Konten dari Pengguna

Anak Saya Sering Menangis & Berteriak, Kenapa ya???

Cici Desri

Cici Desri

Content Creator

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cici Desri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertanyaan ini sering kali muncul dari orangtua dengan anak balita mulai dari usia 2 hingga 5 tahun. Pada usia 2 tahun, anak balita memang berada pada fase tantrum sehingga tak jarang menangisnya dibarengi juga dengan teriakan alias "ngamuk". Namun hal ini jadi sangat menyebalkan ketika dilakukan oleh anak usia 4 tahun keatas. Lantaran tak hanya menangis, biasaya juga disertai dengan teriakan dan perlakukan kasar seperti melempar benda, memukul, menendang dan lain sebagainya.

Nah, berikut ini beberapa penyebab anak menangis dan berteriak:

  1. Anak merasa tidak nyaman dengan dirinya atau lingkungan terdekat namun sulit mengungkapkan kepada orangtua atau orang dewasa disekitarnya.

  2. Anak merasa stress, bosan atau jenuh. Misalnya, untuk anak usia 3 tahun yang sedang aktif akan suka bereksplorasi untuk menjawab rasa penasarannya. ANak-anak ini akan merasa stress saat dikekang, serba dilarang, serba tidak boleh dan serba dibatasi, sehingga ia meluapkannya dengan mengamuk tidak karuan.

  3. Anak meniru orang disekitarnya. Coba perhatikan dan evaluasi, apakah di rumah ada orang yang suka berteriak sehingga ditiru oleh anak-anak? Atau tontonan yang ia lihat?

  4. Keinginannya tidak terpenuhi. Penyebab nomor empat ini banyak dibenarkan oleh orangtua. Saat anak menginginkan sesuatu dan tidak kita berikan, pasti akan menangis bahkan menjerit-jerit. Disini lah peran orangtua bertugas dimana kita harus bijak dan cerdas bernegosiasi dan memberikan penjelasan kapan keinginannya dikabulkan dan kapan harus menunggu. Dalam hal ini, anak-anak harus kita kenalkan dengan aturan keluarga supaya terbiasa. Karena saya merasakan betul manfaatnya ketika saya menjelaskan dengan detail pada anak, apa yang akan saya belikan tanpa diminta dan kapan harus menunggu. Namun, ketika anak sudah menunggu, kita harus tepati. Jangan sampai, anak menjadi tidak percaya karena kita ingkar janji.

Solusi Agar Anak Tidak Berteriak

Pastikan kita memberikan perhatian untuk si kecil. Saat anak memanggil dan meminta bantuan kita, sementara kita sedang mengerjakan sesuatu, bisa dijawab terlebih dahulu sehingga ia tidak merasa diabaikan. Misalnya "tunggu sebentar ya nak, Mama sedang membuat sarapan dulu". Atau bisa disampaikan "5 menit lagi ya nak", bisa disesuaikan dengan bahasa Buibuk di rumah. Yang penting, anak direspon terlebih dulu sebelum ia menangis dan tantrum.

Kenali tantrum normal, abnormal dan tantrum manipulatif anak disini.

Berikan penjelasan bahwa berteriak di dalam ruangan itu tidak diperkenankan, bising bahkan cenderung tidak sopan kecuali terjadi hal-hal yang membahayakan. Buibuk bisa berikan contoh, kapan anak boleh berteriak dan harus berbicara pelan.

Fasilitasi keinginan anak berteriak. Sama seperti orang dewasa, kadang mereka juga butuh berteriak untuk meluapkan perasaannya. Kita bisa mengajak mereka bermain outdoor seperti di playground, bermain ayunan, jungkat-jungkit atau sesuatu yang menantang dan ia bisa berteriak atau tertawa lepas.

Bahkan, ada yang menyarankan untuk membawa si kecil keluar rumah saat ia menjerit-jerit sambil menangis didalam rumah. Tujuannya supaya anak tau, anak boleh menangis tapi tidak berteriak atau menjerit-jerit apalagi didalam rumah, silahkan menjerit diluar rumah. Namun, cara ini tidak saya benarkan sepenuhnya karena untuk Buibuk yang tinggal di perumahan padat penduduk, malah akan membuat tidak nyaman orang di sekitar.

Kesimpulan

Seperti halnya konsep sebab-akibat, begitu pula pada karakter anak-anak. Mereka tidak mungkin tiba-tiba menjerit-jerit jika tidak ada penyebabnya. Dan, karakter anak-anak masih bisa kita bentuk dan kita arahkan sehingga sebagai orangtua, kita harus dengan sabar membersamai mereka.

Baca artikel Parenting lainnya disini serta dapatkan #idebermain edukatif anak di rumah disini. Jangan lupa, download printable nya juga ya, GRATIS.