Buta Sejak Lahir Membuat Aku Melihat Pengkhianatan Suamiku

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi
Manusia paling bodoh di dunia mana yang menginginkan terlahir buta? Taruhan! Tidak akan ada yang mau terlahir seperti itu. Begitupula dengan aku. Aku tidak ingin buta sejak pertama kali menginjakkan kaki di dunia. Menjadikan gelap sebagai teman baik apa pun situasinya. Aku tidak ingin, tapi takdir berbaik hati memberiku semua kegelapan.
Apa aku menyesal terlahir buta? Tentu tidak! Ya meskipun tak jarang mereka jadi lebih sering mengasihani aku dan terkadang mendapat kesulitan saat mencari jalan. Tapi aku tidak menyesal, tidak sedikit pun! Aku merasa justru kebutaan yang membuat aku bisa melihat sisi baik dari semua orang tanpa melihat rupa mereka atau dari mana mereka berasal.
Intinya, aku tetap bisa melihat ketulusan hati seseorang saat bersamaku. Jaquel berhasil mendapatkanku dan aku melihat ketulusan hatinya selama hampir lima tahun kami berkencan. Kami saling mencintai. Bisa dibilang dia selalu membantu kapan pun aku butuh tanpa pernah merendahkan kekuranganku. Selama lima tahun dia tidak pernah sekali pun cacat di mataku, yang tentu saja sudah berpengalaman menghadapi beragam karakter manusia.
Jaquel senang sekali menceritakan kejadian apa saja yang menarik di sekitar kami, membuat aku mengawang jauh bagaimana reaksi mereka saat itu terjadi. Kami tidak seperti pasangan yang lain, Jaq harus mendeskripsikan semua suasana agar kami bisa satu frekuensi saat membahas banyak hal seru. Aku jatuh cinta pada Jaq tiap kali dia membacakan sebuah novel dengan intonasi dramatis dan penggambaran yang luar biasa. Rasanya seperti sedang menonton teater.
Aku tak tahu pasti bagaimana penampakan Jaq saat itu dan hanya bisa meraba wajahnya lalu membayangkan karakter Jaq dalam imajinasiku sendiri. Kupikir matanya berbentuk seperti kacang almond, bola matanya bisa biru, cokelat, abu-abu, atau mungkin hijau. Aku tidak tahu. Alis Jaq begitu lebat dengan hidung yang runcing seperti sepatu para kurcaci. Bibirnya tipis dan sedikit kering. Dia tidak berkumis ataupun berjanggut, kalau kubayangkan mungkin seperti Jack dalam film Titanic.
Setidaknya itu yang kugambarkan tentang Jaq di dalam otakku. Aku sangat tergila-gila pada Jaq bahkan selalu bermimpi tentang pernikahan kami dan anak-anak yang akan dilahirkan. Itu sebabnya ketika Jaq melamar aku langsung menjawab 'Ya' tanpa pikir panjang karena menurutku dia akan tetap seperti Jaq yang kukenal selama ini. Menikah dengannya menjadi salah satu sejarah yang paling membahagiakan dalam hidupku.
Meskipun tidak melihat semua keindahan dari detail pernikahan kami tetapi mendengar para tamu bersorak bahagia, aku tahu kalau acara itu berhasil. Di akhir acara kami memegang satu balon, yang kuyakini semua tamu juga melakukan hal yang sama, dan melepaskannya ke udara. Aku membayangkan langit biru yang luas akan dihiasi oleh ratusan balon berwarna jingga. "Pasti sangat indah" pikirku.
"Aku janji akan selalu menjaga dan merawat kamu" ucap Jaq di hari pernikahan kami. Namun di tahun kedua Jaq mulai merasa terganggu dengan keadaanku. Saat itu sebuah vas jatuh ke lantai dan menimbulkan suara yang cukup keras "apa kamu tidak bisa sekali saja tidak merusak suasana" celetuknya saat kami akan melakukannya di kamar. Aku hanya terdiam dan berusaha membereskan pecahan kaca yang berserakan di lantai.
Aku selalu berusaha menjadi istri yang baik dengan mengerjakan semua pekerjaan rumah untuk menutupi kekuranganku. "Dengan ini Jaq akan menganggap kalau aku adalah istri yang istimewa" pikirku sambil mengepel lantai. Satu hal yang Jaq tidak pernah tahu dariku adalah sebelum menikah aku sedang menunggu donor mata dari seseorang. Aku sudah menandatangani semua berkas bahkan sesaat sebelum menjadi istrinya.
Di tahun ketiga kupikir akan menjadi saat yang paling membahagiakan karena akhirnya dokter menghubungi untuk melakukan operasi. "Aku harus pergi ke rumah kakak sepupuku di Austria untuk beberapa hari, apa kamu tidak masalah dengan itu?" Tanyaku suatu hari ketika kami sedang bersantai di sofa. "Oke tapi aku tidak bisa mengantarmu karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan" jawabnya, aku sepakat untuk pergi menggunakan taksi sedangkan dia menyelesaikan pekerjaannya.
