Air Minum dalam Botol Terlihat Jernih, Tapi Ada yang Tak Terlihat
Tulisan dari Cika Maeliya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika membeli air minum dalam kemasan, yang kita perhatikan biasanya hanya satu hal: airnya terlihat jernih dan siap diminum. Namun, kejernihan air tidak selalu berarti tidak ada partikel berukuran sangat kecil di dalamnya.
Salah satu yang kini banyak diteliti adalah mikroplastik dan nanoplastik.
Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil, sedangkan nanoplastik memiliki ukuran yang lebih kecil lagi. Karena ukurannya, keberadaan partikel tersebut tidak dapat diketahui hanya dengan melihat air secara langsung.
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Science of the Total Environment pada 2026 menganalisis sampel dari empat instalasi pengolahan air minum dan enam merek air minum dalam kemasan. Peneliti menemukan partikel mikroplastik dan nanoplastik berukuran sekitar 300 nanometer hingga 42,3 mikrometer dalam sampel yang diuji. Konsentrasi partikel pada air minum dalam kemasan dalam penelitian tersebut lebih tinggi dibandingkan air minum yang telah melalui pengolahan di instalasi pengolahan air.
Temuan tersebut bukan berarti setiap air minum dalam kemasan pasti berbahaya untuk dikonsumsi. Penelitian mengenai dampak kesehatan dari paparan mikroplastik dan nanoplastik masih terus berkembang. Salah satu tantangan dalam penelitian ini adalah mendeteksi partikel berukuran sangat kecil secara akurat.
Lalu, bagaimana partikel plastik bisa berada di dalam air?
Sumbernya dapat berasal dari berbagai tahap, mulai dari lingkungan, proses pengolahan, hingga material yang bersentuhan dengan air. Jenis polimer yang ditemukan dalam penelitian juga beragam, termasuk polietilena tereftalat (PET), polietilena (PE), dan poliamida (PA).
Di sinilah ilmu Teknik Kimia memiliki keterkaitan. Pengolahan air tidak hanya berkaitan dengan proses penyaringan, tetapi juga mencakup pemisahan, perpindahan massa, karakteristik material, serta pengendalian proses.
Ukuran partikel menjadi salah satu tantangan penting. Semakin kecil ukuran suatu partikel, semakin sulit proses pemisahannya menggunakan metode konvensional. Karena itu, teknologi pengolahan air terus dikembangkan agar mampu menghadapi berbagai jenis kontaminan, termasuk partikel berukuran mikro dan nano.
Bagi mahasiswa Teknik Kimia, persoalan ini menunjukkan bahwa teknologi pengolahan tidak berhenti pada membuat air terlihat bersih. Ada proses ilmiah yang harus diperhitungkan agar kualitas air dapat dikendalikan dari tahap pengolahan hingga sampai ke konsumen.
Air dalam botol mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik kejernihannya terdapat proses panjang dan tantangan teknologi yang terus diteliti.

