Ekspektasi Adalah Sumber Kekecewaan: Seni Berdamai dengan Realita

Mahasiswa PGSD Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Cinta Hana Kamilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah kamu merasa sangat kecewa pada seseorang, padahal orang tersebut sebenarnya tidak berniat jahat atau merugikanmu? Kalau kita renungkan kembali, akar dari rasa sakit hati tersebut sering kali bukan terletak pada tindakan orang lain, melainkan pada bayangan sempurna yang telanjur kita ciptakan sendiri di dalam kepala. Fenomena ini ternyata bukan sekadar curhatan belaka, melainkan sebuah pola psikologis yang sangat nyata. Dalam dunia psikologi, konsep ini sering dikaitkan dengan Expectancy Violation Theory yang dipelopori oleh Judee Burgoon, serta berbagai literatur tentang Expectation Gap (selisih antara harapan dan realita). Intinya sangat sederhana namun sering kita lupakan, besar kecilnya kekecewaan seseorang berbanding lurus dengan seberapa tinggi ekspektasi yang ia taruh di awal. Mari kita ambil contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan kamu memesan sebuah hidangan penutup secara online. Di aplikasi, foto kue tersebut tampak begitu megah dengan lapisan cokelat tebal dan stroberi segar di atasnya. Ketika pesanan itu tiba di rumah, tampilannya jauh lebih sederhana dan porsinya lebih kecil. Padahal, saat kamu mencicipinya, rasanya sebenarnya cukup enak. Namun, kamu tetap merasa kecewa berat. Kenapa? Karena ekspektasimu sudah melambung tinggi sebelum makanan itu bahkan menyentuh lidahmu. Ketika Teori Bertemu dengan Realita Hubungan Sosial Dinamika yang sama juga sangat kuat terjadi dalam ranah hubungan sosial, baik itu pertemanan, percintaan, maupun dunia kerja profesional.
Dalam Pertemanan

Kita sering berasumsi bahwa sahabat sejati harus selalu ada 24 jam saat kita butuhkan. Ketika suatu hari mereka sedang sibuk dengan masalahnya sendiri dan tidak bisa membalas pesanmu, kita langsung merasa dikhianati. Padahal, mereka hanya sedang menjalani kehidupan mereka sebagai manusia biasa.
Dalam Percintaan
Banyak hubungan yang merenggang bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena pasangan saling menuntut untuk menjadi penyelamat, pembaca pikiran, atau figur ideal yang persis seperti di dalam film romantis.
Dalam Dunia Kerja
Memasuki lingkungan kerja baru dengan ekspektasi bahwa semua rekan kerja akan bersikap suportif dan ideal sering kali berujung pada kekecewaan mental ketika kita berhadapan dengan politik kantor yang pelik. Cara Keluar dari Jebakan Ekspektasi Bukannya kita dilarang untuk memiliki harapan sama sekali, sebab hidup tanpa impian tentu akan terasa hambar dan kehilangan arah. Namun, kunci agar kita tidak mudah merasa patah hati adalah dengan melatih fleksibilitas mental melalui beberapa langkah praktis berikut.
Alih-alih menuntut orang lain untuk bersikap sempurna sesuai skenario di kepalamu, mulailah menghargai setiap hal kecil dan ketulusan yang mereka tunjukkan kepadamu.
Jangan pernah berharap orang lain bisa membaca pikiranmu. Sering kali, seseorang mengecewakanmu bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka benar-benar tidak tahu apa yang kamu harapkan dari mereka.
Ingatlah bahwa kamu tidak memiliki kekuatan untuk mengatur bagaimana orang lain harus bersikap atau memperlakukanmu. Satu-satunya hal yang 100% berada di bawah kendalimu adalah bagaimana caramu merespons situasi tersebut.
Jadi, mulai hari ini, yuk kurangi kebiasaan berasumsi dan berandai-andai terlalu tinggi. Belajarlah untuk menerima orang lain dan setiap situasi apa adanya.
