Konten dari Pengguna

Dikendalikan atau Mengendalikan? Anak Muda dalam Jerat Algoritma Media Sosial

Chyintya Sitepu

Chyintya Sitepu

Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Katolik Santo Thomas Medan. penulis dan pembaca

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Chyintya Sitepu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penulis Chyintya Br Sitepu

ilustrasi gemini AI. Anak muda sebagai pengguna aktif media sosial memiliki peran penting dalam menyaring informasi agar tidak ikut menyebarkan hoaks di ruang digital.
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi gemini AI. Anak muda sebagai pengguna aktif media sosial memiliki peran penting dalam menyaring informasi agar tidak ikut menyebarkan hoaks di ruang digital.

Media sosial sering dianggap sebagai ruang bebas bagi anak muda untuk berekspresi. Setiap orang dapat berbagi cerita, pendapat, bahkan membentuk citra diri sesuai keinginan. Sekilas, semuanya tampak berada dalam kendali pengguna. Anak muda merasa memiliki kuasa penuh atas apa yang mereka lihat, sukai, dan bagikan. Namun, di balik layar, ada sistem yang bekerja diam-diam, mengatur arus informasi tanpa disadari. Sistem itu adalah algoritma.

Algoritma media sosial dirancang untuk menampilkan konten yang sesuai dengan minat pengguna. Semakin sering seseorang menyukai atau berinteraksi dengan suatu jenis konten, semakin banyak konten serupa yang akan muncul. Bagi anak muda, hal ini terasa nyaman karena mereka disuguhkan hal-hal yang mereka sukai. Namun, kenyamanan ini justru menjadi jebakan yang perlahan membatasi cara berpikir.

Tanpa disadari, anak muda hidup dalam ruang yang disebut sebagai “echo chamber”, yaitu kondisi di mana seseorang hanya terpapar pada informasi yang sejalan dengan pandangannya. Akibatnya, perspektif menjadi sempit dan sulit menerima sudut pandang lain. Dalam situasi ini, informasi yang belum tentu benar dapat dengan mudah dipercaya, apalagi jika didukung oleh banyak konten serupa.

Di sinilah hoaks menemukan tempatnya. Bukan hanya karena kurangnya literasi digital, tetapi juga karena algoritma memperkuat penyebaran informasi yang sensasional dan emosional. Konten yang memicu kemarahan, ketakutan, atau simpati cenderung lebih cepat viral. Algoritma kemudian “mendorong” konten tersebut ke lebih banyak pengguna, termasuk anak muda yang menjadi salah satu kelompok paling aktif di media sosial.

Masalahnya, banyak anak muda tidak menyadari bahwa apa yang mereka lihat bukanlah gambaran utuh dari realitas, melainkan hasil seleksi sistem. Mereka merasa sedang memilih, padahal sebenarnya sedang diarahkan. Ketika sebuah informasi muncul berulang kali, muncul kecenderungan untuk menganggapnya sebagai kebenaran, tanpa proses verifikasi lebih lanjut.

Kondisi ini semakin diperparah dengan kebiasaan konsumsi informasi yang cepat. Anak muda terbiasa menggulir layar dalam hitungan detik, membaca sekilas, lalu berpindah ke konten berikutnya. Dalam pola seperti ini, ruang untuk berpikir kritis menjadi semakin sempit. Informasi tidak lagi dianalisis, tetapi langsung diterima atau dibagikan.

Jika dibiarkan, situasi ini dapat berdampak luas. Bukan hanya pada penyebaran hoaks, tetapi juga pada cara anak muda memahami dunia. Mereka bisa kehilangan kemampuan untuk membedakan antara fakta dan opini, serta menjadi lebih mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar.

Namun, bukan berarti anak muda tidak memiliki peran dalam mengatasi masalah ini. Justru sebaliknya, mereka adalah kunci utama. Kesadaran bahwa media sosial tidak sepenuhnya netral menjadi langkah awal yang penting. Anak muda perlu memahami bahwa apa yang mereka lihat telah melalui proses seleksi, sehingga tidak bisa langsung dipercaya begitu saja.

Selain itu, penting untuk mulai “melawan” algoritma dengan cara sederhana, seperti mencari sumber informasi yang berbeda, tidak hanya bergantung pada satu platform, serta membiasakan diri membaca secara lebih mendalam. Dengan cara ini, anak muda dapat memperluas sudut pandang dan tidak terjebak dalam satu arus informasi saja.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu direnungkan adalah: apakah anak muda benar-benar mengendalikan media sosial, atau justru sebaliknya? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan bagaimana mereka bersikap di ruang digital. Jika tidak ada kesadaran, maka algoritma akan terus mengambil alih peran dalam membentuk cara berpikir dan bertindak.

Media sosial seharusnya menjadi alat, bukan pengendali. Anak muda perlu mengambil kembali kendali tersebut agar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga individu yang kritis dan mandiri dalam menyikapi informasi. Dengan demikian, ruang digital dapat menjadi tempat yang lebih sehat, bukan hanya ramai, tetapi juga bermakna.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Katolik Santo Thomas Medan.