Konten dari Pengguna

Di Balik Skripsi, Ada Cerita tentang Perjuangan Mahasiswa

Lisa Tasya

Lisa Tasya

Mahasiswa universitas Pamulang

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lisa Tasya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto memiliki hak cipta (Lisa Tasya)
zoom-in-whitePerbesar
foto memiliki hak cipta (Lisa Tasya)

Bagi sebagian orang, skripsi mungkin hanya terlihat seperti tumpukan kertas yang berisi tulisan, data, teori, dan berbagai pembahasan. Ada judul, latar belakang, rumusan masalah, metode penelitian, hasil penelitian, sampai kesimpulan. Setelah selesai, skripsi dicetak, dijilid, kemudian disimpan di rak atau perpustakaan kampus.

Namun, bagi seorang mahasiswa, skripsi bukan hanya sekumpulan halaman yang harus diselesaikan untuk mendapatkan gelar sarjana.

Di balik setiap halaman skripsi, ada cerita tentang perjuangan.Ada waktu yang dikorbankan, rasa lelah yang disembunyikan, revisi yang berulang kali, pesan kepada dosen pembimbing yang kadang membuat cemas, serta berbagai pertanyaan dari orang-orang di sekitar.

“Sudah sampai bab berapa?”

“Kapan sidang?”

“Teman-temanmu sudah banyak yang lulus, kamu kapan?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu terkadang terasa berat bagi mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan skripsinya.

Memulai skripsi tidak selalu mudah.

Awalnya, mungkin kita berpikir bahwa mengerjakan skripsi akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Setelah bertahun-tahun mengikuti perkuliahan, akhirnya kita sampai pada tahap terakhir. Tinggal mengerjakan skripsi, melakukan penelitian, sidang, lalu wisuda. Tetapi kenyataannya tidak selalu seperti yang dibayangkan. Memilih judul saja bisa membutuhkan waktu yang cukup lama. Ada mahasiswa yang harus berkali-kali mengganti judul karena dianggap kurang sesuai. Ada juga yang sudah merasa yakin dengan judulnya, tetapi kemudian menemukan masalah ketika mulai melakukan penelitian.

Belum lagi mencari referensi, membaca jurnal, menyusun proposal, membuat instrumen penelitian, mengumpulkan data, kemudian mengolah data tersebut. Semuanya membutuhkan kesabaran. Tidak jarang mahasiswa merasa bingung harus mulai dari mana.

Laptop sudah dibuka. File Word sudah tersedia. Judul skripsi sudah tertulis di halaman pertama. Tetapi beberapa menit kemudian, hanya kursor yang terus berkedip di layar. Tidak ada satu kalimat pun yang berhasil ditulis. Bukan karena malas. Kadang kita hanya terlalu banyak berpikir.

Takut salah.

Takut tulisan tidak bagus.

Takut penelitian tidak berjalan sesuai rencana.

Takut dosen pembimbing tidak menyetujui. Dan akhirnya, pekerjaan yang seharusnya dimulai justru terus ditunda.

Revisi adalah bagian dari perjalanan

Salah satu hal yang paling akrab dengan mahasiswa tingkat akhir adalah kata “revisi”. Setelah mengerjakan skripsi berhari-hari bahkan berminggu-minggu, kita mengirimkannya kepada dosen pembimbing dengan harapan akan mendapatkan persetujuan. Namun, yang datang justru catatan revisi. Ada bagian yang harus diperbaiki. Ada paragraf yang harus ditambahkan. Ada teori yang perlu diganti. Ada data yang harus diperiksa kembali. Bahkan terkadang, bagian yang sudah dikerjakan dengan penuh perjuangan harus diubah dari awal. Pada saat seperti itu, rasa kecewa tentu ada. Kita mungkin berpikir, “Bukankah kemarin sudah diperbaiki?”

Namun, perlahan kita belajar bahwa revisi bukan berarti usaha kita sia-sia. Revisi adalah bagian dari proses belajar. Dari revisi, kita belajar menerima kritik. Kita belajar memperbaiki kesalahan. Kita belajar bahwa sesuatu yang menurut kita sudah baik belum tentu benar-benar selesai. Dan yang paling penting, kita belajar untuk tidak mudah menyerah.

Ada hari ketika semangat itu hilang

Tidak setiap hari mahasiswa yang mengerjakan skripsi memiliki semangat yang sama. Ada hari ketika kita bisa menyelesaikan beberapa halaman sekaligus. Tetapi ada juga hari ketika satu halaman saja terasa sangat berat. Ada saat ketika kita merasa sangat dekat dengan kelulusan. Namun pada hari berikutnya, kita kembali merasa jauh. Perasaan seperti itu sangat manusiawi. Skripsi bukan hanya menguji kemampuan akademik, tetapi juga kesabaran dan ketahanan diri.

