Konten dari Pengguna

Sunyi di Tengah Perayaan, Malam Tahun Baru Pedagang Kaki Lima

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elizabeth Christy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto ilustrasi pedagang kaki lima (Foto: Thinh Nguyen, Under the Unplash License)
zoom-in-whitePerbesar
Foto ilustrasi pedagang kaki lima (Foto: Thinh Nguyen, Under the Unplash License)

Malam ini, suasana kota ramai dengan sorak sorai warganya, menanti munculnya kembang api yang segera menerangi langit. Jalanan kota dipenuhi kendaraan yang berlalu-lalang, tawa penghuni kota juga terdengar dari berbagai sudut. Malam tahun baru pedagang kaki lima, ketika sebagian orang menanti bersama orang yang mereka sayang, namun para pedagang di sudut-sudut kota menanti jam-jam terakhir berjualan.

Malam tahun baru pedagang kaki lima tidak selalu diisi dengan hitung mundur yang dirayakan bersama serta sorak sorai. Di balik gerobak sederhana, pergantian tahun dilalui dengan penuh harap. Ramai, namun sunyi—di tengah hiruk-pikuk kota yang terus bergerak.

Foto pedagang di Alun-Alun Simpang Lima Pati (Foto: Dokumentasi pribadi)

Jalanan masih ramai, tidak semua orang benar-benar berhenti. Pedagang kaki lima berdiri di tempatnya, menunggu pembeli terakhir sebelum malam benar-benar berganti. Bagi mereka, malam ini bukan hanya tentang perayaan, tetapi tentang harapan agar banyak dagangan habis terjual.

Aroma makanan hangat bercampur dengan asap kendaraan yang berlalu-lalang. Di tengah hiruk-pikuk kota, malam tahun baru pedagang kaki lima menjadi hal yang jarang disorot. Mereka pun bagian dari keramaian, namun kisahnya sering terlewat. Padahal, dari sanalah terdapat keluarga yang menggantungkan hidupnya.

Apabila dilihat lebih dalam, di balik aktivitas sederhana itu tersimpan tentang kerja keras dan perjuangan. Banyak dari mereka yang berharap malam tahun baru bisa membawa rezeki lebih. Bagi mereka keramaian merupakan peluang, meski tenaga dan waktu yang menjadi bayarannya. Lampu jalan dan lampu gerobak mereka menjadi penerang di tengah gelap. Tangan mereka terus bergerak menyajikan pesanan. Mungkin ikut menghitung mundur, namun tidak ada pelukan saat tahun berganti. Pergantian tahun hanya ditandai dengan jam yang terus berjalan, sementara pekerjaan belum benar-benar selesai.

Foto ilustrasi malam tahun baru (Foto: Ryuta, under the Unsplash License)

Suara petasan mulai terdengar, bermunculan satu persatu. Sebagian pedagang menoleh sekilas, tidak ada waktu untuk larut dalam suasana. Sebagian lagi diam, menatap penuh harap. Harapan kecil agar dagangan laku, agar esok bisa pulang membawa rezeki lebih untuk keluarga, agar kesehatan tetap terjaga. Harapannya mungkin tak terucap, namun tersimpan dalam diam yang penuh doa.

Malam tahun baru, bagi sebagian orang identik dengan perayaan yang meriah, pengeluaran yang besar. Namun bagi mereka, malam itu menjadi momen penting untuk menambah pemasukan. Setiap pembeli yang datang membawa rasa syukur tersendiri. Karena yang dinanti bukan hanya perayaan, tetapi juga pembeli berikutnya.

Ketika waktu menunjukkan lewat tengah malam, satu per satu gerobak mulai hilang. Terdapat rasa lelah yang tertinggal, namun ada rasa lega yang dibawa karena hari itu berhasil dilalui. Tahun berganti tanpa perayaan dan kehidupan tetaplah berjalan seperti biasa. Bagi pedagang kaki lima, malam tahun baru bukan hanya tentang resolusi besar, tetapi juga tentang melanjutkan perjuangan yang belum usai, tentang membuka kembali gerobak esok hari, tentang harapan yang tidak akan pernah padam.

Di sudut kota, ketika kembang api mulai memudar, jalanan kembali lengang, dan kota kembali sunyi, mereka berjalan kembali ke rumah. Menemui keluarga yang telah menanti mereka sedari tadi. Mereka menyambut tahun baru dengan penuh harap, berharap hidup akan sedikit bahkan jauh lebih baik dari hari kemarin.