Siapa yang Benar-Benar Kenyang? Ketika Program Sosial Tidak Menyentuh Rasa Aman

Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Katolik Santo Thomas Medan. penulis dan pembaca
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Chyintya Sitepu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Penulis Chyintya Br Sitepu

Program Makan Bergizi Gratis hadir dengan tujuan yang jelas dan mulia, memastikan setiap anak mendapatkan asupan yang layak untuk tumbuh dan berkembang. Dalam banyak kesempatan, program ini dipandang sebagai langkah nyata negara dalam menjawab persoalan gizi. Namun, di tengah pelaksanaannya, muncul pertanyaan yang lebih dalam dan jarang diangkat, apakah program ini benar-benar menghadirkan rasa aman bagi seluruh masyarakat.
Di satu sisi, ada anak-anak yang mulai merasakan manfaat dari makanan bergizi yang disediakan. Mereka datang ke sekolah dengan harapan baru, mendapatkan apa yang sebelumnya mungkin sulit diperoleh di rumah. Program ini memberi dampak yang nyata dan terlihat. Namun di sisi lain, ada keluarga yang justru mulai merasakan kecemasan yang berbeda, bukan karena tidak ada makanan, tetapi karena ketidakpastian.
Rasa aman dalam memenuhi kebutuhan pangan bukan hanya soal tersedia atau tidaknya makanan, tetapi juga tentang kemampuan untuk mendapatkannya secara layak dan berkelanjutan. Ketika masyarakat mulai merasa bahwa kebutuhan sehari-hari semakin sulit dijangkau, muncul kegelisahan yang tidak selalu terlihat di permukaan.
Bagi banyak keluarga, dapur bukan hanya tempat memasak, tetapi juga simbol ketahanan hidup. Ketika mereka mulai berpikir lebih lama sebelum membeli bahan makanan, ketika pilihan harus dipersempit karena keterbatasan, di situlah rasa aman mulai terganggu. Situasi ini tidak selalu muncul secara tiba-tiba, tetapi perlahan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Program sosial yang baik seharusnya tidak hanya menghadirkan manfaat bagi satu kelompok, tetapi juga menjaga keseimbangan bagi masyarakat secara keseluruhan. Ketika sebagian merasa terbantu, sementara sebagian lain mulai merasa tertekan, ada sesuatu yang perlu dilihat kembali dengan lebih jujur.
Persoalan ini bukan sekadar tentang distribusi makanan, tetapi tentang bagaimana kebijakan memengaruhi rasa keadilan. Masyarakat tidak hanya menilai dari apa yang diberikan, tetapi juga dari bagaimana dampaknya dirasakan bersama. Ketika muncul perasaan bahwa ada yang diuntungkan sementara yang lain harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang semakin sulit, kepercayaan terhadap kebijakan bisa perlahan terkikis.
Di sinilah pentingnya melihat program secara lebih menyeluruh. Keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari sejauh mana kebijakan tersebut tidak menimbulkan keresahan baru. Rasa kenyang tidak cukup diukur dari makanan yang diterima, tetapi juga dari ketenangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Selain itu, perlu ada perhatian terhadap suara-suara kecil yang sering kali tidak terdengar. Mereka yang tidak menjadi penerima manfaat langsung, tetapi tetap merasakan perubahan dalam keseharian. Dalam banyak kasus, kelompok inilah yang justru menjadi penyeimbang dalam kehidupan sosial, namun sering terabaikan dalam perumusan kebijakan.
Jika dibiarkan, ketimpangan rasa ini bisa berkembang menjadi jarak sosial yang lebih besar. Bukan lagi soal siapa yang makan dan siapa yang tidak, tetapi tentang siapa yang merasa aman dan siapa yang terus diliputi kekhawatiran.
Oleh karena itu, program seperti ini perlu dilihat bukan hanya sebagai solusi, tetapi sebagai proses yang harus terus diperbaiki. Keseimbangan antara manfaat dan dampak harus menjadi perhatian utama. Tidak cukup hanya memastikan ada yang terbantu, tetapi juga memastikan tidak ada yang merasa ditinggalkan.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya tentang siapa yang sudah mendapatkan makanan bergizi, tetapi siapa yang benar-benar merasa tenang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena tujuan akhir dari setiap kebijakan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang menciptakan rasa adil yang bisa dirasakan oleh semua.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Katolik Santo Thomas Medan.
