Konten dari Pengguna

Kesepian di Tengah Keramaian: Fenomena Mahasiswa yang Kehilangan Ruang Bercerita

Chyintya Sitepu

Chyintya Sitepu

Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Katolik Santo Thomas Medan. penulis dan pembaca

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Chyintya Sitepu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seorang anak yang menyimpan kesedihan dan perasaannya dalam diam. Foto: Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang anak yang menyimpan kesedihan dan perasaannya dalam diam. Foto: Gemini AI

Di tengah ramainya kehidupan kampus, tidak semua mahasiswa benar-benar merasa memiliki teman untuk berbagi cerita. Setiap hari mereka menghadiri perkuliahan, berdiskusi di kelas, mengikuti organisasi, hingga berinteraksi melalui media sosial. Dari luar, kehidupan mereka tampak penuh aktivitas dan dikelilingi banyak orang. Namun di balik keramaian tersebut, tidak sedikit mahasiswa yang sebenarnya merasa kesepian.

Kesepian sering kali dipahami sebagai kondisi ketika seseorang tidak memiliki teman atau berada sendirian. Padahal, kesepian tidak selalu berkaitan dengan jumlah orang yang ada di sekitar kita.

Seseorang dapat berada di tengah kerumunan, memiliki banyak kenalan, aktif di berbagai kegiatan, tetapi tetap merasa tidak memiliki tempat untuk bercerita. Kesepian muncul ketika seseorang merasa tidak dipahami, tidak didengar, atau tidak memiliki hubungan yang cukup dekat untuk membagikan apa yang sedang dirasakannya.

Fenomena ini semakin banyak ditemukan di kalangan mahasiswa. Masa perkuliahan sering dianggap sebagai masa yang penuh kebebasan, kesempatan, dan pengalaman baru.

Namun, di balik berbagai peluang tersebut, mahasiswa juga menghadapi berbagai tekanan yang tidak selalu terlihat. Tuntutan akademik, persaingan prestasi, masalah ekonomi, hubungan pertemanan, hingga kecemasan mengenai masa depan menjadi bagian dari kehidupan yang harus mereka hadapi setiap hari.

Ilustrasi bercerita. Foto: Shutterstock

Dalam situasi seperti itu, keberadaan ruang bercerita menjadi sangat penting. Namun sayangnya, ruang tersebut justru semakin sulit ditemukan. Banyak mahasiswa merasa harus terlihat kuat di hadapan orang lain. Mereka takut dianggap lemah ketika mengungkapkan kesedihan atau kesulitannya. Akibatnya, mereka memilih menyimpan berbagai perasaan tersebut sendirian.

Media sosial turut memperkuat kondisi ini. Platform digital memungkinkan seseorang untuk terhubung dengan ratusan bahkan ribuan orang dalam waktu yang bersamaan. Namun, hubungan yang terbangun tidak selalu menciptakan kedekatan emosional yang nyata. Banyak orang lebih mengenal kehidupan orang lain melalui unggahan foto dan cerita singkat dibandingkan melalui percakapan yang mendalam.

Setiap hari mahasiswa disuguhi berbagai pencapaian yang ditampilkan di media sosial. Ada yang mengunggah prestasi akademik, keberhasilan organisasi, pengalaman magang, hingga kehidupan yang terlihat menyenangkan. Tanpa disadari, hal tersebut sering menimbulkan perbandingan sosial. Seseorang mulai merasa tertinggal ketika melihat keberhasilan orang lain. Ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri dan merasa tidak cukup baik.

Yang menjadi masalah, perasaan tersebut sering kali tidak pernah diungkapkan kepada siapa pun. Banyak mahasiswa memilih memendam kecemasan yang mereka alami. Mereka tetap tersenyum ketika bertemu teman. Mereka tetap hadir di kelas. Mereka tetap terlihat baik-baik saja. Padahal di dalam dirinya, terdapat berbagai kekhawatiran yang tidak diketahui orang lain.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kesepian pada mahasiswa bukan hanya persoalan jumlah teman, melainkan juga persoalan kualitas hubungan sosial. Memiliki banyak teman tidak selalu berarti memiliki seseorang yang benar-benar dapat dipercaya. Sebaliknya, memiliki satu orang yang bersedia mendengarkan dengan tulus sering kali jauh lebih berarti daripada memiliki banyak hubungan yang bersifat dangkal.

