Belajarlah Menjadi Orang Tua, Sebelum Waktunya Tiba.

Content Creator
Tulisan dari Cici Desri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika kita ingin menjadi seorang dokter, sudah pasti kita akan sekolah setinggi-tingginya untuk meraih gelar dokter. Begitu juga profesi lainnya, namun bagaimana dengan gelasr sebagai orang tua?
Ngga ada sekolah menjadi orang tua ya? Padahal tantangannya sangat luar biasa, untuk kita yang berpikir.
Mendidik anak generasi Alpha yang dekat dengan teknologi itu ngga mudah. Kita harus melek teknologi, harus hidup juga jiwa sebagai orang tuanya. Karena anak-anak bukan hanya akan kita bentuk menjadi manusia yang siap bertarung dan bekerja.
Begitu juga dengan saya. Hingga akhirnya, saya sekolah kembali saat anak berusia 3 tahun. Karena saya merasaka tidak memiliki kemampuan apa-apa untuk mendidik si kecil. Hingga akhirnya saya mengikuti kelas parenting Islami dan Kelas Montessori.
Mudah? Tentu saja tidak, tantangannya terletak pada waktu. Berperan sebagai seorang isteri, ibu plus mahasiswa dengan segala macam tugasnya. Tapi saya sangat menikmati setiap prosesnya. Karena setiap kali join class, selalu ada inisght baru yang bisa saya serap. Dan itu menjadi energi positif dalam menjalani keseharian.
Tapi trust me, tantangan mendidik anak itu selalu ada tapi dengan tau ilmunya semua bisa teratasi. Anak akan mengalami fase-fase tertentu dalam hidupnya. tantrum lah, fase menolak lah, protes lah, komplen lah, ketika saya tau memang itu fasenya kita jadi ngga mudah emosi. Dan dari situ, saya juga jadi lebih tau apa nih solusinya supaya anak tersalurkan emosinya namun tidak berkelanjutan.
Tak dipungkiri, tekanan hidup jaman sekarang tuh banyak banget. Bahkan apapun keputusan yang diambil tetap akan ada risikonya. Memilih totally menjadi ibu rumah tangga, lambat laun ada rasa jenuh dan bosan, bahkan muncul keinginan untuk sama seperti ibu-ibu lain yang memiliki karir.
Memilih bekerja 8 to 5, muncul rasa bersalah karena tidak bisa memberikan waktu untuk anak setiap hari. Muncul rasa khawatir anak akan kehilangan bonding dengan kita sehingga selalu ada keinginan untuk resign.
Bahkan, working mom from home pun sama. Bekerja di rumah, anak ngajak main, kita jawab "nanti dulu", pagi ke siang, ke sore lagi hingga malam tiba masih sibuk dengan email, Whatsapp, revisian dan lain sebagainya.
Sampai akhirnya saya menemukan cara terbaik dan tidak egois. Ketika saya memutuskan berkeluarga dan menjadi seorang ibu, ada anak yang harus dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan. Dia juga berhak untuk diprioritaskan.
Ini lah pentingnya self regulation, dimana kita bisa ngobrol dengan diri sendiri apa yang harus dilakukan. Apa yang membuat kita nyaman? Apa yang harus kita perjuangkan dan apa yang harus kita lepas.
Ketika kita sudah menyelami diri sendiri sedalam-dalamnya, kita akan mendapatkan jawabannya sendiri sekaligus cara untuk tetap tumbuh dan berkembang dalam rumah tangga. Tetap bisa menjadi apa yang kita mau tanpa harus melupakan kewajiban sebagai seorang isteri dan seorang ibu.
Semoga bermanfaat, find me on www.cicidesri.com
#cicidesricom #parentingblogger
