Konten dari Pengguna

Cerpen: Kepercayaanku Luntur Ketika Suami Ketahuan Selingkuh 3 Kali

Cinta dan Rahasia

Cinta dan Rahasia

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. Pixabay.com/AlemCoksa
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Pixabay.com/AlemCoksa

Disclaimer: Cerita ini hanyalah karangan semata. Bila ada kesamaan nama, waktu, tempat, profesi, dan cerita itu bukan merupakan kesengajaan.

Sejak lulus kuliah aku memutuskan untuk membangun sebuah wedding organizer (WO) bersama dengan dua temanku. Tiga tahun aku menjalani dua profesi sekaligus, sebagai WO dan pegawai di sebuah perusahaan swasta. Pasang surut kami jalani hingga aku hampir ditipu oleh salah satu klien.

Beruntung itu tidak terjadi karena uang yang dikeluarkan sudah ratusan juta. Akan tetapi, dari kejadian itu aku bertemu dengan seorang laki-laki yang dengan sigap membantu aku saat berada di sebuah hotel berbintang. Klienku lari karena kekasihnya membatalkan pernikahan begitu saja saat ia sudah siap menjadi pengantin.

Lelaki ini adalah seorang pegawai hotel, saat itu ia membantuku menghentikan pengantin yang sudah lari di lobby. Ternyata keluarganya juga mendukung aksinya itu dan sudah menunggu di mobil. Lelaki itu menghentikan pengantin dan segera memanggil satpam, aku yang panik menemukan kamar hotel kosong langsung berlari ke lobby hotel.

Di sana pengantin itu sudah ditahan oleh dua satpam dan berjanji akan membayar, tetapi lelaki tadi menyarankan untuk dibawa ke kantor polisi. Akhirnya, keluarga pengantin itu datang dan melunasi semuanya sehingga tidak ada insiden yang perlu terbawa hingga ke ranah hukum.

Aku berterima kasih pada lelaki tadi karena memiliki insting yang cukup kuat tentang hal itu. Seiring berjalannya waktu, banyak klien yang meminta untuk menikah di sebuah hotel dan beberapa kali tempat itu terpilih oleh mereka. Karena terlalu sering aku datang ke hotel itu, aku cukup kenal dan akrab dengan karyawan di sana, terutama lelaki yang pernah menolongku.

Kami banyak bercerita selagi menunggu dekorasi pernikahan dibuat bahkan ia pernah menungguku hingga larut meski jam kerjanya sudah selesai. Singkat cerita, kami bertukar nomor telepon dan sering berkomunikasi. Lelaki itu sering menjadi ‘mata kedua’-ku untuk memastikan dekorasi yang dipasang sudah selesai atau belum.

Setelah sering berkomunikasi, dua tahun mengenal kami memutuskan untuk menjalin asmara. Aku cukup nyaman saat membicarakan banyak hal dengannya, menurutku perbincangan kami satu frekuensi meski berbeda profesi. Ia cukup terbuka pada banyak hal dan aku sering belajar hal baru di luar WO juga profesiku.

Pasang surut hubungan, pastilah kami jalani tetapi dengan ikhlas kami menerima semua kekurangan pasangan masing-masing. Dua tahun berpacaran kami memutuskan untuk menikah, selain usiaku yang sudah sangat matang, kami juga tidak ingin terlalu lama berpacaran. Kedua orang tua kami setuju, kemudian melangsungkan pernikahan di hotel tempat ia bekerja.

Ia mendapat potongan setengah harga untuk menyewa ballroom di sana dan untuk WO aku menggunakan milikku sendiri sehingga biaya pernikahan kami bisa sangat ditekan meski terlihat mewah. Setelah menikah kami memutuskan untuk tinggal di sebuah rumah yang sudah dibeli oleh orang tuaku, beberapa bulan setelahnya ia ingin bekerja di kapal pesiar.

Keinginan itu akhirnya sampai ke telinga kedua orang tuaku, mereka bersedia membayarkan semua keperluan suamiku untuk bekerja di sana. Selagi ia menjalankan tes dan menyiapkan berbagai macam hal, aku merasa tidak enak badan kemudian ibuku menyuruh untuk di tes kehamilan. Hasilnya positif, kami berdua bahagia sekali sekaligus sedih karena selama kehamilan bahkan hingga anak ini lahir, ia tidak ada di sampingku.

