Dilema bagi Perempuan

Mahasiswa Sosiologi Agama IAKN Tarutung
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Cici Ritonga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tadi pagi saya tiba-tiba menyadari ternyata ini sudah bulan Maret. Dua bulan di tahun 2026 sudah terlewati. Saya berpikir dan mengingat bahwa tiga bulan lagi saya akan berada di usia dua puluh enam tahun. Memangnya, ada apa dengan usia dua puluh enam tahun?
Jangankan dua puluh enam tahun, perempuan jika sudah di usia 20 tahun ke atas ternyata sudah harus mempersiapkan diri untuk mendengar pertanyaan-pertanyaan dari orang sekitar, terkhusus dari para orang tua yang tentunya sudah melalui pernikahan. Mungkin itu penyebabnya saya tiba-tiba memikirkan diri saya yang akan berusia dua puluh enam tahun di tahun 2026 ini.
Setiap kali bertemu dengan teman kerja, keluarga, kerabat bahkan tetangga di kampung “kapan rencanamu menikah?,” sudah menjadi menjadi pertanyaan yang sepertinya memang harus dijawab agar si penanya merasa tenang, apalagi sepengetahuan mereka kita selalu mempunyai teman spesial.
Rasanya saya perlu mempersiapkan beberapa pembahasan ketika berbincang-bincang dengan orang-orang apalagi jika teman saya berbincang itu adalah orang tua. Kadang saya bertanya dalam hati, apakah tidak ada pembahasan lain. Kalau dilontarkan pertanyaan seperti itu, kadang saya jawab “Saya akan menikah pada waktunya, kita tunggu saja,” herannya jawaban itu dianggap bukan jawaban.
Jangan terlalu pemilih, jangan tunggu usia harus segini dan segitu baru menikah, apa lagi yang kamu pikirkan. Percayalah,ada rejeki setelah menikah. Ucapan-ucapan ini sudah tidak jarang terdengar di telinga. Pernah saya jawab “Saya tidak pemilih, saya rasa usia segini belum terlalu tua, saya juga masih harus membenahi banyak hal karena yang saya pikirkan bukan hanya kepentingan diri sendiri.Lagi pula saya yang tahu diri saya, saya juga yang akan menjalaninya.”
Saya cukup lembut menyampaikan jawaban ini kepada mereka yang bertanya. Memang, beberapa cukup mengerti dan setuju dengan pernyataan saya. Tapi ada juga yang malah berkata “ya sudahlah, anak muda zaman sekarang memang agak susah menerima pendapat.” Katanya sambil memulai topik baru yang akan dibahas dalam pembicaraan selanjutnya.
Sepertinya perempuan dengan usia dua puluh tahun ke atas akan menjadi bahan pembicaraan yang harus dikupas tuntas. Walaupun pada akhirnya mereka tidak menemukan jawaban yang benar-benar pasti setelah membahas perempuan yang seharusnya sudah menikah dalam pandangan kebanyakan orang. Mereka yang sudah melalui pernikahan memberi saran dengan menunjukkan beberapa contoh indahnya pernikahan.
Ada banyak hal baik yang bisa dirasakan setelah menikah. Salah satunya yang paling sering diakui adalah kita mempunyai teman berdiskusi untuk mengatasi masalah dan masih banyak hal baik lainnya. Saya mengakui bahwa banyak hal baik yang akan diperoleh setelah menikah. Apakah semua keindahan dan kebaikan itu akan selalu berjalan dengan mulus? Tentu tidak.
Bagaimana kalau setelah menjadi suami Ia malah jadi perokok berat? Bagaimana kalau setelah menjadi suami Ia jadi pecandu judi online ataupun offline? Bagaimana kalau setelah jadi suami Ia malah tidak bisa diajak berdiskusi dengan baik? Bagaimana kalau setelah jadi suami Ia malah tidak lagi bekerja dengan sungguh-sungguh? Apakah jika kemungkinan-kemungkinan itu terjadi akan dianggap menjadi salah perempuan?
Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi pertimbangan bagi banyak perempuan, karena. “Kamu sudah mengenal dia sebelumnya, kamu yang memilih dia maka bagaimanapun keadaannya sekarang kamu harus jalani dengan baik. Berpikirlah lebih dewasa dan coba kamu sebagai seorang istri memperbaiki diri, pertahankan rumah tangga dan anak-anakmu.” Padahal banyak perempuan yang memutuskan untuk menikah karena merasa laki-laki yang menjadi teman spesialnya itu sangat baik dan bertanggung jawab.
Lagi pula siapa yang bisa tahu perubahan-perubahan yang akan terjadi dalam diri seseorang di hari depan. Tetapi tetap saja pernyataan itu sering disampaikan kepada perempuan terlebih kepada perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak. Pernyataan ini juga dianggap sebagai solusi dan penenang bagi perempuan yang menyampaikan keluh-kesahnya.
Padahal, perlu disadari bahwa pernyataan ini sebenarnya menjadi sebuah penekanan kepada perempuan agar selalu kuat dan bertahan dalam menghadapi berbagai masalah dalam keluarga. Apapun yang terjadi, seolah-olah perempuanlah yang menjadi penanggung jawab dalam mempertahankan rumah tangganya.
Terdengar kejam, tapi itulah yang sering terjadi. Pertimbangan-pertimbangan itu akan membuat perempuan merasa dilemah. Perempuan harus menikah, syukur-syukur bertemu pasangan yang cukup baik. Tidak menerapkan sistem patriarki dalam keluarga, misalnya suami yang tidak keberatan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci dan menjemur pakaian, selalu terlibat untuk mengurus dan memperhatikan tumbuh kembang anak, dan urusan-urusan rumah tangga lainnya. Jika bertemu pasangan yang seperti ini menikah tentu menjadi pilihan terbaik bagi perempuan.
Kuatnya sistem patriarki tidak jarang membuat perempuan merasa tertekan tetapi memilih untuk tidak berucap apa-apa. Lalu bagaimana jika bertemu dengan pasangan yang terbiasa dengan sistem patriarki, menganggap bahwa perempuan yang perlu berusaha dalam mempertahankan rumah tangga? Di sinilah perempuan merasa bahwa menikah bukan pilihan yang baik dalam hidup. Peristiwa ini juga tidak jarang terjadi.
Lalu bagaimana seharusnya? Tidak harus bagaimana. Tetapi, biarkan perempuan berpikir dengan tenang, biarkan perempuan mempertimbangkan berbagai hal, biarkan perempuan benar – benar merasa siap terlebih secara mental untuk menikah. Usia dua puluh tahun ke atas bukan berarti perempuan harus menikah tanpa berbagai pertimbangan. Usia bukanlah penentu kesiapan perempuan untuk menikah