Kadang yang paling melelahkan bukan mengetik atau membaca jurnal. Yang paling melelahkan adalah melawan pikiran sendiri.

“Apakah aku bisa menyelesaikannya?”

“Kenapa skripsiku belum selesai?”

“Apakah aku terlalu lambat?”

“Kenapa orang lain sudah sampai sidang, sementara aku masih di sini?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa muncul berkali-kali. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan perjalanan kita dengan perjalanan orang lain. Padahal setiap mahasiswa memiliki kondisi yang berbeda. Ada yang mendapatkan dosen pembimbing yang mudah ditemui. Ada yang harus menunggu cukup lama untuk bimbingan. Ada yang penelitiannya berjalan lancar. Ada yang harus berulang kali mencari data. Ada yang mendapat dukungan penuh dari keluarga. Ada juga yang harus menyelesaikan skripsi sambil menghadapi berbagai persoalan pribadi. Karena itu, perjalanan setiap mahasiswa tidak bisa disamakan.

Tekanan untuk segera lulus

Menjadi mahasiswa tingkat akhir juga berarti harus berhadapan dengan berbagai pertanyaan tentang kelulusan. Pertanyaan tersebut sebenarnya mungkin tidak bermaksud menyakiti. Namun, ketika kita sedang berada dalam kondisi tertekan, pertanyaan sederhana bisa terasa sangat berat. Apalagi ketika melihat teman-teman satu angkatan sudah mulai memakai toga. Ada yang mengunggah foto wisuda. Ada yang mendapatkan pekerjaan. Ada yang melanjutkan pendidikan. Sementara kita masih sibuk dengan skripsi. Pada titik tertentu, muncul perasaan bahwa kita tertinggal. Padahal, hidup bukan perlombaan yang memiliki satu garis waktu untuk semua orang.

Ada orang yang lulus lebih cepat. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang langsung bekerja setelah lulus. Ada yang masih mencari pekerjaan. Ada yang melanjutkan pendidikan. Semua memiliki jalannya masing-masing. Yang penting adalah terus berjalan. Mungkin langkah kita hari ini kecil. Mungkin hanya berhasil membaca satu jurnal. Mungkin hanya menyelesaikan satu halaman. Mungkin hanya memperbaiki satu paragraf. Tetapi tetap saja, itu adalah kemajuan.

Ada keluarga yang diam-diam menunggu

Di balik perjuangan seorang mahasiswa menyelesaikan skripsi, sering kali ada keluarga yang ikut menunggu. Orang tua mungkin tidak selalu memahami bagaimana proses mengerjakan skripsi. Mereka mungkin tidak tahu betapa sulitnya mencari data atau betapa panjangnya proses bimbingan. Namun, mereka menunggu satu hal sederhana. Mereka ingin melihat anaknya menyelesaikan pendidikan. Ada orang tua yang setiap hari bertanya,

“Sudah selesai skripsinya?” Ada yang hanya mengatakan, “Semangat, ya.” Ada juga yang tidak banyak bertanya karena takut menambah beban. Tetapi diam-diam mereka tetap berharap. Bukan semata-mata karena ingin melihat anaknya memakai toga. Lebih dari itu, mereka ingin melihat perjuangan anaknya sampai pada sebuah titik yang membahagiakan. Karena itu, terkadang ketika seorang mahasiswa merasa ingin menyerah, ia kembali mengingat keluarga. Bukan berarti keluarga harus menjadi tekanan. Justru dukungan kecil dari keluarga bisa menjadi alasan untuk kembali mencoba. Teman juga menjadi bagian penting

Perjalanan skripsi akan terasa berbeda ketika kita memiliki teman untuk berbagi cerita..Teman yang sama-sama sedang mengerjakan skripsi biasanya memahami hal-hal yang sulit dijelaskan kepada orang lain. Sama-sama mengeluh tentang revisi. Sama-sama menunggu jadwal bimbingan. Sama-sama mencari jurnal. Sama-sama bingung ketika dosen memberikan catatan. Bahkan terkadang, percakapan sederhana seperti,

“Sudah sampai mana?” bisa membuat kita merasa tidak sendirian. Ada kalanya kita tidak membutuhkan solusi. Kita hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan. Sebab dalam perjalanan menyelesaikan skripsi, merasa ditemani adalah sesuatu yang sangat berarti.

