Selangkah Lebih Maju

Secretary Of The Algebra International Islamic Boarding School (IIBS) - Hukum Perdata Islam (HK) Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang
Tulisan dari Cici Yuli Wartuti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada kalanya kita ingin menjalani kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Terkadang kita ingin menyelami kembali diri sendiri dan belajar mengembangkan kapasitas yang ada dalam diri. Maka, satu hal yang harus kita lakukan terlebih dahulu adalah bersyukur, karena pada akhirnya telah sampai pada tahap sadar akan hal yang seharusnya kita lakukan demi pengembangan diri. Bayangkan kalau kita tidak pernah merasa kurang, sudah pasti kita akan menjalani kehidupan yang flat-flat saja dari masa ke masa.
Hal yang perlu kita ingat, jangan hanya merasa kurang, karena jika hanya merasa kurang, sudah pasti siapapun bisa merasa kurang. Yang terpenting adalah action, out of your comfort zone, pikirkan dan lakukan. Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan :
Bacalah banyak buku
Terserah buku apa saja, tapi sangat disarankan kumpulan buku pengembangan diri. Buku-buku biografi juga bagus untuk proses pengembangan diri, terkadang di dalam buku biografi juga banyak sekali pengalaman-pengalaman orang lain yang akan menjadi contoh bagi kita untuk kedepannya.
Saya tidak menemukan sebuah pondasi yang paling ampuh untuk mengembangkan diri kecuali dengan membaca buku.
Cintailah buku, bertemanlah dengan akrab bersama buku. Maka, kelak sedikit demi sedikit pola pikir kita akan berubah, skill kita bisa jadi bertambah, kecakapan langkah kita akan mudah terarah, jiwa kritis kita akan dengan mudah terasah.
Berperanlah yang banyak lagi penting, ikuti organisasi, komunitas atau hal lain yang membuat kita semakin berkembang
Peganglah prinsip "jika tak mencoba, maka takkan pernah tahu hasilnya".
Ada lagi prinsip yang bisa kita jadikan acuan; "Lakukan saja dulu, tidak usah pikirkan rasa takut, jika tidak berhasil, maka akan jadi pelajaran untuk kedepannya agar lebih baik, jika berhasil, maka akan jadi cambuk untuk semakin giat lagi".
Juga terdapat prinsip lain yang bisa kita pakai; "jika gagal pada percobaan pertama, maka setidaknya kita paham strategi berikutnya".
Ketika bergabung pada sebuah organisasi, maka ambillah peran yang cukup penting, peran yang mampu membuat kita bergerak, peran yang akan membuat kita "terpaksa" menambah skill.
Lah kok?
Contohnya begini, akan lebih baik kita yang pendiam, kita yang banyak malasnya, kita yang ogah-ogahan ini, sesekali menantang diri untuk mendapatkan peran penting dalam sebuah kelompok. Semisal menjadi ketua. Jika kita menjadi ketua, mau tidak mau sudah pasti kita akan belajar berbicara di depan umum, kita akan belajar bagaimana cara komunikatif dengan orang lain, mau tidak mau pasti kita akan belajar bagaimana cara problem solving dalam suatu kelompok, jiwa kita akan tertantang.
Biasanya, segala sesuatu itu tergantung jam terbang juga, makanya kita harus berani mencoba. Kita sangat perlu jam terbang yang teruji. Makanya, harus semangat.
Pergunakan waktu dengan sebaik mungkin.
Kalau kata orang inggris, time is money.
Adapapun kata Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah, yang dinukilkan oleh Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Jawaab Al-Kaafi, menjelaskan : "Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu. Dan jiwamu, jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan".
