Stres Akademik Bikin Mahasiswa Rentan Depresi, Ini Temuan Riset Terbaru

Dokter Umum
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Christofer Nugraha Marcyen tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tekanan akademik bukan sekadar capek belajar. Riset terbaru menunjukkan stres akibat tugas, ujian, dan tuntutan kampus bisa berujung pada depresi, kecemasan, hingga burnout mahasiswa.
Sebuah studi di Frontiers in Psychology (2022) menemukan bahwa mahasiswa dengan stres tinggi mengalami penurunan signifikan dalam kesejahteraan mental, terutama pada kelompok perempuan dan non-binary. Penelitian lain di ScienceDirect (2025) menegaskan bahwa stres memicu emosi negatif seperti cemas dan frustrasi, yang akhirnya menurunkan konsentrasi dan prestasi.
Lebih memprihatinkan, riset di BMC Psychiatry (2025) mengungkap 75% mahasiswa tahun pertama mengalami kecemasan, 73% stres, dan hampir 50% depresi. Angka ini menunjukkan tahun awal kuliah adalah masa paling rentan.
Ahli psikologi menekankan pentingnya deteksi dini dan dukungan sosial. “Mindfulness, manajemen waktu, serta konseling kampus terbukti membantu menurunkan kecemasan akademik,” jelas peneliti. Dukungan keluarga juga disebut lebih efektif bila diberikan dalam bentuk empati, bukan tuntutan berlebihan.
Pesan utama: stres akademik nyata, serius, dan perlu dikelola sejak dini agar tidak merusak kesehatan mental maupun prestasi mahasiswa.