Kedua orang tuaku meyakinkan kalau ini semua demi kebaikan anak kami. Tak lama dari berita bahagia itu, suamiku diizinkan berangkat untuk bekerja di kapal pesiar dengan berat hati aku melepasnya. Tiga tahun ia tidak kembali, anak kami sudah mulai besar dan mengerti banyak hal, kepulangannya yang mendadak saat itu membuatku girang sekali.

Aku tidak menyangka ia akan kembali tanpa memberi kabar. Kepulangannya membawa kabar gembira karena ia tidak ingin di kapal pesiar lagi dan memilih untuk bekerja di sebuah restoran. Dua bulan setelah ia kembali, ia mendapat panggilan kerja di sebuah restoran Jepang dan ternyata ia dipercaya untuk memegang jabatan sebagai manajer di sana.

Dari sanalah semua awal perselingkuhan itu karena ia merasa sudah mampu memegang jabatan tinggi dan otomatis penghasilannya pun besar ia mulai ada ‘main’ dengan bawahannya. Selama ia berselingkuh aku menepis semua rasa curiga, aku berusaha percaya seutuhnya kepada suamiku. Sampai suatu malam aku menemukan sebuah struk belanja hingga jutaan rupiah.

Struk itu berisi tas wanita tetapi ia tidak pernah membelikanku yang semacam itu. Kecurigaanku mulai menajam, aku bertanya pada suamiku keesokan harinya dan ia menjawab kalau itu milik klien restoran. Klien itu meminta disiapkan hadiah untuk kekasihnya karena mereka sedang merayakan hari jadi.

Setengah percaya aku padanya, memang sih di restoran sering kali ada pengunjung yang meminta disiapkan banyak hal untuk memberi kejutan pada seseorang. Aku menelan bulat-bulat semua kecurigaanku dan berusaha kembali percaya padanya. Dua bulan dari kejadian itu, teman sekolahku keterima di restoran tempat suamiku bekerja.

Saat itu, ia sering bertemu dengan suamiku saat berada di dapur. Beberapa bulan di sana, ia mengatakan kepadaku kalau suamiku ada ‘main’ dengan karyawan di sana karena sering menghampiri satu wanita yang sama. Aku merasa bersalah waktu menemukan struk belanja itu kemudian aku berpikir “mungkin itu hanya sekadar urusan pekerjaan.”

Berulang kali temanku memeringati tentang suami yang selalu pulang bersama dengan karyawannya. “Cewek yang dia datangi itu selalu sama dan kelihatan sangat mesra sekali, hati-hati lo coba dicari tahu gimana suami lo sama tuh cewek” sarannya kepadaku. Selama dua tahun temanku selalu mengatakan hal yang sama dan aku tetap berusaha untuk percaya padanya “tidak mungkin ia mengkhianatiku, ia pasti ingat perjuangan keluargaku memberinya pendidikan hingga ia bekerja di kapal pesiar dulu” pikirku.

Namun, ternyata ucapan temanku selama ini benar adanya. Hari itu aku menemukan struk kartu kredit dari sebuah hotel berbintang “pantas saja ia sering tidak pulang dengan beragam alasan!” Batinku. Aku langsung menaruh struk itu di depan wajahnya, ia terlihat sangat terkejut dan meminta maaf padaku bertubi-tubi.

Mendengar penjelasannya aku hanya bisa menangis, saat itu anakku sudah tidur dan ia sedang berada di ruang televisi. Ia berjanji tidak akan mengulangi hal itu lagi, ia ingin pernikahan denganku berhasil dan bersama-sama membesarkan anak kami. Aku memintanya keluar dari restoran itu dan pindah ke tempat kerja lain, ia pun menyanggupinya.

Tiga bulan kemudian, ia resmi keluar dari restoran itu dan langsung keterima bekerja di sebuah hotel berbintang menjadi manajer. Aku cukup tenang ia tidak bertemu dengan wanita itu lagi karena semua akses komunikasi mereka sudah aku putus. Dua tahun ia bekerja sebagai manajer hotel, ia selalu pulang ke rumah dan tidak ada kebiasaan aneh yang ditunjukkan.

