Konten dari Pengguna

Seni Berkelahi dengan Waktu: Kenapa Kita Selalu Nunggu Mepet Deadline?

Cinta Hana Kamilah

Cinta Hana Kamilah

Mahasiswa PGSD Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cinta Hana Kamilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih, kamu ngeliat kalender atau deadline tugas yang sebenarnya sudah dikasih tahu dari tiga minggu lalu? Di minggu pertama, kamu santai. Di minggu kedua, kamu masih bilang, "Ah, masih lama, besok-besok aja." Masuk minggu ketiga, tiba-tiba sisa waktu tinggal beberapa jam lagi, kamar udah berantakan, kopi udah habis tiga gelas, dan jari-jari kamu ngebut ngetik bagai kesurupan.

Ilustrasi orang sedang mengetik. Foto: Pngtree
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang sedang mengetik. Foto: Pngtree

Lucunya, setelah semua drama jantung berdegup kencang itu selesai, tugasnya beres juga. Terus, alih-alih tobat, minggu depannya kamu mengulang siklus yang sama persis. Kenapa sih kita suka banget cari penyakit dengan sengaja menunda pekerjaan sampai detik-detik terakhir? Menyelami Isi Kepala Deadline Procrastinator Buat sebagian orang, menunda bukan sekadar malas. Ada sensasi aneh yang bikin nagih saat kita berhasil menyelesaikan sesuatu di bawah tekanan ekstrem (under pressure). Kalau dalam ilmu psikologi, kebiasaan ini sering dibagi menjadi beberapa istilah menarik. Pertama, ada yang namanya Arousal Procrastination (atau active procrastinator). Berbeda dengan penunda pada umumnya yang lumpuh karena cemas, tipe ini justru sengaja menunda karena mereka merasa butuh rush atau suntikan adrenalin. Otak mereka baru bisa nyala, fokus, dan dapet ide-ide cemerlang pas situasi udah darurat. Tanpa ancaman deadline di depan mata, otak mereka terasa lemot dan kurang greget.

Ilustrasi orang sedang fokus. Foto: DepositPhotos

Kedua, fenomena ini juga dijelaskan lewat Temporal Motivation Theory (TMT). Teori ini menggabungkan beberapa konsep psikologi untuk ngebaca gimana manusia memandang waktu dan nilai sebuah tugas. Rumusnya sederhana, motivasi kita sangat dipengaruhi oleh seberapa dekat waktu penyelesaian dengan reward atau hukuman yang bakal diterima. Kalau deadline masih dua minggu lagi, nilai urgensinya di mata otak kita itu kecil banget—alias masih aman. Tapi, pas deadline sisa tiga jam, nilai ancamannya melonjak drastis jadi 100%. Lonjakan nilai inilah yang akhirnya memicu ledakan energi instan buat kita langsung gercep ngerjain semuanya. Sisi Gelap Si Adrenalin Dadakan Masalahnya, walau sesekali trik sistem kebut semalam ini sukses bikin kita selamat dari lubang jarum, metode ini mahal banget harganya buat mental.

Secara psikologis, tubuh kita dirancang buat menghadapi stres dalam jangka pendek (fight or flight). Kalau kita terus-menerus memaksa otak memproduksi hormon stres demi ngejar deadline, lama-lama sistem saraf kita kelelahan. Ini yang bikin kita gampang kena burnout, cemas berlebihan, atau ngerasa kualitas kerjaan sebenarnya nggak sebagus kalau dikerjakan dengan kepala dingin.

Ilustrasi orang yang sedang stres. Foto: Unsplash/Elisa Ventur

Jadi, kalau kamu tipe orang yang hobi berkelahi sama waktu, coba deh mulai kenali pola pikirmu. Kadang, kita bukan nggak mampu ngerjain lebih awal, tapi kita lagi kecanduan sama sensasi deg-degan itu sendiri.

Yuk, coba cicil sedikit demi sedikit sebelum badan kita beneran tumbang karena terlalu sering diajak kerja rodi di detik terakhir!