Aku Menemukan Istriku Bersama Pria Lain di Ranjang Kami

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi
Aku dan Paula menikah karena keterpaksaan. Sebenarnya Paula yang terpaksa menerimaku untuk menikahinya karena saat itu dia sedang patah hati dan aku berusaha untuk menenangkannya. Mulanya aku merasa kalau dia mulai mencintaiku karena dia menerima lamaranku tanpa perlu berpikir panjang.
Kami menikah dan pindah ke sebuah rumah besar yang kubeli dengan susah payah untuk membuatnya bahagia. Pertama kali kami pindah dia terlihat sangat senang dan mulai mengeksplorasi setiap ruangan kemudian ia dekorasi sesuai imajinasinya. Aku senang dan membiarkannya berkreasi dengan rumah yang baru saja kubeli.
Kebetulan aku mendapatkan promosi di kantor tepat seminggu sebelum kami menikah. Aku merasa sudah bisa membahagiakannya dari segi finansial dan tidak perlu lagi bertengkar karena hal yang tidak perlu. Namun kenyataannya semua berbeda, hampir setiap hari kami memperdebatkan banyak hal sampai suatu ketika dia ingin memiliki seorang anak.
Saat mendengarnya hatiku terasa berbunga-bunga karena akan memiliki seorang anak dari wanita yang sudah kucintai sejak kuliah. Aku sangat tergila-gila pada Paula dan kami menjadi teman dekat tanpa pernah mengakui perasaanku dihadapannya sampai saat itu aku mengakui semuanya. Betapa terkejutnya aku saat dia menerima perasaanku dan mengatakan akan mencoba untuk mencintaiku.
Kupikir setelah menikah semua telah berubah dan dia sudah mencintaiku. Hari di mana anak kami lahir pun tiba aku menciumnya berkali-kali karena merasa sangat bahagia dan berterima kasih padanya. Belum genap satu bulan anak itu berada di rumah dan menjadi milik kami tetapi Paula seolah acuh terhadapnya.
Aku harus turun tangan mengurus bayi itu setelah bekerja dan melihat Paula sibuk mengurus dirinya sendiri. “Kamu harus membantuku mengurus anak ini, aku tidak bisa membagi diri bekerja di kantor sekaligus mengurusnya” ucapku sambil berusaha mendiamkan bayi itu dari tangisnya. “Tidak, aku bisa meninggalkan kalian berdua jika itu mau kamu” jawabnya, aku sangat terkejut dengan apa yang kudengar.
Baru kali ini aku tahu ada seorang ibu yang tidak mencintai bayinya. Berbulan-bulan aku harus rela menyisihkan uang untuk mempekerjakan seorang suster agar anakku dirawat dengan baik tetapi Paula tetap tidak ingin menyentuhnya. Suatu hari aku menerima kabar dari suster yang ada di rumahku kalau Paula sedang bersama pria lain di kamar kami. Ia memang sengaja kusuruh untuk memata-matai Paula saat aku tidak berada di rumah.
Mendengar kabar itu aku segera pulang tanpa membawa mobilku karena Paula sangat hapal dengan deru mesinnya. Aku memergoki mereka sedang bercinta di kamar kami dan seketika itu aku menghajar pria yang sedang bersama Paula dan mengusirnya. Paula meminta maaf hingga ia hampir bersujud di depanku. Aku memaafkannya dan kembali memberi Paula kesempatan dengan syarat dia harus mau mengurus anak kami.
Dia pun setuju dengan itu. Saat aku bercerita kepada ibuku, ia sangat tidak setuju dengan apa yang kulakukan “Paula akan kembali mengkhianatimu” ucapnya. Aku berusaha menjauhkan pikiran itu dan kembali memercayainya, Paula sudah cukup berubah karena ia mau menggendong anak kami. Aku cukup senang mendengar kabar itu dari suster yang merawat anak kami.
Dua bulan kemudian aku menyisihkan waktu untuk anakku dan Paula tidak ingin ikut karena terlalu lelah. Akhirnya aku pergi bersama anak dan susternya ke sebuah taman dan pusat perbelanjaan. Lagi-lagi aku tidak menggunakan mobil karena ingin mengenalkan transportasi umum pada anakku dan sesampainya di rumah aku kembali menemukan sebuah mobil sudah terparkir di halaman rumah.
Aku memberikan anakku ke susternya agar mereka bermain di taman dan bergegas pergi ke kamar kami. Benar saja aku menemukan Paula sedang bersama pria yang sama di ranjang kami. Kali ini aku benar-benar tidak memaafkannya dan mengusir mereka berdua dari rumahku. “Maafmu sudah tidak berharga buat aku dan anakku, sekarang silahkan kamu keluar dari rumahku dan jangan pernah menginjakkan kaki kamu di sini lagi” ucapku kemudian mengikuti mereka berjalan ke luar rumah.
Setelah berada di luar rumah aku meminta Paula untuk menungguku di teras dan selagi ia menunggu aku kembali ke kamar kami dan mengemasi semua pakaian juga barang-barangnya ke dalam koper besar milik Paula. Aku kembali keluar dengan membawa dua koper besar miliknya kemudian menyuruh Paula untuk membawa keduanya. Aku tidak ingin ia memiliki alasan untuk kembali datang ke rumahku.
Kepergian Paula membuatku sadar kalau selama ini ia tidak pernah mencintaiku. Tidak seharusnya ia menerima lamaranku di saat dia masih berusaha untuk mencintai dan tidak seharusnya dia mengorbankan anak kami untuk kepentingannya. Sekarang aku hanya memiliki putriku yang memiliki paras persis seperti Paula dan aku berjanji untuk mencintainya seumur hidupku. Aku memang tidak bisa menggenggam Paula tetapi aku memiliki anaknya, anak kami.
Sejak saat itu Paula tidak pernah datang kembali bahkan untuk sekadar bertemu dengan anaknya, padahal aku sangat berharap ia akan berjuang agar bisa bertemu dengan anaknya. Tetapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi. Aku memutuskan untuk menjual rumah itu dan pergi ke kota lain, ke tempat yang asing di mana belum ada yang mengenal kami. Aku ingin putriku hidup tanpa bayang-bayang Paula dan akan kuceritakan semuanya ketika ia sudah besar nanti.