Segalanya terasa mudah bagiku, "ini akan menjadi kejutan paling menyenangkan untuk Jaq, setelah semua selesai kami akan segera memiliki bayi dan memulai perjalanan keluarga yang sesungguhnya" pikirku dalam hati. Sesampainya di rumah sakit, aku mengurus beberapa dokumen dan mengikuti prosedur yang disediakan. Aku harus menunggu selama satu hari penuh agar bisa melanjutkan ke tahap operasi.
Singkatnya, operasiku berhasil meski mereka masih harus menahanku di rumah sakit untuk memantau perkembanganku. Ketika dokter memperbolehkanku pulang, aku sengaja tidak menghubungi Jaq dan masih menggunakan kaca mataku. Aku kembali menggunakan taksi dan sangat terkejut saat menemukan Jaq bersama seorang wanita setengah berbusana di sofaku. "Bukankah istrimu melihat kita?" bisik si wanita, "sssttt..dia buta dan kita harus tetap diam agar dia tidak tahu kita di sini" sahut Jaq.
Mendengar perbincangan mereka membuat aku memutuskan untuk tetap memainkan peran menjadi wanita buta. Aku terus berjalan seolah tidak melihat apa pun, "Jaaaq di mana kamu? Aku pulang" teriakku yang jelas sudah tahu kalau dia sedang bersama wanita lain. Jaq tidak menjawan panggilanku, ia bahkan menarik wanita itu untuk masuk ke dalam kamar tamu dan menguncinya.
Aku pergi ke kamar dan menangis sehening yang aku bisa. "Aku akan tetap seperti ini dan mencari tahu semuanya" ancamku dalam hati. Baru kutahu apa yang selama ini Jaq lakukan tepat di depanku. Dia tidak bersikap baik, ia justru memanfaatkan kekuranganku untuk mengelabuhiku entah sejak kapan dan aku terlalu bodoh karena telah mencintai dia. Hatiku masih sangat sakit, hari itu Jaq baru keluar dari kamar tamu hampir tengah malam.
Wanita asing itu jadi menetap bersama kami di saat aku masih harus berpura-pura menjadi buta dan menahan semua rasa sakitku. Aku masih mengerjakan semua tugasku agar Jaq tidak curiga dan wanita itu selalu dengan mesra menunggu suamiku di kamar tamu. Sesak rasanya melihat semua kejadian itu tepat di depan wajahku apalagi ketika seseorang yang sangat dicinta justru melakukannya tanpa ragu. Sangat sulit bagiku menerima belaian dari Jaq saat aku tahu dia baru kembali dari si wanita itu.
Setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama, aku justru mencari celah untuk menghancurkan kehidupan Jaq. "Mimipiku memiliki keluarga yang bahagia sudah kamu hancurkan tepat di depanku Jaq, sekarang saatnya giliranku" ucapku dalam hati ketika menemukan beberapa dokumen yang berisikan aset Jaq yang tidak pernah kuketahui. Selama ini Jaq memiliki beberapa real estate, bisnis yang cukup menjanjikan, dan beberapa rumah mewah. Aku mengambil semua dokumen itu saat dia sedang tergila-gila pada wanita pujaannya yang sempurna.
Hanya butuh waktu tiga bulan untuk aku membicarakan masalah itu dengan pengacaraku dan memutuskan bercerai. "Kamu tidak akan bisa apa-apa tanpaku Rachel, kamu akan kehilangan segalanya jadi aku akan tanda tangan dokumen ini dan menyingkirkan kamu" ucap Jaq di depan pengacaraku. Satu-satunya orang yang tidak tahu kalau pengelihatanku sudah kembali adalah Jaq dan semua pengkhianatan itu sudah kuberitahu pada pengacaraku dengan buktinya.
"Sayang sekali Jaq, tapi seharusnya kamu baca dulu dokumen itu sebelum ditandatangani karena yang akan kehilangan segalanya adalah kamu" timpalku sambil membuka kaca mataku. Wajah Jaq jelas sangat terkejut dan baru membaca kembali dokumen yang sudah ia tanda tangani, "aku bisa melihat sejak kembali dari rumah sakit karena tadinya kupikir ini akan menjadi kejutan buatmu tetapi justru aku yang terkejut dengan semua yang kamu lakukan" jelasku.
Jaq terlihat sangat panik karena keputusan hakim sudah final bahwa semua harta akan jatuh kepadaku, seperti yang ia janjikan dulu di depan pengacaraku. Pengacaraku mengantar Jaq kembali ke rumah untuk mengambil semua barangnya, dan tentu saja wanita yang ia sembunyikan di dalam kamar tamu. Mereka bertengkar tepat di depan rumahku, wanita itu marah besar karena ia tidak mendapatkan apa pun dari Jaq seperti yang pernah dijanjikan. Sementara Jaq hanya berusaha memohon padanya untuk tetap tinggal di saat dia memulai lagi dari awal.
Kurasa semua sakit hati pasti akan ada obatnya, entah itu laki-laki baru atau mungkin harta? Semua tergantung pada selera dan untuk aku jelas uang lebih menggiurkan karena aku tak lagi percaya pada laki-laki. Sekalipun ia bisa membeli segalanya! Aku sudah menyerahkan hidupku untuk laki-laki yang kucintai tetapi bukannya mendapat kebahagiaan, dia justru membuangku demi ikan yang lebih segar.
