Konten dari Pengguna

Pesona Blok M: Titik Temu Kuliner dan Kenangan Masa Lalu

Cinta Hana Kamilah

Cinta Hana Kamilah

Mahasiswa PGSD Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cinta Hana Kamilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana pengunjung di Kawasan Blok M Square. Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana pengunjung di Kawasan Blok M Square. Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

Jika Jakarta punya jantung yang tidak pernah berhenti berdetak, namanya adalah Blok M. Kawasan di Jakarta Selatan ini bukan sekadar sebuah wilayah administratif atau titik transit perjalanan. Lebih dari itu, Blok M adalah sebuah kepingan sejarah yang hidup—tempat di mana memori kejayaan masa lalu berpadu harmonis dengan energi kreatif kaum muda hari ini. Bagi generasi era 80-an hingga 90-an, Blok M adalah kiblat fesyen, tempat nongkrong paling bergengsi, hingga latar cerita film-film ikonik. Sempat mengalami masa-masa redup ketika pusat perbelanjaan modern baru bermunculan di penjuru ibu kota, kawasan ini membuktikan bahwa sebuah legenda sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya beristirahat sejenak untuk berdandan ulang.

Ketika Masa Lalu Bertemu Masa Kini

Transformasi Blok M dalam beberapa tahun terakhir terasa begitu magis. Berkat integrasi transportasi massal yang masif—mulai dari MRT Jakarta, jejaring bus kota, hingga pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD) seperti Blok M Hub—akses menuju tempat ini menjadi sangat mudah.

Ilustrasi MRT Jakarta. Foto: iStock

Kawasan yang dulunya identik dengan kemacetan terminal kini disulap menjadi ruang publik yang ramah pejalan kaki. Tengok saja Taman Literasi Martha Tiahahu, sebuah oase hijau di tengah beton kota yang mempertemukan para pencinta buku, pebisnis muda, hingga keluarga dalam satu ruang santai yang estetis. Tak jauh dari sana, M Bloc Space berdiri sebagai simbol kebangkitan ekonomi kreatif. Menyulap bekas gudang Perum Peruri menjadi ruang seni, panggung musik independen, dan gerai jenama lokal, tempat ini menjelma menjadi rumah kedua bagi komunitas kreatif ibu kota.

Ilustrasi Taman Literasi Martha Tiahahu. Foto: Shutterstock

Surga Kuliner Lintas Generasi

Berbicara tentang Blok M tidak lengkap rasanya tanpa membahas daya tarik kulinernya yang seolah tidak ada habisnya. Kawasan ini adalah panggung perjumpaan rasa lintas zaman.

  • Nuansa Little Tokyo di Melawai Deretan restoran autentik Jepang, kedai sake, hingga aroma panggangan yakitori masih menjadi magnet kuat bagi pencinta kuliner malam.

  • Jajanan Legendaris hingga Tren Kekinian Mulai dari nikmatnya gulai tikungan (gultik) yang setia menemani malam warga Jakarta, hingga deretan kafe

    artisan bakery, kedai ramen, dan dessert shop viral yang selalu dipadati antrean panjang di akhir pekan.

Ilustrasi gulai tikungan Blok M. Foto: Shutterstock

Destinasi Tanpa Batas Waktu

Blok M telah berhasil meruntuhkan batasan generasi. Orang tua bernostalgia lewat deretan toko buku lama dan memori masa muda mereka, sementara Gen Z dan kaum milenial datang mencari estetika visual, ruang kolaborasi, dan gaya hidup urban yang dinamis. Blok M bukan lagi sekadar tempat singgah untuk berpindah moda transportasi. Ia adalah destinasi, sebuah ruang hidup yang merayakan seni, kuliner, dan kebersamaan. Di sinilah denyut nadi Jakarta terasa paling jujur, hangat, sibuk, kreatif, dan selalu merangkul siapa saja yang datang berkunjung.