Konten dari Pengguna

Aku Selingkuh dari Suami dengan Mantan Kekasihku hingga Dikirimi Pelet

Cinta dan Rahasia

Cinta dan Rahasia

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. Pixabay.com/jclk8888
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Pixabay.com/jclk8888

Disclaimer: Cerita ini hanyalah karangan semata. Bila ada kesamaan nama, waktu, tempat, profesi, dan cerita itu bukan merupakan kesengajaan.

Namaku Ifi, dulu aku memiliki seorang kekasih yang entah karena apa akhirnya aku memutuskan hubunganku dengannya. Tiga bulan kemudian, aku dikenalkan seorang laki-laki oleh temanku yang kini telah menjadi suamiku. Suamiku sangat penyayang, baik, perhatian, dan tidak segan membantu pekerjaan rumah tangga jika aku merasa kesulitan.

Sejak menikah, kami tinggal di sebuah kota yang cukup jauh dari kampung halamanku. Kami menempati rumah orang tuanya yang sudah tiada beberapa bulan sebelum bertemu denganku. Di rumah itu aku merasa keluarga kami sangat harmonis, ia selalu bisa membuatku jatuh cinta padanya lagi dan lagi.

Terkadang ia masih sering memperlakukanku seperti seorang gadis yang ingin dikejar, membelikan bunga, memberikan kejutan, aku sangat bahagia saat itu. Tiga tahun menikah akhirnya aku diberikan keturunan, ia sangat menjaga aku dan bayi dalam kandunganku. Ia berubah menjadi sangat perhatian.

Selama kehamilan, aku tetap mengerjakan pekerjaan rumah tangga meski semuanya tidak kupaksakan. Jika aku sudah merasa mual atau pusing, semua aktivitas akan aku hentikan dan aku kembali tidur di kamar. Ibuku yang rajin datang menjenguk dan membantuku mengurus pekerjaan rumah tangga.

Saat itu, aku ingin sekali pergi ke supermarket dan membeli buah anggur. Aku merasa masih sanggup jika hanya pergi ke supermarket dan membelinya karena saat itu aku tidak merasa mual ataupun pusing. Aku mengeluarkan mobil dan mengendarai hingga ke supermarket terdekat. Sesampainya di sana aku memilih banyak buah segar, senang sekali rasanya bisa keluar rumah setelah satu bulan aku tidak pergi ke mana pun.

Namun, ketika sedang asyik memilih aku merasa pusing dan mual. Kemudian terjatuh dan mengeluarkan banyak darah, ada ibu-ibu yang melihatku sudah terkapar berteriak meminta pertolongan. Banyak orang yang datang dan mulai mengangkat tubuhku, aku merasa sangat lemas dan perutku sakit sekali. Aku digotong dan dilarikan ke rumah sakit.

Selama perjalanan ke rumah sakit, aku sudah tidak mengingat apa pun. Aku terbangun dan sudah berada di ranjang rumah sakit, ada suami dan ibuku yang entah dari kapan sudah menjagaku. Mereka sangat senang melihatku dan mengatakan kalau aku pingsan selama dua hari.

Hal pertama yang aku ingat adalah bayiku. Aku menanyakan bagaimana kandunganku tetapi suami dan ibuku hanya menyuruhku untuk bersabar. Aku menangis karena ternyata bayiku tidak dapat terselamatkan. Satu minggu kemudian, aku kembali ke rumah dan mulai mengurung diri.

Tidak ada yang mengurus suamiku, justru malah dia yang berbalik mengurus kebutuhanku. Ia tidak masak tetapi membeli makanan kesukaanku karena sudah dua hari aku tidak makan apa pun dan hanya minum susu. Ia selalu merawat dan menyemangatiku.

Dua bulan aku mengurung diri, akhirnya aku kembali bangkit dan berhenti menyalahkan diri sendiri. Aku sangat bersyukur memiliki suami yang tidak menghakimiku ketika aku tidak bisa menjaga bayi kami dengan baik. Ia bersikap seperti biasa seolah kehilangan anak kami itu bukan apa-apa meski aku tahu hatinya sama hancurnya sepertiku.

Ketika suamiku sedang pergi bekerja, tiba-tiba aku teringat dengan mantan kekasihku. Aku mulai mencarinya di sosial media dan mencari kontaknya dari teman-temanku karena memang kami berada dalam satu fakultas yang sama. Salah seorang teman memberikan kontaknya dan aku langsung mem-video call dirinya.

