Konten dari Pengguna

Strategi Perguruan Tinggi Baru Mencari Muka

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ciara Kimiko Haryanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Perguruan Tinggi Baru. Sumber: Magnific
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perguruan Tinggi Baru. Sumber: Magnific

Setiap tahun sebelum musim ajaran baru dimulai, perguruan tinggi baru berbondong-bondong melakukan promosi dengan berbagai taktik untuk menarik mahasiswa baru. Mereka berlomba-lomba menyiarkan keunggulannya untuk mendapatkan legitimasi dari masyarakat. Namun pertanyaannya, Apakah perguruan tinggi baru benar-benar menyediakan pendidikan berkualitas? Atau hanya sekadar janji manis belaka?

Memilih perguruan tinggi kerap kali seperti membeli "nama." Banyaknya perguruan tinggi yang telah berdiri puluhan tahun menikmati privilege berupa reputasi yang terbangun secara organik melalui jejak alumni dan tradisi akademis. Sementara itu, perguruan tinggi yang baru seumur jagung harus memulai segalanya dari angka nol. Mereka tidak memiliki cukup waktu untuk menunggu reputasi itu terbentuk dengan sendirinya.

Tantangan yang dihadapi oleh perguruan tinggi baru adalah “Branding” dari kampus top di Indonesia. Masyarakat tentunya lebih percaya pada kampus dengan rekam jejak yang jelas, memiliki alumni-alumni yang menjadi tokoh besar, dan kualitas pendidikan yang diakui nasional. Di perguruan tinggi baru, jumlah alumni yang masih sedikit menjadi salah satu pertimbangan besar yang menimbulkan ketakutan masyarakat terhadap akreditasi kampus. Ditambah, pasar kerja modern yang masih melihat pekerja berdasarkan almamater membuat masyarakat urung untuk mengambil risiko menempuh pendidikan di perguruan tinggi baru yang belum jelas kualitas lulusannya.

Dalam persaingan yang ketat, perguruan tinggi baru terus dituntut untuk mendapatkan kepercayaan publik, berbagai strategi dilakukan demi mendapatkan legitimasi. Sebagai upaya, perguruan tinggi baru melakukan berbagai cara untuk mengambil hati mahasiswa, orang tua, dan pasar kerja.

Legitimasi dalam Lensa Dramaturgi

Perebutan legitimasi ini dapat diilustrasikan melalui lensa Dramaturgi yang dikemukakan Erving Goffman. Sosiolog Erving Goffman mengemukakan teori dramaturgi yang menjelaskan bahwa interaksi sosial adalah bentuk dari pertunjukan teater dan masyarakat berperan sebagai aktor yang menampilkan kesan tertentu. Goffman menjelaskan konsep dramaturgi yang memiliki dua sisi, front stage dan backstage.

Selayaknya panggung teater, front stage dipahami sebagai kesan atau citra yang ditampilkan ke publik. Dalam perebutan legitimasi ini, perguruan tinggi baru menampilkan kelebihan mereka di area front stage untuk memberi kesan bahwa mereka adalah perguruan tinggi yang unggul. Sebelum tahun ajaran baru dimulai, perguruan tinggi baru sudah mati-matian berebut untuk memenangkan hati masyarakat, membuka program studi “anti-mainstream,” melakukan promosi dengan menggandeng influencer, membuat visual kampus terlihat modern, kerja sama dengan industri luar negeri untuk mendongkrak reputasi perguruan tinggi, hingga beasiswa atau potongan biaya kuliah untuk menarik minat masyarakat.

Sebaliknya, pada area backstage atau wilayah internal perguruan tinggi, terdapat realita yang disembunyikan rapat-rapat dari publik, seperti status legitimasi formal dari BAN-PT, akreditasi kampus yang belum mampu menyaingi perguruan tinggi top, nasib alumni dalam dunia kerja dan kualitas pendidikan yang belum terjamin 100%.

Mendapatkan legitimasi tidak hanya sekadar mengumpulkan banyak mahasiswa baru, front stage yang indah belum cukup untuk menjamin reputasi perguruan tinggi selalu baik di mata publik. Jika perguruan tinggi terlalu sibuk memoles front stage di publik sedemikian rupa, sementara area backstage atau internal kampus tidak diperhatikan, besar kemungkinan terjadi kebocoran yang kemudian menghilangkan reputasi kampus. Satu protes kecil dari mahasiswa terkait ketidaksesuaian antara realita dengan promosi di media sosial cukup untuk meruntuhkan legitimasi yang susah payah dibangun.

Perebutan legitimasi yang dilakukan oleh perguruan tinggi baru tidak dapat dicapai hanya dalam semalam. Perguruan tinggi baru tidak dapat menerobos reputasi yang sudah dimiliki perguruan tinggi terakreditasi hanya dengan strategi promosi. Perlu konsistensi dari perguruan tinggi untuk terus membuktikan kualitas pendidikan yang mereka sediakan. Kompetensi pengajar, keberhasilan alumni dalam dunia kerja, serta kredibilitas perguruan tinggi yang akan menjadi penentu apakah perguruan tinggi baru akan mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Fokus perguruan tinggi baru seharusnya bukan pada kompetisi siapa yang paling fasilitasnya paling canggih, melainkan pada peningkatan kualitas pendidikan yang mereka sediakan.