Baru 5 Tahun Menikah Ternyata Suami Sering Menyewa PSK

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi
Pernikahan membuatku sangat trauma, tidak seperti mereka yang baru menikah lalu merasa bahagia. Kebahagiaan pernikahan hanya kurasakan di lima tahun pertama saja lalu semua itu berubah menjadi kesengsaraan.
Aku memiliki kekasih yang sudah menjalin asmara denganku selama enam tahun, aku merasa kalau kami saling mencintai dan mendukung satu sama lain. Kami memutuskan untuk menikah karena merasa hubungan kami sudah terlalu jauh, terlampau sering kami melakukan hubungan intim. Dia memang ingin menikahiku sejak lama tetapi baru kali itu aku menyetujuinya.
Kedua orang tua kami juga sudah menantikan pernikahan kami sejak lama. Dia adalah teman sekolahku, sudah lama kami memiliki perasaan yang sama tetapi baru diresmikan ketika ada perpisahan sekolah di luar kota. Setelah lulus, kami menempuh pendidikan tinggi di universitas dan fakultas yang berbeda.
Dia mengambil fakultas teknik sipil sedangkan aku kedokteran, meski memiliki kesibukan masing-masing kami tetap berusaha untuk berkomunikasi dengan baik. Dia sangat baik dan selalu mendukung apa pun yang aku kerjakan. Bahkan ketika kami sudah menikah, ia memutuskan untuk menyewa apartemen di dekat rumah sakit tempat aku bekerja dan rela menempuh jarak jauh untuk sampai ke lokasi proyeknya.
Keputusan itu ia ambil sepihak karena tidak ingin aku terlalu lama berada di jalan pulang dan kelelahan. Setelah menikah ia menjadi lebih perhatian dan pengertian, ia memang memiliki kelainan secara seksual. Ia selalu meminta hal lebih saat sedang bersamaku dan terkesan tidak pernah puas dengan apa yang kami lakukan.
Aku sangat mencintai dia dan berusaha untuk membuatnya senang memilikiku, tetapi sebagai wanita yang juga berkarier, aku memunyai batas kesanggupan. Hampir 12 jam aku merawat banyak pasien di rumah sakit dan ketika sampai di rumah, aku masih harus mengurus rumah tangga dan melayaninya. Ketika aku sudah lelah, dia akan mengerti dan berhenti meminta banyak dariku. Dia akan mengalihkan perhatian dengan mengerjakan kerjaan proyeknya di rumah.
Kami memang sudah sering melakukan hubungan intim dari sebelum menikah tetapi aku tidak tahu kalau dia akan memintaku melakukannya sesering itu. Aku berpikir kalau itu memang sudah tugasku sebagai istri, lagi pula aku juga ingin cepat mengandung buah cinta kami. Meski lelah, dengan senang hati aku melayaninya.
Dua tahun pernikahan tidak ada yang berubah dari kedekatan kami. Aku masih melakukan yang terbaik untuk mengurus rumah tangga dan kebutuhannya. Hari demi hari ia memintaku melakukan hal yang sama seolah ia tidak pernah puas terhadapku.
Di tahun ketiga pernikahan, aku mulai merasa kalau tubuhku tidak sekuat dulu. Aku sering mengalami mual dan muntah, seketika itu aku langsung mengecek dengan alat tes kehamilan. Senang rasanya melihat dua garis di dalam alat tes tersebut, malam itu ketika dia kembali aku memberinya kabar bahagia.
Ia terlihat sangat senang karena memang kami telah menantikan kehadiran buah cinta kami. Aku mulai menjaga pola makan dan kesehatan agar bayi di dalam kandunganku tumbuh dengan sempurna. Benar yang mereka katakan, meski belum lahir ke dunia tetapi rasanya aku sudah rela memberikan cinta penuh padanya.
Empat bulan berlalu, tetapi perutku tidak juga membesar. Ketika aku berada di rumah sakit, aku menyempatkan diri ke poli kandungan untuk melakukan pemeriksaan rutin. Betapa terkejutnya aku ketika dokter mengatakan kalau janin di dalam kandunganku tidak berkembang.
Aku menangis dan menelepon suamiku. Satu jam setengah kemudian ia datang ke rumah sakit tempat aku bekerja dan bertemu dengan dokter kandunganku. Dokter menjadwalkan operasi pengangkatan janin dalam rahimku, rasanya aku sudah tidak memiliki harapan untuk menggendongnya. Aku merasa kalau aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuk suamiku.
Seketika duniaku terasa hancur. Berulang kali dia menyemangati dan meminta aku untuk mengikhlaskan anak kami. Satu minggu kemudian, aku dijadwalkan untuk operasi pengangkatan janin, dia mengambil cuti dan menungguku satu setengah jam ruang tunggu. Setelah keluar dari ruang operasi, aku dipindahkan ke ruang rawat inap untuk tiga hari.
Meski berulang kali diminta untuk mengikhlaskan tetapi kesedihan itu masih sering aku rasakan. Aku belum siap kehilangan harapan menjadi seorang ibu. Berulang kali aku harus menyemangati diri dan membuat harapan baru kalau suatu saat nanti aku akan dititipkan Tuhan malaikat kecil kami.
