Konten dari Pengguna

Muharram dan Burung-Burung

Ilham Mendrofa

Ilham Mendrofa

Kepala Badan Saksi Nasional DPP Partai Demokrat

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ilham Mendrofa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Peringatan Hari Raya 1 Muharram 1448 H/ Foto: Generated AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Peringatan Hari Raya 1 Muharram 1448 H/ Foto: Generated AI

Saya mengenal Muharram sejak kecil.

Ia datang bersama suara pengeras masjid yang lebih nyaring dari hari-hari biasa, lomba anak-anak di lapangan desa, serta hidangan yang disiapkan ibu-ibu selepas pengajian malam. Dalam ingatan saya, Muharram selalu berwajah kampung: dekat, akrab, dan sederhana. Seperti seorang tetangga lama yang datang setahun sekali hanya untuk memastikan kami baik-baik saja.

Namun semakin bertambah usia, saya mulai curiga. Barangkali selama ini saya hanya mengenal nama Muharram, bukan pengembaranya.

Malam itu hilal baru saja lahir di langit. Tipis sekali. Seperti seseorang yang baru belajar menjadi cahaya. Saya memandangnya lama, lalu membayangkan Muharram duduk bersama saya di tepi Kalimalang, berdua dengan kesunyian.

Kabut tipis menggantung di atas air. Burung-burung air bergerak perlahan di antara rumpun gulma liar. Dari kejauhan, lampu-lampu Kota Bekasi berpendar seperti sisa mimpi yang belum sepenuhnya padam. Kalimalang membentang dari timur ke barat, melintasi bendungan, kampung, jalan raya, kawasan industri, lalu terus mengalir menuju pesisir Jakarta.

Muharram menyukai sungai. Sungai tidak pernah tergesa-gesa. Ia tidak sibuk menjelaskan dirinya. Ia hanya mengalir. Tetapi justru karena itu, sungai menyimpan lebih banyak ingatan daripada yang sanggup disimpan manusia.

Pada permukaan Kalimalang yang tenang, Muharram melihat masa lalu dan masa depan saling bertumpuk. Ia membayangkan Sungai Nil ketika para nabi berjalan di tepinya. Ia melihat Tigris ketika Baghdad menjadi pelita dunia. Ia melihat kapal-kapal Bugis membaca rasi bintang di laut malam. Ia melihat para pelaut Nias mengenali perubahan angin jauh sebelum badai lahir di cakrawala.

Lalu ia melihat semuanya berubah. Pada arus yang sama, ia menyaksikan kitab-kitab dilemparkan ke Sungai Tigris. Lembaran demi lembar hanyut mengikuti arus. Ia membayangkan anak-anak yang berdiri di tepian sungai, berusaha meraih halaman-halaman yang lewat di hadapan mereka. Tangan mereka gemetar. Air mencapai dada. Dari sekian banyak kitab yang tenggelam, mereka hanya mampu menyelamatkan satu lembar. Hanya satu lembar.

Muharram tidak pernah melupakan wajah anak-anak itu. Bukan karena mereka berhasil menyelamatkan satu halaman. Melainkan karena kesedihan yang memancar dari mata mereka. Seolah seluruh dunia, seluruh ilmu, seluruh harapan manusia karam bersama selembar kertas yang basah.

Bertahun-tahun kemudian Muharram memahami sesuatu yang pahit. Perpustakaan tidak musnah ketika buku-buku dibakar. Pengetahuan lenyap ketika manusia berhenti merasa kehilangan. Mungkin karena itulah Muharram terus kembali setiap tahun. Bukan sekadar untuk mengganti angka dalam kalender, melainkan untuk mencari manusia-manusia yang masih mampu takjub kepada ilmu, kehidupan, dan semesta.

Dalam lamunan itu, seekor Hudhud datang. Burung tua itu hinggap di dekat batu tempat Muharram duduk. Paruhnya berdebu. Matanya merah karena terlalu lama berjaga. Ia baru pulang dari universitas, perpustakaan, laboratorium, dan pusat-pusat data yang menyimpan lebih banyak informasi daripada seluruh perpustakaan kuno yang pernah dibangun manusia.

"Aku lelah," katanya. Muharram mengangguk.

"Apa yang membuatmu lelah?" Hudhud memandang sungai.

"Dahulu manusia menyeberangi lautan karena ingin mengetahui apa yang ada di balik cakrawala. Kini mereka mengetahui hampir seluruh isi dunia, tetapi semakin jarang bertanya dan semakin jarang peduli."

