. Film terakhir yang menjadi jagoan kita untuk pagelaran Oscar ke 98 adalah Sore: Istri Dari Masa Depan karya Yandy Laurens. Sempat timbul harapan dengan antusias penonton, namun sayang Sore masih belum tampak pada shortlist yang di rilis oleh the Academy.

Memang gak gampang dan terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui sebuah film sebelum akhirnya berakhir lolos kedalam 15 besar per kategori di Oscar. Artinya ketika sebuah film diikutkan untuk berkompetisi ke Oscar, maka ia akan melewati seleksi yang berlapis-lapis oleh abang-abangan The Academy.

Bagaimana Sebuah Film dapat masuk Nominasi Oscar?

Sebelum dikirimkan ke Academy (sebutan untuk organisasi dibalik Oscar), sebuah film akan dipilih terlebih dahulu oleh komite yang berwenang untuk menyeleksi film-film Indonesia yang layak dan memenuhi persyaratan. Kita ambil contoh tahun sebelumnya, yaitu saat Women From Rote Island yang jadi jagoan kita. Sebelum memilih perwakilan negara, pihak terkait (komite) telah menyeleksi total 16 film Indonesia untuk melihat kelayakannya.

Indonesia punya lembaga tersendiri untuk melakukan seleksi film, yaitu Komite Seleksi Oscar Indonesia atau The Indonesia Oscar Selection Committee (IOSC). Komite ini terdiri dari beberapa pelaku sinema tanah air dengan berbagai kemampuan, prestasi dan keahlian.

Nama-nama yang tergabung cukup familiar di telinga kita. Anggota komite ini antara lain adalah Deddy Mizwar sebagai ketua, Garin Nugroho, Cesa David, Edwin Nazir, Ilham Bintang, Slamet Rahardjo, Ratna Riantiarno, Widyawati dan Thoersi Argeswara.

Persyaratan

Dalam proses seleksi komite tidak cuma melihat kualitas saja, namun juga harus memperhatikan beberapa syarat dan ketentuan yang telah disusun oleh The Academy. Untuk kategori International Feature Film, terdapat eligibilitas yang perlu dipenuhi. Melansir rules yang telah dikeluarkan oleh The Academy, aturan main dalam perjalanan menuju Oscar antara lain:

Pertama, film harus sudah dirilis di negara asalnya. Film juga harus diputar secara komersial di bioskop setidaknya selama tujuh hari berturut-turut. Selain itu terdapat kurun waktu perilisan yang juga perlu diperhatikan, contohnya untuk Oscar 2026 ini film yang akan dikirimkan harus dirilis pada kurun waktu antara 1 Oktober 2024 hingga 30 September 2025.

Beberapa persyaratan teknis juga perlu diperhatikan seperti film harus ditayangkan menggunakan format 35mm atau 70mm film, atau Format Digital Cinema (D-Cinema) progresif 24 atau 48 frame per detik. Resolusi minimal film adalah 2048 x 1080 piksel. File gambar dan suara dikemas dalam format Digital Cinema Package.

Cukup ribet memang, tapi intinya kalau mau ngirim film jangan sampe gambarnya kotak-kotak format 3gp, takutnya juri pada sakit mata.

Selanjutnya, film yang sudah pernah ditayangkan secara publik melalui media nonbioskop (TV, OTT, DVD, Youtube) akan dianggap tidak memenuhi syarat (inget, harus lebih dulu tayang di bioskop). Dialog yang digunakan dalam film juga harus lebih dari 50% menggunakan bahasa selain Bahasa Inggris, kalo perlu ya pake bahasa Sunda 100%.

Voting

Film-film yang sudah dikirim kemudian akan melalui voting dua putaran oleh abang-abangan Academy. Semua anggota aktif dari Academy akan diundang untuk menonton film-film yang sudah melalui proses submission dan memenuhi syarat.

Dari aturan mainnya, terdapat jumlah minimal film yang harus ditonton apabila anggota Academy ingin berpartisipasi dalam voting. Nantinya mereka akan memilih maksimal 15 film secara rahasia, sesuai urutan preferensi mereka. 15 film dengan suara terbanyak akan lanjut ke putaran berikutnya (shortlist).

Selanjutnya, para anggota aktif dari Academy akan nobar 15 film yang sudah masuk shortlist 15 besar. Dalam putaran ini para anggota akan memilih maksimal 5 film secara rahasia, sesuai urutan preferensi mereka. Baru kemudian 5 film dengan suara terbanyak akan menjadi nominasi resmi untuk kategori International Feature Film yang selama ini kita incar.