Lima tahun pernikahan, janin itu belum juga hadir di rahimku. Setiap hari aku mencurahkan keinginan itu pada suamiku dan kami masih melakukan hal yang sama setiap harinya. Tidak ada yang berubah selama kami menikah, bahkan ketika dia tahu kalau kami kehilangan buah cinta, ia masih sangat mencintaiku.
Tetapi hari itu, temanku mengirimkan foto suamiku bersama wanita lain di sebuah apartemen. Temanku mengatakan kalau apartemen itu merupakan tempat bergaulnya para lelaki dengan PSK online. Aku cukup terkejut dan tidak menyangka dia melakukan itu setelah dia melakukannya berulang kali bersamaku. Esoknya, aku sengaja izin pulang lebih dulu untuk membuktikan kebenaran itu.
Aku datang ke apartemen yang ditunjukkan oleh temanku. Aku menunggu di salah satu mini market depan apartemen tersebut. Ternyata benar, aku melihat suamiku sedang menghampiri wanita dengan pakaian yang cukup seksi, kemudian ia mengikutinya masuk ke dalam apartemen itu.
Aku mengambil ponsel dan menghubunginya, dari seberang ia mengatakan kalau sedang berada di rumah temannya. “Teman kamu cewe pake baju seksi?” Tanyaku, dari jauh aku melihat raut wajahnya mulai berubah. “Coba kamu ke mini market, aku ada di sini” lanjutku kemudian menutup sambungan telepon.
Dia terlihat meminta maaf pada PSK itu dan kemudian menghampiriku, ia sangat gugup menghadapiku. Berulang kali dia meminta maaf tetapi aku menghiraukannya. Aku masih tidak menyangka dengan apa yang baru saja aku lihat, aku meminta untuk kembali ke apartemen kami.
Di jalan dia hanya diam dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Aku juga tidak berusaha menyinggung hal itu sampai benar-benar berada di dalam apartemen kami. Aku merasa dunia aku hancur untuk kedua kalinya. Ketika berada di dalam apartemen ia baru meminta maaf dan memohon padaku agar tidak menceraikannya.
Aku menanyakan banyak hal dan dia berusaha untuk mengatakan yang sejujurnya. Dia bilang kalau selama ini ia bermain PSK online karena merasa waktu bersamaku tidak terlalu banyak. Ia pernah memintaku untuk berhenti dari pekerjaanku tetapi aku menolak karena memang ingin mengembangkan karierku.
Malam itu aku marah besar sambil terisak, ia hanya diam dan tidak berani menatap wajahku. Hatiku hancur sekali, aku merasa tidak berguna sebagai istri. Aku sudah berusaha memberikan yang terbaik bahkan melayani dia sebaik mungkin. Dia mengatakan kalau selama ini nafsunya tidak bisa terbendung dan tidak pernah bisa merasakan kepuasan.
“Aku mencintai kamu tapi aku juga mengerti kalau kamu capek melayani aku, belum lagi kalau kamu habis merawat banyak pasien” ucapnya “aku pernah menyuruh kamu berhenti tapi kamu menolak” lanjutnya. Dia memang pernah memintaku berhenti bekerja di tahun pertama pernikahan tetapi aku menolak karena memang ingin melanjutkan karierku.
Ketika mendengar penjelasannya, aku sadar kalau aku juga ada andil dalam kesalahannya. Aku lebih mementingkan karier dibandingkan kebahagiaan suamiku meski sebenarnya aku sudah berusaha melakukan yang terbaik. Ia hanya menginginkanku rumah tangga kami.
Malam itu, ia memohon dan meminta maaf padaku. Ia meminta kesempatan untuk bisa mempertahankan rumah tangga kami tetapi aku malah memilih kembali ke rumah orang tuaku tanpa menceritakan apa yang terjadi. Selama dua bulan di rumah orang tua, aku berpikir keras apa yang harus dilakukan, mempertahankan atau menyudahi rumah tangga kami.
Selama itu aku meninggalkan suamiku di apartemen sendirian. Aku sangat mencintai suamiku, tetapi masih merasa sakit hati dengan apa yang ia lakukan.. Aku mendatangi apartemen kami dan menemukan dia sedang tertidur dengan banyak minuman keras di atas meja.
Seketika aku merasa bersalah karena sudah meninggalkannya sendirian. Aku membangunkan dia, ketika melihatku dia langsung bangkit dan kembali memohon untuk memaafkannya. Sangat sedih rasanya melihat suamiku kacau seperti itu, dengan besar hati aku memaafkannya demi mempertahankan rumah tangga kami.
Dia memintaku untuk keluar dari pekerjaanku, kali ini aku tidak menolak. Aku menuruti kemauannya dan berusaha melupakan apa yang terjadi. Sejak kejadian itu, dia memberikan semua kata sandi bahkan menyadap ponselnya sendiri di ponselku. Ia ingin aku mengetahui apa pun tentang dia. Tiga bulan setelahnya, aku menemukan kalau janin itu sudah kembali menempati rahimku.