Ternyata setelah putus dariku, dia tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. Saat berbicara bersamanya aku merasa sangat nyaman sekali, seperti ABG yang baru jatuh cinta. Berulang kali aku menghubunginya saat suamiku sudah berangkat kerja dan berhenti mengirimkan pesan atau meneleponnya saat ia sudah kembali.

Sempat terpikir olehku untuk menceraikan suamiku dan kembali pada mantan kekasihku, tetapi niat itu aku urungkan. Aku bingung menjawab alasan aku menceraikannya karena memang tidak ada alasan logis yang membuatnya buruk di mataku. Ketika aku memikirkan hal itu, suamiku malah bersikap sangat manis padaku, aku jadi merasa bingung pada diriku sendiri.

Hubungan dengan mantanku terjalin cukup singkat, hanya tiga bulan. Hubungan kami terbongkar saat suami sedang menonton pertandingan bola dan aku sangat yakin dia tidak akan bangkit dari kursinya. Lalu aku mengendap-endap ke teras dan saling bertukar pesan dengan mantan kekasihku. Entah sudah berapa lama suamiku berdiri di belakangku dan membaca semua pesanku, ketika aku menoleh ia sudah melihat ke arahku dengan tatapan marah.

Kami bertengkar hebat saat itu, ia merebut ponselku dan membantingnya ke lantai. Baru pertama kali aku melihatnya marah seperti itu, sangat menyeramkan, setelah kejadian itu ia berubah menjadi dingin kepadaku. Tidak ada lagi sapaan hangat nan lembut darinya, tidur pun kami tidak berpelukan seperti biasanya.

Tiga hari kemudian, aku mendekatinya saat ia hendak tidur. Aku meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, aku menyalahkan mantanku yang sudah menggodaku. Dia percaya meski tetap memarahiku, ia bukan laki-laki yang mudah dibujuk dan dirayu. Setelah meminta maaf pun ia masih bersikap dingin kepadaku.

Hingga hari kelima ia mulai kembali bersikap seperti biasa. “Mungkin ia sudah tidak tahan tidak mengobrol denganku beberapa” pikirku, hari-hari kami berjalan seperti biasa. Ia kembali mesra dan memanjakanku lagi, tiba-tiba aku merasa mual dan lari ke kamar mandi. Suamiku menunggu di depan kamar mandi sambil membawakan teh manis hangat.

“Coba dites dulu, mungkin kali ini berhasil” katanya penuh harap. Aku memerhatikan wajahnya dan dengan semangat membawa alat tes kehamilan ke dalam kamar mandi. Setelah menunggu beberapa menit, aku meneriakkan namanya “aku hamil!” Teriakku saat sudah melihat wajahnya. Kami berpelukan dan langsung menghubungi dokter yang sebelumnya sudah mengawasi perkembangan janinku.

Bersyukur esok hari dia sedang ada jadwal praktik di rumah sakit dekat rumahku. Pagi-pagi kami sudah mendaftar di rumah sakit itu dan menjadi pasien pertama, “wow kalian semangat sekali menjadi pasien pertama saya hari ini” sapanya saat melihat wajah kami. Selain memang bersemangat, sebenarnya hari itu suamiku ada rapat penting yang tidak bisa ditinggal jadi kami harus datang beberapa jam sebelum rapat itu dimulai.

Dokter mengatakan kalau usia kehamilanku sudah masuk enam minggu dan menyuruhku untuk banyak beristirahat jika tidak ingin mengalami kejadian yang sama. Suamiku menyuruhku untuk tinggal bersama ibu dan tidak memegang pekerjaan apa pun, sedangkan dia akan mengurus rumah kami. Aku menurut, dua malam kemudian ia mengantarku ke rumah ibu dan dia hanya menginap selama dua malam.

Ketika suami sedang jauh, aku kembali memikirkan mantanku. Aku rindu sekali padanya saat itu, aku mulai meminta kontaknya kembali pada temanku dan menghubunginya lagi. “Tidak kapok memang!” Protes hatiku, tetapi bersamanya aku kembali merasakan jatuh cinta seperti layaknya anak ABG.

