Asal Muasal Bulan Madu

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengantin baru syarat akan tradisi bulan madu untuk menghabiskan ke suatu tempat romantis dengan pasangan beberapa hari setelah mengikrarkan janji suci.
Melansir dari History Extra, tradisi ini kemungkinan berasal dari kalangan menengah atas bersamaan dengan tonggak kebangkitan perjalanan populer dan bidang pariwisata pada tahun 1800-an.
Pada era modern awal, melakukan tur pascapernikahan memungkinkan pasangan kaya untuk mengunjungi teman dan keluarga, sementara yang lainnya lebih suka menghindari orang banyak dan menjadikan momen bulan madu untuk mengenal satu sama lain sebagai pasangan yang sah.
Henry VIII dan Anne Boleyn dilaporkan menghabiskan lebih dari seminggu di Kastil Thornbury, Gloucestershire. Sementara Charles II bersama pengantin barunya mengunjungi Hampton Court Palace.
Mengapa disebut ‘bulan madu’?
Hingga akhir tahun 1800-an, kata ‘bulan madu’ sebenarnya tidak mengacu pada tamasya pascapernikahan, melainkan hanya bulan pertama pernikahan. Sebuah buku pada tahun 1552 menjelaskan bahwa istilah ‘hony mone’ berasal dari “orang-orang vulgar” dan secara pepatah diterapkan pada pasangan yang baru menikah, di mana awal yang sangat baik dan mode cinta luar biasa muncul.
Pada pertengahan abad ke-18, Kamus Samuel Johnson mendefinisikannya sebagai “bulan pertama setelah pernikahan, pasangan menikmati kelembutan dan kesenangan”. Ini mengimplikasikan bahwa kasih sayang pasangan rumah tangga akan berkurang seiring dengan berjalannya waktu. Pendapat ini terkait dengan praktik kuno minum madu selama 30 hari yang tampaknya telah disebarluaskan oleh orang-orang pada zaman Victoria.
Pada akhir abad ke-19, istilah itu semakin diterapkan pada perjalanan pernikahan itu sendiri. Tepatnya tahun 1881, sebuah majalah mode menyatakan bahwa bulan madu bukan hanya untuk menghindari masyarakat. Seiring perkembangan, para jurnalis awal tahun 1900-an menggambarkan perjalanan bulan madu yang penuh akan petualangan, dengan menggunakan balon udara, karavan, kapal selam, atau mendaki gunung dan berlayar ke Kutub Selatan.
Gaya bulan madu saat ini bergantung pada pengantin itu sendiri, ataupun mengikuti perkembangan zaman yang apa-apa serba dipamerkan di dunia maya maupun nyata. Pasangan tak segan mengeluarkan kocek yang lumayan untuk mengambil momen romantis bulan madu dan mengunggahnya ke media sosial. Namun, sebagian pasangan ada juga yang memilih untuk mengadakan perjalanan lebih privasi dan sederhana, kembali ke zaman nenek moyang.
