Konten dari Pengguna

Dampak Silent Treatment dalam Hubungan: Perlakuan Diam Menyakitkan

Cinta Hana Kamilah

Cinta Hana Kamilah

Mahasiswa PGSD Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cinta Hana Kamilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak kamu berada di tengah situasi di mana pasangan atau teman dekatmu tiba-tiba mendadak bungkam? Bukan cuma diam karena sibuk, tapi benar-benar menutup komunikasi total. Chat dibiarkan centang dua abu-abu berhari-hari, kalau ketemu pura-pura nggak lihat, dan setiap usaha kita buat mencairkan suasana malah dibalas dengan tatapan dingin atau diabaikan begitu saja. Rasanya pasti sesak, kan?

Ilustrasi pasangan yang sedang silent treatment. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pasangan yang sedang silent treatment. Foto: Shutterstock

Di luar sana, banyak yang menganggap silent treatment cuma sekadar ngambek biasa atau cara untuk cari ketenangan sementara (cooling down). Padahal, kalau kita bedah dari sudut pandang psikologi, perlakuan ini jauh lebih berbahaya dari sekadar benturan argumen biasa. Yuk, kita ngobrol santai sambil bedah fenomena ini lewat kacamata teori komunikasi dan psikologi! Ketika Diam Menjadi Senjata Kalau ngobrolin silent treatment, kita sebenarnya sedang membicarakan bentuk komunikasi pasif-agresif. Alih-alih menyelesaikan masalah secara dewasa—duduk bareng, ngobrol, lalu cari solusi—salah satu pihak justru memilih untuk melarikan diri lewat dinding keheningan. Dalam Teori Kebutuhan Fundamental (Fundamental Interpersonal Relations Orientation - FIRO) yang digagas oleh William Schutz, manusia pada dasarnya punya tiga kebutuhan sosial yang mendasar dalam berhubungan.

  • Inklusi, yaitu kebutuhan untuk merasa dilibatkan dan menjadi bagian dari suatu kelompok atau hubungan.

  • Kontrol, yaitu kebutuhan untuk memiliki pengaruh dan tanggung jawab dalam situasi sosial.

  • Afeksi, yaitu kebutuhan untuk merasa dicintai dan disayangi secara emosional.

Nah, ketika seseorang melakukan silent treatment, mereka sedang memutus ketiga kebutuhan dasar tersebut secara sepihak. Kamu tiba-arha di-exclude (dikeluarkan dari ruang komunikasi), kehilangan kendali atas situasi karena nggak tahu harus berbuat apa, dan yang paling parah, kebutuhan afeksimu dihantam oleh penolakan emosional yang kejam. Kenapa Sih Orang Suka Melakukan Ini? Kalau dipikir-pikir pakai Teori Keterikatan (Attachment Theory) oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth, pelaku silent treatment biasanya punya tipe keterikatan menghindar (avoidant attachment). Buat mereka yang punya pola pikir ini, konflik adalah ancaman yang menakutkan. Otak mereka merespons stres dengan cara fight, flight, or freeze—dan pilihan mereka adalah flight (lari). Alih-alih menghadapi emosi yang rumit, mereka memilih menutup diri karena merasa itu adalah cara paling aman untuk melindungi diri sendiri. Masalahnya, perlindungan diri buat mereka ini justru jadi bentuk penyiksaan psikologis buat orang di sekitarnya.

Ilustrasi orang yang sedang memeluk dirinya sendiri. Foto: iStock

Luka yang Nggak Kelihatan tapi Nyata Buat kamu yang pernah jadi korban, pasti paham rasanya tersiksa secara batin. Ini bukan cuma perasaan sedih karena dikacangin, tapi secara biologis, otak kita memang merespons pengucilan sosial dengan cara yang sangat ekstrem. Berdasarkan penelitian neurosains yang kerap dikaitkan dengan Teori Pengolahan Nyeri Sosial (Social Pain Theory), area otak yang aktif saat seseorang mengalami silent treatment ternyata mirip banget dengan area otak yang merespons rasa sakit fisik. Jadi, wajar banget kalau dada terasa sesak, kepala pusing, dan energi terkuras habis waktu diabaikan orang terdekat. Rasanya tuh kayak lagi dihukum secara sosial tanpa tahu apa kesalahan kita. Cara Keluar dari Lingkaran Keheningan Menghadapi silent treatment memang butuh kesabaran ekstra. Kalau kamu atau orang terdekatmu sedang terjebak dalam siklus ini, beberapa langkah ini bisa dicoba.

  • Beri ruang, tapi buat batasan waktu.

  • Alihkan fokus pada diri sendiri.

Ilustrasi orang yang sedang sibuk. Foto: Pexels/Pavel Danilyuk
  • Ajak komunikasi asertif

Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang paling jago mendiamkan pihak lain saat marah, tapi tentang bagaimana dua kepala bisa duduk bersama dan meredam ego demi mencari jalan keluar. Karena komunikasi adalah napas dari sebuah relasi—kalau napasnya dihentikan, hubungannya pasti akan mati perlahan.

Ilustrasi orang sedang berkomunikasi. Foto: DepositPhotos

Gimana, pernah nggak ngalamin situasi di mana keheningan justru terasa jauh lebih menusuk daripada teriakan?