Konten dari Pengguna

Hubungan Jam Tidur yang Cukup Terhadap Pertumbuhan Kognitif Anak

Cinta Hana Kamilah

Cinta Hana Kamilah

Mahasiswa PGSD Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cinta Hana Kamilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak belajar hingga malam hari. Foto: Pexels/Suki Lee
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak belajar hingga malam hari. Foto: Pexels/Suki Lee

Pernahkah Anda melihat anak kelas 3 SD yang tampak mengantuk berat di kelas pukul 8 pagi, tapi orang tuanya justru bangga karena semalam sang anak baru tidur jam 11 demi menyelesaikan soal matematika? Di era modern ini, kita kerap salah kaprah. Lembur belajar dan jadwal les yang padat dianggap sebagai simbol kesuksesan masa depan. Padahal, tanpa disadari, kita sedang merusak masa depan kognitif mereka secara perlahan.

Saat Kepala Anak Berubah Menjadi Pabrik Memori Banyak orang mengira tidur hanyalah cara tubuh mematikan mesin setelah lelah beraktivitas seharian. Padahal bagi anak usia 6 sampai 12 tahun, malam hari adalah jam kerja paling sibuk di dalam kepala mereka. Ilmu neurosains membuktikan bahwa tidur gelombang lambat (slow-wave sleep) adalah momen di mana otak memindahkan memori belajar seharian dari kotak masuk sementara (hippocampus) ke penyimpanan jangka panjang (neocortex). Jika anak kurang tidur—yang standar idealnya adalah 8 hingga 11 jam semalam—proses transfer data ini terputus di tengah jalan. Akibatnya wajar jika rumus matematika atau kosakata baru yang dihafal semalam menguap begitu saja keesokan harinya. Otak mereka bukan tidak mampu, melainkan kehilangan ruang simpan.

Kurang tidur kronis pada anak juga memicu dampak nyata yang sering disalahartikan sebagai sifat nakal, antara lain:

  • Anak jadi lebih gampang ngambek, menangis, atau frustrasi di sekolah karena otaknya gagal mengatur emosi.

  • Gejalanya mirip dengan ADHD, di mana anak sama sekali tidak bisa duduk tenang dan mendengarkan penjelasan guru.

  • Kemampuan mereka untuk berpikir out of the box dan memecahkan masalah sehari-hari menurun drastis.

Belajar Lebih Lama tapi Otak Makin Tumpul

Ada satu ironi besar yang sering dilakukan orang tua, yaitu mengurangi jam tidur anak agar mereka punya waktu lebih banyak untuk belajar. Berdasarkan data psikologi kognitif, cara ini justru melahirkan efek bumerang. Otak yang kelelahan akibat kurang tidur akan mengalami penurunan kecepatan berpikir (processing speed). Anak mungkin duduk di meja belajar selama tiga jam penuh di malam hari, tetapi efektivitas otaknya hanya bekerja di angka 30% karena mengantuk. Sebaliknya, anak yang tidurnya cukup mungkin belajar dalam durasi lebih singkat, tetapi daya tangkap dan ketajamannya berada di level maksimal. Selain itu, kurang tidur memaksa tubuh memproduksi hormon stres kortisol secara berlebihan. Alih-alih menjadi anak yang cerdas dan ceria, otak mereka justru terjebak dalam mode bertahan hidup yang gampang cemas dan kelelahan.

Ilustrasi anak sedang tidur. Foto: iStock

Sudah saatnya kita berhenti mengukur kecerdasan anak dari seberapa malam lampu kamar mereka menyala. Prestasi sejati tidak lahir dari mata panda dan tubuh yang kelelahan. Tidur yang cukup bukanlah sebuah hadiah yang bisa dicabut kapan saja saat tugas sekolah menumpuk, tidur adalah hak asasi neurologis anak. Jika kita benar-benar ingin melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kreatif, dan bermental tangguh, solusinya sangat sederhana matikan gawai, matikan lampu kamar, dan biarkan anak-anak kita tidur nyenyak.