5 Puisi Cinta Paling Romantis Sepanjang Sejarah

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Segala tentang cinta selalu menarik untuk dibicarakan. Jelas saja, anugerah bahagia tersebut mampu dirasakan oleh setiap manusia. Bahkan, para penyair sejak jaman dahulu memuji dan merayu orang yang dicintai melalui puisi. Tak heran, jika seorang pria menyatakan cinta lewat puisi dianggap romantis. Classical Poets merangkum 5 puisi cinta paling romantis sepanjang sejarah.
“Since There’s No Help,” oleh Michael Drayton (1563-1631)
Saat Drayton menulis puisi ini ketika dia telah sampai pada akhir sebuah perselingkuhan. Dia mulai dengan kalimat yang menunjukkan ketidakpedulian dan keikhlasan. “...... kamu tidak mendapatkan apapun lagi dariku."
Tetapi, ini tidak bertahan lama. Pada enam garis terakhir, ia menunjukkan perasaan yang sebenarnya, dengan serangkaian personifikasi sosok-sosok cinta, gairah, keyakinan, dan kepolosan yang sekarat. Menurut Drayton, ini semua dapat diselamatkan dengan kebaikan sang wanita.
“Love,” oleh Samuel Taylor Coleridge (1772-1834)
Coleridge memiliki upaya berani untuk merayu lewat serangkaian karyanya. Khusus dalam puisi ini, sang pencinta berusaha untuk mendapatkan keinginannya dengan menarik emosi lembut dari objeknya.
Dia menyanyikan sebuah lagu tentang hari-hari kesatria, di mana seorang ksatria menyelamatkan seorang wanita dari "kemarahan yang paling buruk dari kematian", kemudian terluka dan akhirnya mati di pelukannya. Coleridge benar-benar mampu menceritakan kisah romantis, apapun motif tersembunyinya.
“A Red, Red Rose,” oleh Robert Burns (1759-1796)
Selain puisi “Auld Lang Syne” yang terkenal, Burns mampu menyatakan perasaan yang sederhana lewat puisi lainnya ini. “Betapa indah dan menyenangkannya cintaku,” katanya. “Kamu sangat cantik, bahkan aku akan mencintaimu sampai akhir zaman. Dan meskipun kita berpisah sekarang, aku akan kembali, apapun yang terjadi.”
Semua ini diekspresikan dalam metafora yang luar biasa, "Dan aku akan tetap mencintaimu, sayangku, / Sampai sang lautan mengering". Puisi ini tiada tandingannya dengan jeritan sederhana seorang pemuda yang tidak mengenal batas untuk mencintai.
“Annabell Lee,” oleh Edgar Allan Poe (1809-1849)
Poe menunjukkan bakatnya yang luar biasa dalam memanipulasi bunyi bahasa di sini, dan mungkin puisinya yang paling terkenal setelah "The Raven". Cerita dalam puisi ini merupakan favorit bagi dirinya sendiri.
Cerita tentang kematian tragis seorang gadis cantik yang dicintai, meninggal setelah kerabat yang berasal dari bangsawan memisahkannya dari sang kekasih. “Karena bulan tidak pernah bersinar tanpa membawakanku mimpi / Tentang Annabel Lee yang cantik / Dan bintang tidak pernah terbit, tapi aku merasakan mata yang cerah.”
“Bright Star,” oleh John Keats (1795-1821)
Keats menghadirkan sensualitas yang luar biasa pada karyanya. Tetapi, delapan baris pertama bukanlah tentang cinta atau kehidupan manusia. Keats memandang bintang dan alam semesta yang dipersonifikasikan.
Keats dalam puisinya menginginkan untuk tinggal selamanya dengan kekasih, atau sampai mati. Keats membuka keintiman para pecinta dengan pemandangan alam semesta di langit dan bumi, seperti potongan “Bintang yang cerah, apakah aku akan tegar seperti dirimu / Tidak dalam kemegahan tunggal yang menggantung tinggi di malam hari.”
