Konten dari Pengguna

Menakar Perilaku Konsumtif Gen Z dan Jebakan Belanja Online di Era Digital

Cinta Hana Kamilah

Cinta Hana Kamilah

Mahasiswa PGSD Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cinta Hana Kamilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hanya dengan beberapa ketukan jari di atas layar ponsel, secangkir kopi estetik, pakaian keluaran terbaru, hingga gawai canggih bisa langsung mendarat di depan pintu rumah. Kemudahan ini telah mengubah lanskap gaya hidup masyarakat secara drastis, terutama bagi generasi yang tumbuh bersama internet: Generasi Z (Gen Z).

Ilustrasi remaja Generasi Z. Foto: Adobe Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi remaja Generasi Z. Foto: Adobe Stock

Lahir di rentang tahun 1997 hingga 2012, kelompok usia yang kini berada di kisaran usia belasan hingga akhir 20-an ini memegang kendali atas tren digital. Namun, di balik mobilitas digital yang tinggi dan kepraktisan e-commerce, muncul fenomena yang kian mengkhawatirkan, yaitu tingginya tingkat konsumtif akibat belanja online. Antara Kemudahan dan Pembelian Impulsif Berdasarkan berbagai riset perilaku konsumen—salah satunya oleh lembaga riset Populix—mayoritas Gen Z menghabiskan waktu berjam-jam berselancar di internet dan media sosial setiap harinya. Platform seperti TikTok, Instagram, hingga berbagai marketplace raksasa menjadi ekosistem tempat mereka beraktivitas. Kemudahan sistem pembayaran (cashless, paylater), promo gratis ongkir, hingga banjirnya diskon kilat (flash sale) menciptakan atmosfer belanja tanpa gesekan (frictionless shopping). Sayangnya, kemudahan ini kerap memicu pembelian impulsif (impulse buying). Banyak anak muda membeli barang bukan karena urgensi atau kebutuhan mendasar (need), melainkan sekadar menuruti keinginan sesaat (want) atau terbawa arus tren digital.

Ilustrasi sistem pembayaran cashless. Foto: DepositPhotos

Fenomena ini sering kali dibungkus dengan istilah psikologis populer di kalangan anak muda, seperti self-reward (penghargaan diri) setelah lelah bekerja atau belajar, yang pada akhirnya justru menggerus kesehatan finansial jangka panjang. Mengapa Gen Z Begitu Rentan? Jika dilihat dari sudut pandang sosiologi dan psikologi komunikasi, perilaku konsumtif Gen Z dalam belanja online bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Ada beberapa kerangka teoretis yang dapat menjelaskan kondisi ini.

  1. Teori Masyarakat Konsumsi (Jean Baudrillard) Teori sosiolog Prancis, Jean Baudrillard, menyatakan bahwa masyarakat modern tidak lagi mengonsumsi barang berdasarkan nilai guna (fungsi praktisnya), melainkan berdasarkan tanda, simbol, dan citra yang melekat pada barang tersebut. Bagi Gen Z, kepemilikan atas merek tertentu atau produk yang sedang viral di media sosial berfungsi sebagai pembentuk identitas digital (digital identity). Mereka membeli citra, prestise, dan pengakuan sosial di dunia maya agar merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu.

  2. Pengaruh Fear of Missing Out (FOMO) dan Influencer Culture

    Studi sosiologi digital menunjukkan bahwa algoritma media sosial dirancang untuk memicu Fear of Missing Out (FOMO)—kecemasan akan tertinggal tren. Ketika seorang influencer atau idola digital menampilkan ulasan produk secara estetik, terjadi dorongan psikologis yang kuat pada penontonnya untuk ikut memiliki. Interaksi parasosial ini membuat Gen Z lebih mudah mempercayai rekomendasi figur digital dibandingkan iklan konvensional.

Cara Menumbuhkan Kesadaran Finansial Konsumerisme digital ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, ia menggerakkan roda ekonomi digital dan mendukung UMKM, di sisi lain, ia menjebak generasi muda dalam lingkaran utang konsumtif (terutama maraknya penggunaan layanan PayLater di usia produktif awal).

Ilustrasi menggunakan ponsel dengan bijak. Fotoo: iStock

Merespons hal ini, edukasi literasi keuangan menjadi harga mati. Gen Z perlu didorong untuk menerapkan prinsip mindful consumption—berhenti sejenak sebelum menekan tombol check-out, membedakan antara kebutuhan primer dan keinginan semu, serta memanfaatkan teknologi untuk investasi masa depan alih-alih sekadar konsumsi sesaat. Sebab di era digital ini, pertahanan terkuat melawan candu belanja online bukanlah dengan menutup aplikasi, melainkan dengan memperkuat kontrol diri di tengah gempuran algoritma.