Biasanya sebelum sampai di Oscar, beberapa film nominasi sudah terlebih dahulu tebar pesona di berbagai festival film internasional ternama. Seperti misalnya Sundance, Berlin, Venice, TIFF, Cannes dan masih banyak lagi. Selain untuk meraih penghargaan, tujuan lainnya adalah untuk mengkampanyekan film mereka agar lebih dikenal dan menjadi pertimbangan pihak Academy di Oscar nanti.

Kita ambil saja contoh dari Oscar lalu, beberapa film nominasi salah satunya, Anora, sudah terlebih dahulu meraih penghargaan di Cannes. Women From Rote Island yang menjadi perwakilan kita pun sudah sempat mengikuti NYAFF dan Sore: Istri Dari Masa Depan tayang di Amerika Utara lewat Snow Leopard Awards di Asian World Film Festival.

Kiprah Film Indonesia di Oscar

Sudah cukup lama sejak pertama kali Indonesia mengirimkan film panjangnya untuk bersaing di ajang Academy Awards atau yang lebih dikenal sebagai Oscar. Tepatnya dimulai pada tahun 1987 melalui film Nagabonar karya M. T. Risyaf, langkah ini menjadi penanda awal keikutsertaan Indonesia dalam kategori Best International Feature Film (sebelumnya Best Foreign Language Film). Sejak itu, dalam kurun waktu kurang lebih 39 tahun, Indonesia telah mengirimkan total 28 judul film, meski belum satu pun berhasil masuk dalam daftar nominasi resmi, apalagi meraih piala Oscar.

Setelah Nagabonar, sejumlah film Indonesia kembali dipilih untuk mewakili Indonesia dalam ajang Oscar kategori Best International Feature Film. Dalam satu dekade terakhir beberapa judul di antaranya seperti Surat dari Praha (2016), Turah (2017), Kucumbu Tubuh Indahku (2019), Ngeri-Ngeri Sedap (2022), Women From Rote Island (2023), hingga yang terakhir Sore: Istri Dari Masa Depan. Meski belum ada yang berhasil masuk nominasi final.

Film Indonesia sempat menghadapi banyak tantangan, mulai dari teknis hingga distribusi internasional. Dalam satu dekade terakhir, kualitas produksi dan kekuatan narasi dari sineas kita terus berkembang.

Prestasi pun mulai digapai di ajang bergengsi dunia contohnya, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang meraih Golden Leopard di Locarno, Laura Basuki yang menang Best Supporting Actress di Berlinale lewat Before, Now & Then, hingga Autobiography dari Makbul Mubarak yang meraih FIPRESCI Award di Venice. Gak main-main penghargaan-penghargaan tadi kita raih di festival film yang prestisius.

Usaha Seperti Apa Yang Bisa Dilakukan Agar Dilirik Oscar?

Kualitas film kita rasanya sudah semakin membaik. Kualitas juga tak bisa dipungkiri adalah faktor penting untuk dapat bersaing. Namun untuk menang di Oscar kita butuh lebih dari itu.

Mirip seperti politikus menjelang pemilu, film di Oscar juga perlu dikampanyekan agar dapat menarik hati Academy. Suara dari anggota Academy sangatlah penting, tapi perlu diingat juga bahwa mereka juga manusia. Jadi gak mungkin per individu Academy bakal nonton semua film yang banyak banget itu. Mereka mungkin akan nonton film yang berhasil menarik perhatian mereka saja.

Maka dari itu, sebisa mungkin kita buat film itu didengar atau menarik rasa penasaran dari audiens dan Academy untuk menonton. Sayangnya tidak ada jalur mudah untuk ini, kecuali kamu pernah jadi temen SD-nya Steven Spielberg.

Ingat Anora? Film ini berhasil menyapu sebagian pesar penghargaan Oscar, meliputi dua kategori bergengsi yaitu Best Director dan Best Picture. Dibawah rumah produksi Neon, budget yang mereka keluarkan untuk mempromosikan filmnya adalah 18 juta dollar, tiga kali lipat dari budget produksinya sendiri.

Sebelumnya mereka juga mengeluarkan dana sebesar 20 juta dollar untuk Parasite yang memiliki biaya produksi 11 juta dollar, hampir dua kali lipatnya. Film tersebut juga berhasil meraih Best Picture Oscar pada 2020 lalu.

Kemudahan akses terhadap sebuah film juga merupakan kunci meningkatkan peluang di Oscar. Kita harus dapat masuk kedalam top of mind di industri perfilman luar, khususnya Hollywood. Menurut Ekky Imanjaya yang merupakan seorang Dosen sekaligus pakar film di Binus, terdapat dua hal yang dapat mendorong film-film Asia meningkatkan pamornya di Hollywood.