Muharram teringat para pelaut Bugis yang membaca bintang seperti membaca surat dari sahabat lama. Ia teringat para pelaut Nias yang mengenali arah angin dari bau laut. Mereka tidak menaklukkan samudra. Mereka menghormatinya. Dari penghormatan itulah lahir pengetahuan. Dari pengetahuan lahir kebijaksanaan. Dan dari kebijaksanaan lahir keselamatan.

Hudhud menundukkan kepala.

"Aku takut ilmu masih ada, tetapi keajaiban telah hilang." Lama mereka terdiam. Di atas kepala mereka, langit tetap luas sebagaimana ribuan tahun lalu. Menjelang siang, Bulbul datang. Biasanya ia bernyanyi. Hari itu tidak.

"Aku baru pulang dari banyak rumah ibadah," katanya.

"Lalu?"

"Aku mendengar nama Tuhan disebut di mana-mana." Bulbul berhenti sejenak.

"Tetapi aku juga mendengar kemarahan. Manusia semakin pandai menjelaskan surga, namun semakin sulit menghadirkan keteduhan."

Muharram teringat ayat yang telah menemaninya berabad-abad:

"Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." Seluruh alam. Bukan hanya mereka yang sama dengan kita. Bukan hanya mereka yang sepakat dengan kita. Di dalamnya ada sungai, pohon, burung, manusia yang berbeda keyakinan, bahkan anak-anak yang belum lahir. Rahmat selalu lebih luas daripada pagar yang dibangun manusia.

Bulbul memejamkan mata.

"Aku takut manusia menjadikan agama sebagai jalan menuju kenikmatan dirinya sendiri, bukan sebagai rahmat bagi kehidupan."

Menjelang sore, Pipit datang. Tubuhnya kecil. Bulu-bulunya kusam. Ia datang dari pasar, sawah, dapur-dapur sederhana, dan rumah-rumah tempat para ibu menghitung pengeluaran sambil menyembunyikan kecemasan agar anak-anak mereka tetap bisa tidur dengan tenang.

"Aku tidak takut lapar," katanya.

"Aku takut penderitaan menjadi sesuatu yang dianggap biasa."

Muharram tidak segera menjawab. Sebab ia tahu sejarah terus bergerak bukan karena para raja, melainkan karena orang-orang yang tak pernah dicatat sejarah: petani, nelayan, guru, pedagang, serta para ibu yang bangun sebelum fajar. Mereka adalah akar. Dan akar selalu bekerja dalam diam.

Menjelang senja, Dara datang membawa kabar dari banyak negeri.

"Kini manusia semakin mudah menemukan alasan untuk berpisah."

Muharram memandang sungai. Air dari berbagai hulu dapat bertemu tanpa saling menghapus. Mengapa manusia tidak mampu melakukan hal yang sama?

Saat matahari hampir tenggelam, Camar turun dari langit. Pada sayapnya menempel masa depan: bau logam, kecerdasan buatan, kota-kota yang menyala sepanjang malam, dan kesepian yang tidak pernah dikenal generasi sebelumnya.

"Aku takut manusia menyerahkan pikirannya kepada mesin," katanya.

Muharram tersenyum tipis. Sebab ia baru saja datang dari masa yang ditakuti Camar. Ia telah melihat dunia yang penuh jawaban, tetapi miskin makna. Dunia yang mampu menghitung hampir segala sesuatu, kecuali nilai sebuah pelukan, nilai kesetiaan, dan nilai doa seorang ibu yang menunggu anaknya pulang.

Ketika senja turun sepenuhnya, burung-burung memandang Muharram.

Mereka menunggu jawaban. Namun Muharram hanya menatap hilal yang kini berdiri di langit: tipis, rapuh, dan indah. Lalu ia berkata pelan:

"Kalian datang membawa banyak ketakutan." Angin bergerak perlahan di atas air.

"Tetapi selama masih ada manusia yang menengadah ke langit dan merasa takjub, aku belum kehilangan harapan."

Semua terdiam. Karena mereka tahu, dari situlah semuanya bermula. Ilmu lahir dari rasa takjub. Iman tumbuh dari rasa takjub. Peradaban bertahan karena rasa takjub. Dan ketika rasa takjub itu hilang, manusia perlahan kehilangan alasan untuk menjaga dunia.

Malam turun perlahan di atas Kalimalang. Muharram berdiri. Lalu kembali berjalan. Seperti setiap tahun. Seperti setiap abad. Meninggalkan sungai, meninggalkan burung-burung, dan meninggalkan satu pertanyaan yang akan terus mengikuti manusia ke masa depan:

Apakah kita masih mampu memandang ciptaan Tuhan dengan takjub, lalu merawatnya dengan cinta?