Pelayanan atau Formalitas? Ketika Anak Muda Kehilangan Makna di Gereja

Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Katolik Santo Thomas Medan. penulis dan pembaca
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Chyintya Sitepu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Penulis Chyintya Br Sitepu

Gereja sering dipenuhi oleh kehadiran anak muda yang aktif dalam berbagai bentuk pelayanan. Mereka menjadi misdinar, anggota koor, pemain musik, hingga panitia dalam berbagai kegiatan. Dari luar, semua tampak berjalan dengan baik. Anak muda hadir, terlibat, dan ikut mengambil bagian dalam kehidupan gereja. Namun, di balik keaktifan tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang jarang dibicarakan: apakah pelayanan yang dilakukan benar-benar lahir dari kesadaran iman, atau sekadar menjadi rutinitas tanpa makna?
Fenomena ini bukan sesuatu yang asing. Banyak anak muda terlibat dalam pelayanan sejak usia dini, bahkan karena dorongan dari lingkungan, keluarga, atau kebiasaan. Pada awalnya, keterlibatan tersebut membawa semangat dan rasa bangga. Namun, seiring berjalannya waktu, tidak sedikit yang mulai merasa jenuh. Pelayanan berubah menjadi kewajiban yang harus dijalankan, bukan lagi panggilan yang dihayati.
Ketika pelayanan kehilangan makna, yang tersisa hanyalah formalitas. Anak muda datang karena jadwal, bukan karena kerinduan. Mereka menjalankan tugas dengan baik, tetapi tanpa keterlibatan hati. Dalam kondisi seperti ini, gereja memang tetap berjalan, tetapi kehilangan kedalaman. Pelayanan tidak lagi menjadi ruang pertumbuhan iman, melainkan sekadar aktivitas yang diulang.
Salah satu penyebabnya adalah kurangnya ruang refleksi dalam kehidupan pelayanan. Anak muda sering diajak untuk “melakukan”, tetapi jarang diajak untuk “memahami”. Mereka dilibatkan dalam kegiatan, tetapi tidak selalu dibimbing untuk mengerti makna di balik pelayanan tersebut. Akibatnya, pelayanan menjadi aktivitas luar tanpa proses batin yang mendalam.
Di sisi lain, ada juga tekanan sosial yang tidak disadari. Anak muda yang aktif dalam gereja sering kali merasa harus terus hadir agar tetap dianggap “baik” atau “setia”. Ketika mereka mulai lelah atau ingin berhenti sejenak, muncul rasa bersalah. Hal ini membuat pelayanan tidak lagi menjadi pilihan yang bebas, tetapi berubah menjadi beban yang dipikul.
Tidak bisa dipungkiri, gereja juga memiliki peran dalam membentuk situasi ini. Pendekatan yang terlalu berfokus pada tugas dan tanggung jawab, tanpa diimbangi dengan pendampingan iman, membuat pelayanan terasa kering. Anak muda diberi peran, tetapi tidak selalu diberi arah. Mereka diberi tanggung jawab, tetapi tidak selalu didampingi dalam prosesnya.
Namun, kondisi ini bukan sesuatu yang tidak bisa diubah. Justru di sinilah gereja memiliki kesempatan untuk membaharui cara mendampingi anak muda. Pelayanan perlu dikembalikan pada esensinya, bukan sekadar apa yang dilakukan, tetapi mengapa itu dilakukan. Anak muda perlu diajak untuk mengenal makna pelayanan sebagai bentuk relasi dengan Tuhan, bukan hanya sebagai aktivitas dalam komunitas.
Pendampingan yang lebih personal dan dialogis menjadi kunci penting. Anak muda perlu didengar, bukan hanya diarahkan. Mereka perlu diberi ruang untuk bertanya, meragukan, dan mencari. Dalam proses itu, iman tidak dipaksakan, tetapi tumbuh secara perlahan dan mendalam.
Selain itu, penting juga untuk memberi kebebasan bagi anak muda dalam menentukan keterlibatan mereka. Tidak semua harus selalu aktif dalam bentuk yang sama. Ada yang melayani melalui musik, ada yang melalui aksi sosial, ada pula yang melalui cara-cara sederhana yang tidak selalu terlihat. Ketika pelayanan tidak dibatasi oleh bentuk, anak muda akan lebih mudah menemukan makna yang sesuai dengan dirinya.
Pada akhirnya, pelayanan gereja bukan tentang seberapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi seberapa dalam makna yang dihidupi. Anak muda tidak hanya membutuhkan ruang untuk bergerak, tetapi juga ruang untuk bertumbuh. Jika pelayanan hanya menjadi formalitas, maka gereja akan kehilangan generasi yang seharusnya menjadi harapan.
Sebaliknya, jika anak muda mampu menemukan makna dalam setiap pelayanan yang mereka jalani, maka gereja tidak hanya akan hidup, tetapi juga bertumbuh dengan kuat. Karena di sanalah pelayanan tidak lagi sekadar aktivitas, melainkan menjadi bagian dari perjalanan iman yang nyata dan bermakna.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Hukum, Mahasiswa Universitas Katolik Santo Thomas Medan.
