Terjebak di Usia Rawan: Membedah Quarter Life Crisis

Mahasiswa PGSD Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Cinta Hana Kamilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Aku mau cerita sesuatu yang mungkin kamu juga pernah rasakan. Suatu malam, aku lagi rebahan, scroll media sosial sambil nunggu kantuk datang. Terus, tiba-tiba layar hp-ku dipenuhi kabar teman lama, yang satu baru aja diangkat jadi manajer, yang satu lagi upload foto DP rumah pertamanya, satu lagi malah udah posting foto lamaran. Aku taruh hp-ku, terus mikir, "Lah, aku ngapain aja selama ini?"

Kalau kamu pernah ada di momen kayak gitu — cemas tiba-tiba, ngerasa ketinggalan, terus nanya ke diri sendiri "sebenarnya arah hidupku ini ke mana sih?" — aku mau bilang, kamu nggak sendirian. Dan ternyata, ada nama buat perasaan ini, quarter-life crisis, atau krisis seperempat abad. Apa Kata Teori Psikologi?
Awalnya aku pikir ini cuma istilah kekinian yang dibikin biar keliatan estetik di caption Instagram. Ternyata nggak. Istilah ini pertama kali dipopulerkan tahun 2001 oleh dua sosiolog, Abby Wilner dan Alexandra Robbins. Mereka bilang, ini adalah periode penuh kecemasan dan keraguan yang biasanya menghantam orang-orang usia 18 sampai 25 tahun — kadang sampai awal 30-an — soal karier, jati diri, percintaan, sampai uang. Terus aku coba gali lebih dalam, ternyata psikolog kondang Erik Erikson juga udah meramalkan fase ini lewat teorinya. Katanya, di rentang usia ini kita lagi ada di tahap "Identity vs. Role Confusion" — semacam pertarungan batin antara nemuin jati diri atau malah makin bingung sama peran kita — yang nanti berlanjut ke tahap "Intimacy vs. Isolation". Intinya, di fase ini kita dipaksa alam semesta untuk jawab dua pertanyaan paling menyeramkan, "Aku ini siapa?" dan "Aku mau jadi apa?" Dan kalau kita belum nemu jawabannya, sementara orang-orang di sekitar udah kayak nemu jalan masing-masing, rasanya ya remuk aja gitu.
Kenapa Ya, Kok Berasa Berat Banget?
Pertama, jebakan perbandingan di media sosial. Setiap buka linimasa, yang keliatan cuma sorotan terbaik hidup orang lain — promosi jabatan, nikah, beli rumah. Padahal kita nggak pernah liat di balik layar mereka, utang cicilan, drama kantor, atau malam-malam mereka yang juga insecure kayak kita. Ini yang bikin FOMO makin menjadi, dan kita ngerasa gagal total cuma karena jalan kita beda.
Kedua, keadaan ekonomi yang emang lagi nggak gampang. Beda sama generasi orang tua kita dulu, sekarang cari kerja makin ketat saingannya, harga rumah makin nggak masuk akal, belum lagi banyak dari kita yang kerja nggak sesuai jurusan alias underemployment. Ketidakpastian soal uang ini jadi bahan bakar utama yang bikin krisis mental di usia 20-an makin panas.
Terus, Gimana Cara Keluarnya?
Kabar baiknya, kata psikolog klinis, quarter-life crisis ini bukan gangguan jiwa yang berbahaya. Ini justru krisis yang konstruktif — sinyal kalau kamu lagi bertumbuh, bukan lagi rusak. Beberapa hal ini yang bisa dicoba, dan aku sendiri lagi belajar ngelakuinnya juga.
Belajar menerima ketidakpastian. Hidup itu bukan rumus matematika yang hasilnya pasti. Gagal di usia 20-an bukan berarti hidupmu tamat.
Kurangi bandingin diri sama orang lain. Coba deh sesekali taruh hp-mu, dan alihkan fokus dari pencapaian orang lain ke progres kecil kamu sendiri hari ini.
Ubah keraguan jadi aksi kecil. Overthinking itu biasanya lahir karena kebanyakan mikir tapi nggak gerak. Coba mulai dari yang kecil — ikut kursus singkat, benerin CV, atau sekadar beresin kamar.
Jangan ragu cari bantuan profesional. Kalau kecemasan udah mulai ganggu tidur, produktivitas, apalagi sampai bikin kamu depresi, temui psikolog atau konselor itu bukan tanda lemah, justru tanda kamu peduli sama dirimu sendiri.
Kalau sekarang kamu lagi ada di fase ini, aku mau bilang — itu artinya kamu peduli sama masa depanmu sendiri. Badai ini pasti berlalu. Dan aku percaya, di ujung jalan nanti, kamu bakal ketemu versi dirimu yang jauh lebih tangguh dari sekarang.