Meski begitu, lagi-lagi firasatku kalau ia berselingkuh muncul kembali. Kali ini aku tidak sepercaya dulu, aku ingin ada di hotel tempat ia bekerja secara diam-diam. Kebetulan rekan-rekan kerjanya belum pernah melihat dengan jelas bagaimana rupaku.

Saat pergi ke sana, aku menitipkan anakku di rumah orang tuaku. Aku datang layaknya tamu biasa, aku menggunakan kartu pengenal teman yang wajahnya mirip denganku. Aku berusaha untuk berpakaian berbeda dari biasanya agar tidak dikenali oleh suamiku.

Ketika masuk ke sebuah kamar, aku hanya menaruh tasku dan kembali turun untuk ke restoran. Aku memerhatikan suamiku berjalan mengecek pekerjaan bawahannya sampai ia menggoda seorang wanita secara diam-diam di saat lobby hotel sepi tamu.

Aku ikuti ke mana suamiku pergi dengan masuk ke dalam lift yang sama dengannya. Beruntung aku tidak masuk seorang diri, banyak tamu lain yang ikut masuk ke dalam lift sehingga ia tidak memerhatikan satu per satu. Aku melihatnya turun di lantai 15, aku mengikutinya dan melihat ia memasuki satu kamar. Di dalamnya sudah ada wanita yang tadi ia goda dengan menggunakan baju seksi.

Wanita itu terlihat sangat muda, aku melihatnya mencium wanita itu dan kemudian masuk ke dalam kamar hotel. Saat itu sudah malam, aku memutuskan untuk kembali ke kamar hotelku dan menangis. Ia sudah berjanji tidak akan mengulanginya lagi tetapi ternyata itu semua hanyalah kebohongan yang lain.

Akhirnya aku menelepon resepsionis dan meminta untuk bertemu dengan manajer yang tidak lain adalah suamiku. Permintaanku disanggupi karena memang saat itu masih jam kerjanya. Aku menunggu sekitar 30 menit di dalam kamar sampai akhirnya ada yang mengetuk pintu, aku mengeceknya dari lubang kecil di tengah pintu. “Benar itu dia” batinku.

Sebelum membuka pintu, aku sudah menyiapkan mental akan bersikap seperti apa. Aku membukanya sambil menyembunyikan wajahku di balik pintu dan ketika ia sudah masuk ke dalam kamarku dengan prosedur yang ditetapkan, aku pun berbalik. Betapa terkejut dan kikuknya ia saat melihat aku sudah berdiri dihadapannya.

“Sejak kapan kamu di sini? Kok kamu tidak memberitahu aku” katanya sambil berusaha memelukku, aku tepis tangannya “bagaimana rasanya daun muda itu? Enak?” Tanyaku. Ia terlihat sangat kikuk dan bingung menjawab pertanyaanku.

Saat itu, tidak hanya ia yang aku minta datang ke kamarku tetapi juga wanita yang kutahu namanya dari seorang karyawan hotel. Tak lama ia pun mengetuk pintu dan aku membukanya, betapa terkejutnya mereka dimasukkan ke dalam ruangan yang sama.

Terlihat sekali wanita itu sangat malu. Aku meminta suamiku untuk duduk sedangkan aku berbicara dengan wanita itu. Dari sana aku tahu kalau umurnya baru menginjak 18 tahun dan sudah menikah secara siri oleh suamiku. Mereka memiliki satu anak laki-laki yang sekarang tinggal bersamanya.

Mendengar semua informasi itu membuat dadaku sesak. Ingin sekali aku tampar wajah wanita itu, tetapi aku tahu yang sebenarnya jahat adalah suamiku. Ia bilang pada wanita itu kalau hubungan kami sudah tidak baik dan aku tidak bisa memiliki anak.

Aku menyuruh wanita itu untuk duduk di kasur dan sekarang aku bertanya pada suamiku. “Apa alasan kamu mengatakan semua itu padanya? Kalau ingin bercerai kenapa tidak bilang saja dari perselingkuhanmu yang pertama?” tanyaku. Wanita itu terkejut karena tahu kalau suamiku sudah pernah berselingkuh sebelumnya.

Ia bukanlah orang pertama yang menjadi selingkuhannya tetapi ia menjadi wanita paling dirugikan karena sampai memiliki anak. Saat itu istri mudanya yang mengamuk dan meminta cerai dari suamiku. Aku pun memberikan pilihan yang sama.

