Konten dari Pengguna

Bukan Hanya Soal Menikah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cindi Puji Astuti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menikah. Foto: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menikah. Foto: Freepik

Beberapa waktu lalu saya bertemu seorang siswa yang mulai jarang masuk sekolah. Setelah berdiskusi dengan guru, saya mengetahui bahwa persoalannya bukan sekadar ekonomi, tetapi orang tuanya belum mampu menjalankan perannya. Pengalaman itu membuat saya berpikir: mengapa kita begitu sering bertanya "kapan menikah?", tetapi hampir tidak pernah bertanya, "sudah siapkah menjadi pasangan yang bertanggung jawab dan orang tua yang layak bagi seorang anak?"

Pernikahan sering dipahami sebagai "akhir" dari perjalanan mencari pasangan, padahal sesungguhnya keputusan ini menjadi titik awal dari perjalanan yang jauh lebih panjang. Bukan sekadar menyatukan dua orang, tetapi juga mempertemukan dua cara berpikir, dua pola asuh yang diwariskan keluarga masing-masing, dua kebiasaan, bahkan dua luka yang mungkin belum selesai. Dalam Islam, tujuan pernikahan bukan hanya membentuk ikatan yang sah, tetapi juga mewujudkan keluarga yang dipenuhi sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang) sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ar-Rum ayat 21.

Saat ada yang bertanya, "apa tujuan kamu menikah?" jawabannya tidak sesederhana "agar bahagia" atau "karena ibadah". Dalam Islam, menikah memang merupakan ibadah jika dijalankan sesuai tuntunan dan diniatkan karena Allah. Namun, akad nikah itu sendiri bukanlah jaminan bahwa seseorang otomatis sedang beribadah. Justru bagaimana seseorang memperlakukan pasangan, mendidik anak, memenuhi hak dan kewajiban, serta menjaga amanah keluarga itulah yang menjadi bentuk ibadah sehari-hari.

Menikah bukan sekadar mengikuti tuntutan usia atau tekanan sosial, melainkan kesiapan memikul amanah.

Pengalaman ketika melihat seorang anak yang tidak bersekolah karena orang tuanya belum menjalankan perannya menjadi pengingat bahwa keputusan menikah tidak hanya berdampak pada dua orang dewasa. Ada kehidupan lain yang akan lahir dan tumbuh dari keputusan tersebut. Anak tidak memilih dilahirkan, tetapi orang tualah yang memilih untuk menghadirkan mereka ke dunia. Maka, tanggung jawab terbesar setelah menikah bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik anak, melainkan memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang aman, dicintai, didengar, dan didampingi.

Sayangnya, banyak orang mempersiapkan pesta pernikahan selama berbulan-bulan, tetapi hanya sedikit yang mempersiapkan diri menjadi pasangan dan orang tua. Padahal, menjadi ayah atau ibu bukan kemampuan yang muncul otomatis setelah memiliki anak.

Mengasuh membutuhkan pengetahuan, kematangan emosi, komunikasi yang sehat, kemampuan menyelesaikan konflik, dan kesediaan terus belajar. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa regulasi emosi orang tua dan kualitas komunikasi dalam keluarga berpengaruh terhadap perkembangan psikologis anak, kualitas pengasuhan, serta kesehatan mental remaja.

Menikah bukan solusi atas kesepian, bukan pelarian dari tekanan keluarga, bukan pula cara agar hidup terlihat "lengkap".

Jika masalah pribadi belum selesai, sering kali masalah itu justru ikut masuk ke dalam rumah tangga. Pernikahan tidak menghapus luka, melainkan memperlihatkan luka yang selama ini tersembunyi.

Ilustrasi bertanya. Foto: freepik

Pertanyaan yang lebih penting bukanlah "Kapan menikah?", tetapi "Sudah siapkah aku menjadi pasangan yang sehat? Sudah siapkah aku menjadi tempat yang aman bagi anak-anak yang mungkin Allah titipkan nanti?" Pada akhirnya, kualitas sebuah keluarga tidak ditentukan oleh seberapa megah pesta pernikahannya, melainkan oleh bagaimana setiap anggota keluarga bertumbuh di dalamnya. Pernikahan bukan hanya tentang menemukan orang yang tepat, tetapi tentang menjadi pribadi yang siap mengemban amanah. Karena dari keluarga yang sehat akan lahir anak-anak yang sehat secara fisik, emosional, dan sosial. Bahkan, World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa keluarga yang suportif merupakan fondasi utama bagi tumbuh kembang, kesehatan mental, dan kesejahteraan anak sepanjang kehidupannya