Konten dari Pengguna

Doa yang Tenggelam, Harapan yang Abadi Fr. Christopher Rustam

Chyintya Sitepu

Chyintya Sitepu

Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Katolik Santo Thomas Medan. penulis dan pembaca

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Chyintya Sitepu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penulis Chyintya Br Sitepu

ilustrasi berasal dari Gemini Ai. Doa seorang ibu mengiringi panggilan suci putranya, hingga akhir hayatnya dalam pengabdian.
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi berasal dari Gemini Ai. Doa seorang ibu mengiringi panggilan suci putranya, hingga akhir hayatnya dalam pengabdian.

Ada doa yang tidak pernah diucapkan dengan suara keras, tetapi menggema paling dalam di hati seorang ibu. Doa yang lahir dari cinta, dari pengorbanan, dari harapan yang perlahan dititipkan kepada Tuhan setiap malam. Doa itu sederhana, namun begitu dalam: “Tuhan, jadikan anakku alat-Mu.”

Di balik panggilan hidup membiara, di balik jubah sederhana seorang frater, selalu ada satu sosok yang sering terlupakan: seorang ibu yang sejak awal percaya bahwa anaknya bukan hanya miliknya, tetapi milik Tuhan.

Kisah tentang Fr. Christopher Rustam bukan hanya tentang seorang frater muda. Ini adalah kisah tentang doa yang hidup. Tentang harapan yang tidak pernah putus. Dan tentang cinta seorang ibu yang begitu tulus, bahkan ketika harus merelakan dengan cara yang paling menyakitkan.

Menjadi seorang imam bukanlah pilihan yang lahir begitu saja. Itu adalah panggilan. Dan sering kali, panggilan itu tumbuh dari rumah sederhana, dari tangan seorang ibu yang mengajarkan doa pertama.

Seorang ibu mungkin tidak pernah membayangkan sepenuhnya jalan hidup anaknya. Namun dalam diam, ia selalu menyelipkan harapan: agar anaknya menjadi pribadi yang baik, yang hidup dalam Tuhan, yang membawa terang bagi sesama.

Begitu juga dengan ibu dari Fr. Christopher Rustam.

Barangkali sejak kecil, ia sudah melihat sesuatu yang berbeda dalam diri putranya. Ketulusan, kelembutan, atau mungkin kedalaman iman yang tidak semua anak miliki. Dari situlah doa mulai ditanam. Bukan doa yang memaksa, tetapi doa yang menyerahkan.

Menyerahkan anak kepada Tuhan adalah bentuk cinta tertinggi. Karena itu berarti siap kehilangan dalam arti duniawi, demi memperoleh makna yang lebih besar secara rohani.

Saat seorang anak memilih jalan menjadi imam, tidak semua orang tua langsung kuat menerimanya. Ada rasa bangga, tentu. Tapi juga ada kehilangan.

Seorang ibu yang dulu membayangkan cucu, keluarga, dan kehidupan “normal”, harus perlahan melepaskan semua itu. Ia belajar bahwa cintanya harus berubah bentuk dari memiliki, menjadi merelakan.

Namun, di situlah letak kebesaran hati seorang ibu.

Ketika Fr. Christopher Rustam melangkah menjadi frater, itu bukan hanya langkah pribadinya. Itu adalah jawaban dari doa panjang yang mungkin tidak pernah diketahui banyak orang.

Ia tidak berjalan sendiri. Ia berjalan dengan doa ibunya di setiap langkah.

Menjadi frater berarti hidup untuk melayani. Tidak ada kemewahan, tidak ada kepastian duniawi, tidak ada jaminan kenyamanan. Yang ada hanyalah panggilan untuk hadir bagi sesama.

Dan dalam pengabdian itu, Fr. Christopher Rustam menjalani tugasnya dengan kesungguhan.

Hingga pada suatu momen yang begitu memilukan di Air Terjun Situmurun, di bawah luasnya Danau Toba kisah itu berubah menjadi duka yang dalam.

Peristiwa tenggelamnya beliau bukan sekadar kecelakaan. Bagi banyak orang yang melihat dengan iman, itu adalah simbol pengabdian yang total. Seorang frater yang berada di tengah pelayanan, yang hadir bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk orang lain.

Ia seolah menjalankan tugasnya sampai titik terakhir. Dan di situlah hati kita hancur.

Bagaimana perasaan seorang ibu ketika mendengar kabar seperti itu?

Tidak ada kata yang cukup. Tidak ada kalimat yang mampu menggambarkan luka tersebut.

Anak yang didoakan setiap hari. Anak yang diserahkan kepada Tuhan dengan penuh keikhlasan. Anak yang diharapkan suatu hari akan menjadi imam…

Kini kembali kepada Sang Pemilik hidup, dengan cara yang begitu cepat, begitu sunyi, dan begitu menyakitkan.

Namun di tengah duka itu, ada satu hal yang tetap hidup: doa.

Doa seorang ibu tidak pernah sia-sia. Mungkin bentuk jawabannya bukan seperti yang diharapkan. Mungkin jalannya tidak seperti yang dibayangkan. Tetapi Tuhan tidak pernah mengabaikan doa yang tulus.

Kita sering berpikir bahwa akhir dari kehidupan adalah kehilangan. Tetapi dalam iman, kita diajarkan bahwa kematian bukanlah akhir melainkan perjumpaan.

Mungkin Fr. Christopher Rustam belum sempat ditahbiskan menjadi imam secara duniawi. Namun bukankah hidupnya sudah mencerminkan panggilan itu?

Ia telah melayani. Ia telah memberi. Ia telah hadir bagi sesama.

Dan mungkin, di mata Tuhan, ia telah “ditahbiskan” dengan cara yang tidak kita pahami.

Bagi seorang ibu, kehilangan ini tidak akan pernah mudah. Tetapi ada penghiburan yang pelan-pelan tumbuh: bahwa anaknya tidak hilang. Ia hanya pulang lebih dulu.

Kisah ini bukan hanya tentang duka. Ini adalah tentang cinta yang melampaui segalanya.

Tentang seorang ibu yang berani berdoa, meskipun tahu risikonya adalah kehilangan.

Tentang seorang anak yang menjawab panggilan, meskipun jalannya tidak mudah.

Dan tentang Tuhan yang selalu bekerja, bahkan dalam peristiwa yang paling menyakitkan sekalipun.

Hari ini, mungkin kita menangis.Namun di balik air mata itu, ada satu keyakinan yang tidak boleh hilang: Bahwa doa yang tulus tidak pernah tenggelam.

Ia hidup. Ia berbuah. Ia kekal.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Katolik Santo Thomas Medan.