Ia sangat kesal dan marah padaku tetapi ia tidak bisa melampiaskannya. Akhirnya ia menceraikan istri mudanya dihadapanku dan tidak mau berpisah denganku. Setelah diceraikan, istri muda itu pamit keluar dari kamarku. Aku mempersilahkannya, sedangkan suamiku ia kembali meminta maaf sampai bertekuk lutut.

Aku kemudian berdiri dan mengambil ponselku. Menghubungi orang tua dan mertuaku. Kali ini mertuaku yang histeris karena orang tuaku sudah menyangka ia akan mengulanginya kembali. Setelah menghubungi mereka, aku mengambil tasku dan pergi ke luar.

Aku segera check out dari hotel itu dan kembali ke rumah orang tuaku. Menidurkan anakku lalu membahas masalah ini dengan mereka. Suamiku datang ke rumah orang tuaku dengan sangat kacau, rupanya wanita yang menjadi mantan istri mudanya tadi melaporkannya ke perusahaan.

Entah apa hubungannya dengan hubungan mereka. Belakangan aku tahu kalau karyawan yang menggunakan kamar hotel tanpa seizin perusahaan itu dilarang dan wanita itu mengakui kesalahannya dengan membawa suamiku. Akhirnya, hari itu mereka berdua dikeluarkan dari hotel tersebut.

Ia meminta maaf padaku dan kedua orang tuaku tetapi permintaan maafnya ditinggalkan begitu saja oleh mereka. Sedangkan aku masih terduduk dan memandangnya dengan sangat marah. Aku mendorongnya keluar dari rumah kedua orang tuaku dan kemudian mengunci pintu.

Ia tidak berani mengetuk pintu terlalu kencang karena aku sudah mengancam akan membawanya ke jalur hukum. Singkatnya setelah malam itu aku memutuskan untuk memaafkan karena anakku selalu menangis meminta bertemu dengan ayahnya.

Suamiku kembali menjadi manajer di sebuah restoran. Kali ini aku memegang nomor atasannya dan menyadap ponselnya. Ia tidak tahu hal itu karena semuanya aku sembunyikan dengan sangat rapi.

Setelah tiga tahun bekerja di sana, ada seorang wanita yang selalu mengirimkan teks mesra padanya. Aku sudah kembali curiga namun kali ini, aku tidak akan menghampiri dia seperti sebelumnya. Aku sedang mengumpulkan bukti untuk menceraikannya agar ia tidak bisa beralasan saat di persidangan nanti.

Dugaanku benar, ia kembali berselingkuh dengan sesama manajer. Dua hari kemudian aku pergi ke pengadilan agama dan menggugat cerai dirinya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau aku menceraikannya hingga ada surat panggilan sidang datang ke rumah kami.

Saat itu aku sedang tidak di rumah, ia meneleponku berulang kali tetapi tidak aku angkat. Aku sudah tahu kalau surat itu akan sampai ke rumah dan menebak bagaimana reaksinya. Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamar dan mengeluarkan semua bajunya.

Aku sudah tidak mau tidur berdua dengannya. Aku mengajak anakku untuk tidur bersamaku. Ia terlihat sedang berpikir keras, entah apa yang sedang ia pikirkan. Sidang demi sidang kami jalani sampai akhirnya aku tahu kalau yang ia pikirkan saat itu adalah bagaimana caranya menguasai semua hartaku.

Ia meminta rumah yang sedang aku tinggali bersama anak kami. Ia menganggap kalau itu adalah hartanya juga karena katanya dibeli setelah kami menikah. Padahal rumah itu pemberian orang tuaku dan dibeli setahun sebelum kami menikah, akhirnya pengadilan memutuskan kalau itu tidak termasuk harta yang bisa diperebutkan.

Hak asuh juga murni jatuh ke tanganku. Ia tidak mendapatkan apa pun dari pernikahan kami dan ia sangat mengancam tentang hal itu. Rupanya selama ini ia tidak ingin bercerai bukan karena aku atau anak kami melainkan tentang harta yang aku miliki. Ke mana saja aku selama 10 tahun pernikahan dan baru menyadari setelah tiga kali diselingkuhi.