Benar, kan? Kalau kita tidak sibuk dalam kebaikan, pasti kita akan merasa sibuk dalam kebatilan. Saya pribadi menafsirkan berdasarkan kenyataan yang sering dihadapi oleh diri saya dan orang-orang di sekitar saya, jika kita tidak sibuk berbenah diri, kita akan dibuat sibuk dengan rasa malas, kan? Seperti kata mas Mawang; "yaaa, lagi sibuk ga ngapa-ngapain aja sih", sungguh menggambarkan tingkah laku kita yang hobi rebahan. haha
Adapun menurut saya, waktu adalah api. Api jika kita manfaatkan dengan sebaik mungkin, bisa menghasilkan makanan yang enak dan bisa menerangi kegelapan. Tapi, jika api tersebut kita biarkan diam di tangan kita tanpa diarahkan pada yang lain, maka api tersebut akan membakar habis diri kita, dan kita akan menyesal karena tidak memanfaatkan dengan semestinya. Begitulah waktu.
Pilih lingkungan yang baik, sesuai dengan tujuan yang akan kita capai
Percayalah, lingkungan sangat berpengaruh besar.
Jika kehadiran kita belum bisa menerangi kegelapan malam, maka jangan sampai cahaya kita redup begitu saja karena ganasnya siang terik yang penuh dengan angin liar.
Maksudnya gimana? Gini gini, kalau kita belum bisa membawa orang lain untuk ikut dengan kita, maka jangan sampai malah kita yang kehilangan semangat hanya karena berada di tempat yang salah (lingkungan).
Lingkungan yang tepat, akan membuat kita semakin berkembang, yakinlah. Jadi, jangan sampai salah memilih orang-orang yang akan hidup berdampingan dengan kita.
Milikilah seorang mentor atau pegangan
Memiliki seorang mentor sangat penting dalam mencapai kesuksesan.
Nah, dikarenakan kita ini masih bocah ingusan yang semangatnya mudah padam, pengetahuannya tidak mendalam, lalu masih sering lupa arah jalan pemikiran yang benar, maka memiliki mentor adalah jalan yang paling oke. Yaaa, minimal punya-lah senior atau kakak untuk kita berkeluh kesah menyampaikan beberapa pertanyaan, agar terarah.
Arah jalannya seperti ini : pertama-tama menyesal dengan kehidupan yang begini-begini saja, lalu mencoba mencari jalan, nah solusi pertamanya dengan memulai baca buku.
Selanjutnya, yaaa jangan sampai hanya pada tahap baca buku. Kembangkan lagi semangat, dengan bergabung komunitas atau organisasi. Berbagai pengalaman akan didapatkan di dunia organisasi, semisal jam terbang dan mendapatkan teman yang satu visi.
Biasanya di organisasi atau komunitas, akan ada diskusi-diskusi kecil. Nah, apa yang kita baca akan bisa kita diskusikan dalam forum tersebut, berbicaralah, sesekali jadilah tempat minum yang siap menuangkan airnya pada cangkir.
Tak apa, tak apa terbata-bata, tak apa merasa grogi, tak apa merasa takut, yang perlu kita lakukan hanyalah jangan mati kutu sebelum mencoba. Nanti juga kita akan terbiasa, tak lagi takut, tak lagi susah untuk bergaul dengan orang lain, pertemanan akan melebar seiring waktu.
Hari ini, mungkin saja kita masih berpikir "pemikiran seperti apa yang bisa saya dapatkan dari mereka" ketika bertemu sekelompok orang. Namun, kita harus punya target, agar suatu hari nanti bisa menancapkan dalam hati "hari ini, ada sebuah pemikiran yang bisa saya diskusikan dengan mereka". Sebab sesekali, jadilah cawan, namun pada kesempatan lain, jadilah teko.
Sebuah hal kecil, namun bisa dipraktekkan. Pada beberapa kesempatan, berpinsiplah dengan kalimat ini jika memang ingin berkembang : "sekarang, saya duduk di sini sebagai pendengar, maka esok, sayalah yang akan berdiri di sana sebagai pembicara".
Jika kita tak punya cukup privilege untuk hidup enak dan punya banyak orang dalam, maka jangan lelah untuk membangun privilege itu sendiri. Dengan cara apa? Ya itu tadi, usaha dan jangan takut. Hidup ini, selagi tidak bertemu calon suami atau calon ibu mertua untuk pertama kalinya, untuk apa kita merasa takut, santuyy. haha
Terima kasih telah mampir dan membaca, semoga bermanfaat.
Salam Hormat, Cici Yuli Wartuti.