Ilustrasi mahasiswa. Foto: exam student/Shutterstock

Selain itu, budaya menghakimi juga menjadi salah satu penyebab mengapa banyak mahasiswa kehilangan keberanian untuk bercerita. Tidak sedikit orang yang lebih cepat memberikan penilaian daripada mendengarkan. Ketika seseorang mengungkapkan kesulitannya, respons yang muncul sering kali berupa perbandingan, kritik, atau nasihat yang tidak diminta. Akibatnya, banyak mahasiswa merasa bahwa diam adalah pilihan yang lebih aman.

Padahal setiap orang membutuhkan ruang untuk didengar. Mendengarkan bukan berarti harus selalu memberikan solusi. Dalam banyak situasi, seseorang hanya ingin perasaannya diakui dan dipahami. Kehadiran orang yang bersedia mendengarkan dengan empati sering kali lebih berharga daripada seribu nasihat yang diberikan tanpa memahami kondisi yang sebenarnya.

Kesepian yang berlangsung dalam waktu lama dapat menimbulkan berbagai dampak. Secara emosional, seseorang dapat merasa tidak berharga, kehilangan motivasi, dan mengalami penurunan kepercayaan diri. Secara sosial, ia mulai menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Dalam kondisi tertentu, kesepian juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan kualitas hidup seseorang secara keseluruhan.

Oleh karena itu, penting bagi lingkungan kampus untuk tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik mahasiswa. Kampus juga perlu menjadi ruang yang mendukung terciptanya hubungan sosial yang sehat. Lingkungan yang terbuka, inklusif, dan menghargai perbedaan dapat membantu mahasiswa merasa lebih diterima dan lebih nyaman untuk mengekspresikan dirinya.

Mahasiswa juga perlu menyadari bahwa meminta bantuan atau berbagi cerita bukanlah tanda kelemahan. Justru keberanian untuk mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja merupakan bentuk kejujuran terhadap diri sendiri. Tidak ada manusia yang mampu menghadapi seluruh masalahnya sendirian.

Ilustrasi bercerita. Foto: Shutterstock

Di sisi lain, setiap individu juga dapat berperan dalam mengurangi kesepian yang dialami orang lain. Terkadang, tindakan sederhana seperti menanyakan kabar dengan sungguh-sungguh, mendengarkan tanpa menghakimi, atau mengajak seseorang berbicara dapat memberikan dampak yang sangat besar. Banyak orang tidak membutuhkan solusi yang rumit. Mereka hanya membutuhkan keyakinan bahwa ada seseorang yang peduli terhadap keberadaan mereka.

Pada akhirnya, kesepian di kalangan mahasiswa merupakan fenomena yang perlu mendapat perhatian bersama. Di tengah dunia yang semakin terhubung secara digital, hubungan manusia yang tulus justru menjadi semakin berharga. Kehadiran teknologi memang dapat memperpendek jarak fisik, tetapi tidak selalu mampu menghilangkan jarak emosional.

Karena itu, yang perlu dibangun bukan hanya jaringan pertemanan yang luas, melainkan juga hubungan yang memungkinkan seseorang merasa didengar, dipahami, dan diterima. Sebab sering kali, seseorang tidak membutuhkan banyak orang dalam hidupnya. Ia hanya membutuhkan satu ruang yang membuatnya merasa tidak sendirian ketika menghadapi berbagai persoalan hidup.

Di tengah keramaian kampus yang penuh aktivitas, mungkin masih ada banyak mahasiswa yang tersenyum setiap hari, tetapi menyimpan kesepiannya sendiri. Mereka hadir di antara kita, duduk di ruang kelas yang sama, berjalan di koridor yang sama, dan mengikuti kegiatan yang sama. Namun, tidak semua dari mereka memiliki tempat untuk bercerita.

Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya bertanya tentang nilai, prestasi, atau kesibukan seseorang. Mungkin sudah saatnya kita mulai bertanya dengan lebih tulus: “Apa kabar?” dan benar-benar siap mendengarkan jawabannya.