Aku meminta dia tidak menghubungiku lebih dulu kalau tidak mau hubungan kami berakhir lagi. Ia menurut, selama ada suamiku ia tidak menghubungi. Sebenarnya aku mencintai suamiku dan merasakan jatuh cinta yang jauh lebih indah tetapi entah kenapa saat jauh darinya justru aku malah merindukan mantanku.

Suamiku hanya data tiga kali dalam satu minggu. Ketika ia harus kembali pulang, aku merajuk memintanya untuk tinggal karena memang aku sudah merasa ada yang tidak benar dalam diriku. Aku merasa menjadi diriku sendiri saat bersama suamiku, tetapi ternyata ia tidak bisa tinggal dan berjanju akan secepatnya kembali menemuiku.

Malam itu aku bermimpi ada seorang nenek tua berwajah buruk datang menghampiriku. Ia berpakaian serba hitam dengan rambut berantakan, ia menyentuh pundakku dan mengatakan “kamu akan jadi milikku.” Aku segera bangun dan menghubungi suamiku, saat itu aku merasa sangat takut dan memilih terjaga hingga pagi hari.

Pagi hari aku menceritakan mimpiku pada ibu, ia terlihat berpikir dan menyuruhku untuk datang ke ustadz kenalannya. Ibu memberikan nomor teleponnya padaku, aku menghubungi ustadz itu dan dia meminta fotoku bersama suami. Kemudian, ia menyuruhku untuk datang bersama suami keesokan harinya.

Aku menceritakan tentang mimpi dan saran ustaz kenalan ibu. Bersyukur ia mau mendatangi ustaz itu bersamaku. Kami sempat kesulitan mencari alamatnya dan ditambah beberapa kali ban mobil kami bocor di jalan. Suamiku berdoa untuk dimudahkan bertemu dengan ustaz itu, kami sangat takut jika itu akan berakibat buruk pada anak kami.

Dua jam kami mencari-cari alamat hingga akhirnya kami menyerah kemudian menghubungi ustaz itu, ia menuntun kami dan ternyata jarak kami dengan rumahnya hanya beberapa meter saja. Tetapi saat kami tidak menghubungi ustaz itu rasanya kami tidak melihat ada rumah di sana. Akhirnya kami masuk ke dalam tetapi suamiku disuruh menunggu di luar.

Suamiku disuruh sholat dan terus berdzikir mendoakanku, sedangkan aku di dalam menceritakan semua yang terjadi. Aku mulai dibacakan doa dan berteriak histeris, saat dibacakan doa ada gambaran tentang gunung, wajah mantanku, nenek tua itu, dan sebuah goa yang entah ada di mana. Setelah semua itu berakhir, aku dibangunkan dan diberi minum.

Aku merasa tubuhku lemas sekali. Saat mataku terbuka, aku sudah berada di dalam pelukan suamiku. Ustaz itu bercerita kalau selama ini mantan kekasihku yang mengirimkan makhluk jelek itu kepadaku karena tidak terima aku memutuskan hubungan dengannya. Ia tidak terima kalau aku menikah dengan seseorang yang jauh lebih baik darinya apalagi sampai menghasilkan keturunan.

Ia juga yang waktu itu hampir mencelakakan aku di supermarket dan membuat aku kehilangan bayi kami. Ustaz itu menceritakan kalau perasaan gelisah saat tidak bersama suami itulah tanda kalau ia mulai mengirimkan sesuatu. Suamiku geram dan ingin menghampiri mantan kekasihku, tetapi tidak diizinkan oleh ustaz itu.

Ia meminta suamiku untuk mengikhlaskan dan menghapuskan dendam dari hatinya. Semakin besar dendam yang dipendam akan semakin mudah suamiku dihancurkan olehnya. Ternyata mantan kekasihku yang membuatku memikirkan dirinya dan menggerakkan hatiku mencari nomor kontaknya. Ia sudah berencana untuk merebut aku secara paksa dari suamiku.

Bersyukur apa yang dia kirimkan tidak berisiko pada janin dalam kandunganku. Sepulang dari rumah ustaz itu, ibu yang diajak suamiku untuk tinggal di rumah kami sedangkan rumah ibu akan disewakan untuk sementara waktu. Sejak saat itu, ibadah kami diperkuat dan suami tidak pernah membiarkan aku sendirian. Aku sudah tidak merasakan bingung pada diriku sendiri dan sudah tidak pernah berpikir untuk menceraikan suamiku. Kami hidup damai dan kembali mesra seperti biasanya.