Skripsi mengajarkan arti kesabaran

Semakin lama mengerjakan skripsi, semakin banyak hal yang dipelajari. Bukan hanya tentang penelitian. Bukan hanya tentang teori. Bukan hanya tentang bagaimana menulis karya ilmiah. Tetapi juga tentang kehidupan. Kita belajar bahwa sesuatu tidak selalu berjalan sesuai rencana. Kita belajar bahwa penolakan bukan berarti akhir. Kita belajar menerima kritik. Kita belajar meminta bantuan ketika tidak tahu. Kita belajar mengatur waktu. Kita belajar bertanggung jawab terhadap pilihan yang sudah dibuat. Dan yang paling penting, kita belajar bersabar terhadap diri sendiri. Tidak semua hari harus produktif. Tidak semua target bisa tercapai.

Terkadang kita memang membutuhkan waktu untuk berhenti sebentar, menarik napas, kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Beristirahat bukan berarti menyerah. Berjalan pelan bukan berarti gagal. Jangan terlalu keras kepada diri sendiri

Mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi sering kali menjadi orang yang paling keras terhadap dirinya sendiri. Ketika tidak berhasil menyelesaikan target, kita menyalahkan diri sendiri. Ketika mendapat revisi, kita merasa tidak mampu. Ketika melihat teman lulus lebih dulu, kita merasa tertinggal. Padahal, kita juga sudah berjuang sejauh ini. Coba lihat kembali perjalanan yang sudah dilewati. Ada tugas kuliah yang pernah membuat pusing. Ada ujian yang pernah membuat cemas. Ada presentasi yang pernah membuat gugup. Ada berbagai masalah selama masa perkuliahan yang akhirnya berhasil dilewati. Dan sekarang kita berada di tahap terakhir.

Memang belum selesai.

Tetapi bukan berarti tidak ada kemajuan. Mungkin kita hanya perlu sedikit lebih sabar.Sedikit lebih percaya kepada proses. Dan sedikit lebih menghargai diri sendiri. Pada akhirnya, skripsi akan selesai Akan ada satu hari ketika halaman terakhir akhirnya selesai. Akan ada satu hari ketika revisi terakhir benar-benar dikirim. Akan ada satu hari ketika dosen mengatakan bahwa skripsi sudah bisa maju sidang. Kemudian kita duduk di ruang sidang dengan rasa gugup. Setelah itu, semuanya selesai. Mungkin kita akan melihat kembali file skripsi yang selama berbulan-bulan membuat stres. Kita mungkin akan tersenyum dan berkata dalam hati,

“Ternyata aku bisa melewatinya.”

Pada saat itu, kita mungkin baru menyadari bahwa yang paling berharga dari skripsi bukan hanya gelar sarjana yang diperoleh. Ada proses panjang yang telah mengubah kita.

Dari seseorang yang mungkin mudah menyerah menjadi seseorang yang belajar bertahan. Dari seseorang yang takut menghadapi kesalahan menjadi seseorang yang belajar memperbaikinya. Dari seseorang yang selalu ingin semuanya berjalan cepat menjadi seseorang yang memahami bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Skripsi memang hanya salah satu tahap dalam kehidupan. Namun, bagi mahasiswa yang menjalaninya, tahap ini bisa menjadi perjalanan yang penuh cerita.

Ada tangis.

Ada lelah.

Ada kecewa.

Ada tawa.

Ada dukungan dari teman.

Ada doa dari keluarga.

Dan tentu saja, ada harapan untuk segera menyelesaikannya. Maka, jika hari ini kamu masih berjuang dengan skripsi, jangan terlalu cepat mengatakan bahwa dirimu gagal. Mungkin kamu hanya sedang berada dalam proses yang membutuhkan waktu. Kerjakan sedikit demi sedikit. Buka kembali laptop. Baca kembali referensi. Perbaiki satu halaman. Kirim satu bagian kepada dosen pembimbing. Jika lelah, beristirahatlah.

Kemudian lanjutkan kembali.

Tidak perlu selalu membandingkan perjalananmu dengan orang lain. Sebab setiap mahasiswa memiliki cerita yang berbeda. Dan suatu hari nanti, ketika semua perjuangan itu sudah selesai, kamu akan melihat bahwa setiap halaman yang pernah membuatmu lelah ternyata menyimpan cerita. Cerita tentang bagaimana kamu bertahan. Cerita tentang bagaimana kamu belajar. Dan cerita tentang bagaimana seorang mahasiswa berjuang menyelesaikan satu tahap penting dalam hidupnya. Di balik skripsi, memang ada banyak cerita. Dan salah satu cerita yang paling penting adalah tentang perjuangan untuk tidak menyerah pada diri sendiri.