Ketika Limbah Makanan Bisa Jadi Energi, Di Mana Peran Teknik Kimia?
Tulisan dari Cika Maeliya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap hari, sisa makanan berakhir di tempat sampah. Padahal, sesuatu yang terlihat tidak berguna itu sebenarnya masih menyimpan energi. Pertanyaannya, bagaimana jika limbah makanan tidak hanya dibuang, tetapi diolah menjadi sumber energi?
Salah satu jawabannya adalah biogas. Melalui proses penguraian bahan organik tanpa kehadiran oksigen atau anaerobic digestion, limbah makanan dapat diubah oleh mikroorganisme menjadi gas yang mengandung metana dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
Di sinilah Teknik Kimia memiliki peran yang cukup besar. Prosesnya bukan sekadar memasukkan limbah ke dalam sebuah tangki, lalu menunggu gas terbentuk. Ada berbagai variabel yang harus dikendalikan agar proses berjalan efektif.
Dalam proses anaerobic digestion, bahan organik diuraikan secara bertahap oleh mikroorganisme. Kondisi seperti temperatur, pH, waktu tinggal, serta komposisi bahan baku dapat memengaruhi jumlah dan kualitas biogas yang dihasilkan.
Bagi mahasiswa Teknik Kimia, proses ini sebenarnya sangat dekat dengan apa yang dipelajari di kelas. Konsep neraca massa digunakan untuk mengetahui jumlah bahan yang masuk dan keluar, sementara prinsip perpindahan panas dapat digunakan untuk menjaga kondisi temperatur di dalam reaktor.
Tidak berhenti di situ, perancangan reaktor juga menjadi bagian penting. Ukuran reaktor, waktu tinggal, pengadukan, hingga sistem pemurnian gas perlu diperhitungkan agar teknologi yang awalnya hanya berjalan di laboratorium dapat dikembangkan menjadi proses yang lebih besar.
Biogas sendiri umumnya mengandung metana dan karbon dioksida. Jika ingin digunakan sebagai bahan bakar dengan kualitas lebih tinggi, gas tersebut dapat melalui tahap pemurnian untuk mengurangi kandungan pengotor tertentu.
Menurut International Energy Agency, pengembangan bioenergi dari limbah dan residu dapat membantu meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Namun, pengembangan teknologi biomassa juga menghadapi tantangan dari sisi biaya, ketersediaan bahan baku, dan skala proses.
Hal menariknya, persoalan limbah dan energi ternyata dapat bertemu dalam satu proses. Limbah makanan yang sebelumnya dianggap sebagai masalah dapat dipandang sebagai bahan baku apabila proses pengolahannya dirancang dengan tepat.
Namun, mengubah limbah menjadi energi bukan berarti semua masalah langsung selesai. Pengumpulan bahan baku, konsistensi komposisi limbah, pengendalian proses, hingga pemanfaatan residu hasil pengolahan tetap membutuhkan perhatian.
Menurut saya, di sinilah menariknya Teknik Kimia. Ilmu ini tidak hanya mengajarkan bagaimana suatu zat bereaksi, tetapi juga bagaimana sebuah proses dirancang agar aman, efisien, ekonomis, dan dapat diterapkan dalam skala nyata.
Jadi, ketika melihat sisa makanan yang dibuang setiap hari, mungkin kita tidak lagi hanya melihatnya sebagai sampah. Bisa jadi, di dalamnya masih terdapat energi yang menunggu untuk diolah.

