Konten dari Pengguna

Dari Layar ke Destinasi: Fenomena Film Induced Tourism AADC 2 di Sellie Coffee

Gracia Nofidelia

Gracia Nofidelia

Mahasiswi S1 Pariwisata UGM

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gracia Nofidelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana sih adegan film Ada Apa Dengan Cinta? 2 memengaruhi wisatawan untuk mengunjungi Sellie Coffee?

Film induced tourism atau movie tourism adalah pariwisata yang didorong oleh keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat yang dipopulerkan oleh kesuksesan sebuah film atau serial TV tersebut, yang sering kali menghasilkan peningkatan pariwisata dan manfaat ekonomi bagi wilayah tersebut.

Percaya atau tidak, film sangat mempengaruhi persepsi kita terhadap suatu destinasi yang ingin kita tuju. Buktinya, ada peningkatan aktivitas wisata di beberapa lokasi yang menjadi latar tempat suatu film ataupun serial TV.

Semenjak trailer film Ada Apa Dengan Cinta? 2 ditayangkan, terdapat satu adegan yang sangat membekas di benak penonton, yaitu saat Cinta mengatakan "Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu jahat" di salah satu kedai kopi yang bernama Sellie Coffee.

Sellie Coffee merupakan kedai kopi kecil yang terletak di Jalan Gerilya Nomor 822 atau lebih dikenal dengan Jalan Prawirotaman II, Yogyakarta mendadak tersohor karena potongan adegan Cinta dan Rangga. Disini lah tempat dimana Rangga dan Cinta bertemu untuk menyelesaikan masalah mereka di masa lalu. Lokasi tempat duduk Rangga dan Cinta yang berada di Sellie Coffee tersebut awalnya hanya sekadar tempat duduk saja, namun ketika film AADC 2 rilis, lokasi tersebut sering dikunjungi oleh para penggemar.

Salah satu adegan film Ada Apa Dengan Cinta? 2. Rangga dan Cinta berada di Sellie Coffee. (Dok. AADC2.com)

Adegan ikonik di Sellie Coffee dalam film AADC 2 yang dimana Cinta mengungkapkan perasaannya kepada Rangga, tidak hanya meninggalkan kesan emosional bagi penonton, tetapi juga memicu fenomena film induced tourism yang nyata. Banyak penggemar film AADC 2 yang terdorong untuk mengunjungi kedai kopi tersebut. Pengunjung bukan hanya sekadar untuk menikmati kopi saja, tetapi juga untuk merasakan kembali momen bersejarah Cinta dan Rangga melalui re-enactment adegan ikonik tersebut seperti yang dilakukan oleh saya dan teman saya.

Re-enactment adalah metode penciptaan ulang peristiwa atau adegan tertentu dalam film, baik dokumenter maupun fiksi, dengan tujuan menghadirkan kembali suasana, tokoh, dan detail peristiwa sedekat mungkin dengan adegan aslinya yang ada di dalam film.

Re-enactment adegan ikonik Ada Apa Dengan Cinta? 2. Balqis dan Cia sebagai Rangga dan Cinta di Sellie Coffee. (Dok. Foto Pribadi Balqis Sofiana)

Sellie Coffee mengalami peningkatan yang signifikan dengan jumlah pengunjung pasca munculnya film Ada Apa Dengan Cinta? (AADC 2) tahun 2016 yang menampilkan kafe ini sebagai salah satu lokasi syuting. Dampak dari film-induced tourism ini secara nyata terlihat dari meningkatnya kunjungan wisatawan. Menurut pengelola (Bahtia Ribayu), lonjakan pengunjung pada tahun 2016 meningkat secara signifikan sekitar 50%, dibandingkan tahun 2015 sebelum film AADC 2 muncul. Wisatawan yang datang pasca film tersebut rilis adalah wisatawan Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura. Wisatawan dari Malaysia dan Singapura, khususnya yang berlatar belakang Melayu, memiliki kedekatan bahasa dan budaya dengan Indonesia. Hal ini memudahkan mereka mengakses dan memahami narasi dalam film Ada Apa Dengan Cinta? 2. Selain itu, film ini memiliki pengaruh yang kuat di kawasan Asia Tenggara. Banyak penggemar film di negara-negara tersebut mengunjungi Sellie Coffee, sebagai bentuk film pilgrimage atau napak tilas ke tempat ini.

Setelah dipikir-pikir, re-enactment adegan ikonik ini dapat memperkuat keterikatan emosional antara penonton dan lokasi yang menjadikan Sellie Coffee sebagai tempat napak tilas budaya pop yang hidup. Ketika penonton melihat adegan yang hidup dan terasa nyata, mereka lebih mudah membayangkan diri mereka ketika berada di tempat tersebut sehingga motivasi untuk mengunjungi lokasi aslinya meningkat. Secara tidak langsung, re-enactment adegan membantu menciptakan citra destinasi yang unik dan positif di mata wisatawan. Hal ini sangat berpengaruh pada keputusan mereka untuk mengunjungi tempat tersebut.

Dengan demikian, re-enactment adegan yang menampilkan lokasi menjadi salah satu strategi branding alami destinasi yang memperkuat daya tarik wisata film sehingga makin dikenal oleh wisatawan. Selain itu, penerapan hal ini juga mengubah lokasi syuting menjadi destinasi yang memiliki nilai pengalaman dan kenangan tersendiri bagi wisatawan.