Kenapa Cuaca Panas Bikin Kita Gampang Kesal?

Mahasiswa Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Cindi Puji Astuti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Beberapa hari terakhir, rasanya matahari di luar sedang tidak berada pada jumlah normal. Kalau kata orang-orang di media sosial, mataharinya serasa ada sepuluh.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terbaru per Oktober 2026, cuaca panas dan kondisi kering masih berpotensi terasa dalam beberapa minggu ke depan. Bahkan wilayah Jawa Tengah mencapai 38°C
Kondisi panas dapat membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih tidak nyaman. Namun, apakah rasa gerah benar-benar berkaitan dengan cara kita mengelola emosi? Untuk memahaminya, kita perlu melihat bagaimana kondisi lingkungan berinteraksi dengan tubuh dan psikologis manusia.
Mengapa Hal Kecil Jadi Terasa Menyebalkan?
Dalam psikologi lingkungan, panas bukan sekadar persoalan cuaca. Kondisi lingkungan juga dapat mempengaruhi pikiran, emosi, dan perilaku manusia. Suhu yang terlalu panas dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan membuat aktivitas terasa lebih melelahkan.
Lalu, mengapa kondisi ini bisa membuat kita lebih mudah kesal?
Tubuh harus bekerja lebih keras. Saat suhu lingkungan meningkat, tubuh berusaha mempertahankan suhu internalnya. Berkeringat, merasa haus, dan kelelahan dapat membuat kita semakin tidak nyaman, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Kesabaran terasa lebih terkuras. Ketika sudah lelah dan gerah, menghadapi kemacetan, kebisingan, atau antrean panjang bisa terasa semakin menjengkelkan. Bukan berarti kita pasti marah, tetapi ketidaknyamanan yang menumpuk dapat membuat situasi terasa lebih sulit dihadapi.
Gangguan tambahan terasa makin mengusik. Saat sudah merasa gerah dan lelah, kita masih harus menghadapi rangsangan lain, seperti suara klakson, atau percakapan yang datang ketika sedang ingin beristirahat. Dalam kondisi tertentu, hal-hal tersebut bisa terasa lebih mengganggu daripada biasanya.
Panas merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi emosi, bukan penyebab tunggal kemarahan.
Tidak Semua Orang Merasakan Panas dengan Cara yang Sama
Pernah melihat teman tetap santai saat cuaca panas, sementara kamu merasa ingin marah karena gerah? Padahal, kalian berada di tempat yang sama.
Respons terhadap lingkungan tidak selalu sama. Seseorang yang baru selesai beraktivitas seharian mungkin merasakan ketidaknyamanan yang berbeda dari orang yang sedang bersantai di ruangan sejuk.
Dalam perspektif transaksional psikologi lingkungan, manusia dan lingkungan saling memengaruhi. Lingkungan dapat memengaruhi kenyamanan dan perilaku kita, tetapi kita juga dapat menyesuaikan diri atau mengubah lingkungan untuk mengurangi ketidaknyamanan.
Contohnya, ketika cuaca terasa panas, kita bisa mencari tempat teduh, beristirahat sejenak, atau memilih waktu beraktivitas yang lebih nyaman. Di tingkat lingkungan, ventilasi yang baik dan ketersediaan ruang terbuka hijau juga dapat membantu menciptakan kondisi yang lebih nyaman.
Jadi, respons terhadap panas tidak bisa dilepaskan dari kondisi individu, situasi yang dihadapi, dan lingkungan tempat seseorang beraktivitas. Orang yang terlihat kesal belum tentu memiliki sifat pemarah. Bisa jadi, ia sedang menghadapi beberapa sumber ketidaknyamanan sekaligus.
Apa yang Bisa Dilakukan Ketika Cuaca Panas Agar tidak Mudah Kesal?
Ketika tubuh mulai terasa tidak nyaman, kita bisa melakukan beberapa langkah:
Kenali kondisi diri. Coba periksa apakah kamu sedang kesal karena suatu masalah atau justru sedang lelah dan kepanasan.
Kurangi ketidaknyamanan fisik. Cari tempat teduh atau ruangan yang lebih sejuk, minum air yang cukup, dan sesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca.
Beri jeda sebelum merespons. Jika mulai mudah tersinggung, ambil jeda sejenak sebelum menjawab atau menanggapi orang lain. Kamu bisa mengatakan, “Bentar, ya. Gue mau cari tempat adem dulu. Nanti kita ngobrol lagi.”
Ciptakan lingkungan yang lebih nyaman. Ventilasi yang baik, tempat berteduh, akses air minum, dan ruang terbuka hijau dapat membantu mengurangi paparan panas dan meningkatkan kenyamanan.
Langkah-langkah ini bukan jaminan bahwa kita tidak akan merasa kesal. Tujuannya adalah mengenali ketidaknyamanan lebih awal dan memilih respons yang lebih sesuai dengan situasi.
Jadi, kalau belakangan ini kamu merasa lebih mudah kesal saat cuaca panas, jangan buru-buru melabeli diri sendiri atau orang lain sebagai pemarah. Coba periksa juga kondisi tubuh dan lingkungan sekitar.
Sebab, menjaga emosi bukan berarti harus selalu sabar dalam segala keadaan. Kadang, kita hanya perlu minum, mencari tempat teduh, dan memberi diri sendiri sedikit waktu untuk kembali nyaman.