Pertama adalah para sutradara, aktor dan juga aktris harus mampu melebarkan sayap karirnya di Hollywood. Hal tersebut tentunya sudah dapat kita ceklis dari daftar. Contohnya saja Joko Anwar, yang baru saja melakukan kolaborasi bersama MGM Studios, Mouly Surya dengan Jessica Alba di Trigger Warning dan Timo Tjahjanto sebagai sutradara Nobody 2.

Duet maut Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman juga pernah satu frame dengan Keanu Reeves di John Wick 3, Joe Taslim juga terakhir tampil memukau sebagai Sub Zero di Mortal Kombat, belum lagi membicarakan tentang penampilan Iko Uwais sebagai jagoan bela diri.

Hal kedua adalah kegiatan promosi film kita di luar, khususnya Amerika harus lebih didorong lagi. Promosi atau kampanye pada film juga sangat penting untuk menuju oscar. Pada 2016 Variety menghitung estimasi pengeluaran studio untuk kampanye sekitar 3 juta dollar, bahkan bisa menyentuh angka 10 juta dollar (lebih dari 100 Miliar rupiah). Jumlah fantastis tersebut tak menjadi halangan, mereka rela merogoh kocek sedalam rindu Rangga ke Cinta buat dapetin tiket ke Jogja, eh maksudnya Oscar.

Kampanye Oscar sendiri dapat berupa iklan, surat, pemutaran film, event, talkshow dan masih banyak lagi. Perlu diketahui sebenarnya Academy sangat melarang (terdapat aturan tertulis) apabila terdapat aksi terang-terangan dimana pihak produksi memohon vote untuk film mereka.

Kampanye harus dilakukan secara halus dan pihak rumah produksi jangan sampai terlihat terlalu mengejar kemenangan, jadi harus tetap kasi gimik hadir merayakan kejayaan sinema. Biasanya rumah produksi akan merekrut strategist atau konsultan. Peran mereka penting untuk membantu menyusun strategi, khususnya bagi awam yang masih belum mengerti sepenuhnya tentang standar kampanye Oscar.

Andil dari pemerintah tentunya juga akan sangat berarti, mengingat dana yang dibutuhkan sangat besar. Untuk Oscar 2020 lalu, pemerintah Korea Selatan sangat mendukung perjalanan Parasite (2019) karya Bong Joon Ho.

Investasi besar-besaran dilakukan pada industri film mereka agar film tersebut dapat tayang di seluruh bioskop di Amerika Serikat. Dengan begitu masyarakat di Amerika akan lebih mudah mengakses film tersebut, menjadi pembicaraan dan tentunya akan berdampak pada para voters di Academy.

Kita juga dapat menerapkan langkah tersebut, namun tentunya tidak akan berjalan mulus dan langsung tercapai. Dalam kasus perwakilan kita dulu Women From Rote Island, Menpar kita sempat menyuarakan dukungannya terhadap majunya film ini, namun nampaknya dukungan tersebut masih kurang kuat menjadi pondasi kita. Tentunya banyak persiapan dan sumber daya yang perlu dikerahkan untuk mencapai mimpi ini, namun bukan berarti tak mungkin bagi kita.

Seberapa jauh kita sebenarnya? Sebenarnya kita cukup dekat dengan mimpi tersebut dengan catatan beberapa sektor harus mau bekerja sama, terlebih lagi kalau diberi suntikkan dana super yang anti korupsi. Sebagai penonton juga, kita bisa sesekali mencoba memberi kesempatan pada genre lain di luar horror. Kita tumbuhkan keberanian para rumah produksi agar lebih variatif dalam menghasilkan film.

Menyiapkan strategi dan tekad juga penting biar gak kaget saat tampil di panggung dunia. Kita juga butuh ekosistem yang mendukung, mulai dari sineas, rumah produksi, pemerintah, hingga penonton lokal yang bangga dengan karya anak bangsa. Ketika semua elemen ini bergerak bersama, bukan tidak mungkin mimpi kita untuk mendengar nama Indonesia disebut di panggung Oscar bisa menjadi kenyataan.

Nilai plus lain yang bisa didapat lewat panggung internasional sekelas Oscar adalah mengenalkan budaya lokal secara global. Seperti halnya kita diinvasi oleh budaya luar, kita juga dapat melakukan yang sama. Who knows? Mungkin 5 tahun kedepan orang-orang Amerika lebih doyan makan Ayam Gepuk Pak Gembus ketimbang Mcdonald atau KFC-nya Colonel Sanders.