Cinta Sejati di Balik Bangunan Megah Taj Mahal

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Taj Mahal merupakan salah satu bangunan ikonik di daratan India yang terletak di tepi selatan Sungai Yamuna di dekat Agra, India. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk membangun bangunan super megah ini. Setidaknya, butuh waktu 22 tahun sebelum bangunan ini pada akhirnya selesai dibangun pada tahun 1653 seperti dikutip dari Thoughtco.com.
Saking megahnya, Taj Mahal bahkan sempat dinobatkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Bentuknya yang simetris dan strukturnya yang indah menjadi salah satu faktornya. Namun lebih dari sekadar bangunan yang indah serta megah, Taj Mahal juga menyimpan cerita yang luar biasa di baliknya.
Taj Mahal bukan hanya sebuah benda mati raksasa melainkan juga menjadi bukti pernyataan cinta sejati dari seseorang bernama Shah Jahan. Kecintaannya kepada pasangannya menuntunnya kepada sebuah ide gila dengan membangun sebuah monumen raksasa.
Jauh sebelum bangunan ini berdiri, seorang pemuda bernama Shah Jahan, diceritakan menikah dengan seorang wanita bernama Mumtaz Mahal pada 27 Maret 1612. Mumtaz Mahal dikenal sebagai wanita yang cantik, cerdas, dan punya hati yang lembut.
Di masa itu, publik benar-benar terpikat dengannya karena dia benar-benar sangat peduli dengan masyarakat. Hal ini dicerminkan pada perilakunya yang sering membuat daftar janda dan yatim piatu untuk memastikan bahwa mereka diberi makan dan uang.
Sayangnya perjalanan kisah cinta antara Shah Jahan dengan Mumtaz Mahal harus menemui takdir yang getir. Di kelahiran anak ke-14 mereka, Mumtaz Mahal harus meregang nyawa dan meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
Kisah Pilu Kematian Mumtaz Mahal
Mumtaz Mahal tercatat mengembuskan napas terakhirnya pada 1631 ketika Shah Jahan sedang mengejar pemberontak yang dipimpin oleh Khan Jahan Lodi. Pada saat itu meski sedang hamil tua, Mumtaz Mahal ikut menemani perjalanan suaminya.
Pada 16 Juni 1631, dia melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat di tengah perkemahan tentara Shah Jahan. Saat itu semuanya bersuka cita atas kehadiran anak ke-14 dari Shah Jahan dan Mumtaz Mahal.
Sayangnya, kegembiraan itu hanya sesaat karena tak lama melahirkan putrinya, Mumtaz Mahal dinyatakan sekarat. Shah Jahan yang saat itu mendapatkan kabar langsung bergegas kembali. Satu hari kemudian, 17 Juni 1631, Mumtaz Mahal meninggal dalam pelukan suaminya.
Dia dimakamkan menurut tradisi Islam di dekat perkemahan tentara di Burbanpur sebelum nantinya Shah Jahan meminta makamnya digali untuk dibawa pulang ke kediaman mereka di Agra.
Menurut informasi yang ada, Shah Jahan benar-benar terpukul atas kematian sang istri. Dia bahkan sampai menyendiri di dalam tenda, menangis selama delapan hari. Ketika keluar tenda, wajahnya terlihat menua.
Menuangkan Emosinya dengan Membangun Taj Mahal
Kepergian sang istri benar-benar membuat Shah Jahan diliputi kesedihan yang teramat sangat. Namun, dia menolak untuk berdiam diri di mana pada akhirnya dia memilih untuk menuangkan emosinya untuk merancang sebuah monumen dengan tingkat kerumitan tinggi plus harga yang mahal. Tercatat, Taj Mahal juga menjadi monumen besar pertama yang didedikasikan untuk seorang wanita.
Dalam rencananya, Shah Jahan terjun langsung mendesain bangunan itu dibantu dengan sejumlah arsitek terbaik pada masanya. Dia ingin agar Taj Mahal terlihat seperti sebuah surge di bumi. Sebagai seorang kaisar dari Kekaisaran Mughal, hal ini bukan halangan.
Kekaisaran Mughal adalah salah satu kerajaan terkaya di dunia pada masa pemerintahannya. Dengan sumber daya yang ada bahkan Shah Jahan meminta agar bangunan ini dibangun dengan waktu singkat. Demi mempercepat produksi, diperkirakan sebanyak 20.000 pekerja dibawa dan ditempatkan di sebuah kota buatan bernama Mumtazabad.
Dalam praktiknya, konstruksi Taj Mahal memang disebut-sebut sebagai konstruksi yang rumit. Didominasi oleh batuan Marmer Putih, konon dibutuhkan 1.000 gajah dan banyak sekali sapi untuk bisa membawa Marmer ke lokasi pembangunan Taj Mahal.
Meski didominasi oleh batu, hiasan Taj Mahal juga terbukti sangat lembut. Diisi oleh ayat-ayat Al-quran, setiap ayat benar-benar terlihat seperti dituliskan menggunakan tangan. Tidak main-main, untuk membuat tulisan Al-quran ini, Shah Jahan menyewa jasa seorang ahli kaligrafi kenamaan di masa itu yaitu Amanat Khan.
Bahkan hanya Amanat Khan satu-satunya orang yang boleh membuat tanda tangan atas karyanya di dalam Taj Mahal! Selain Marmer, Taj Mahal juga diisi oleh 43 jenis batu mulia untuk memperlihatkan keindahannya. Batu-batu ini didatangkan dari negara seperti Sri Lanka, China, Rusia, dan Tibet.
Kematian Shah Jahan, Kehancuran, dan Restorasi Taj Mahal
Meskipun telah menuangkan emosinya dengan membangun Taj Mahal, kenyataannya, Shah Jahan tak pernah luput dari rasa sedih. Hal tersebut membuat kekaisaran yang dia pimpin penuh dengan masalah bahkan hingga membuatnya dikudeta sebagai kaisar.
Delapan tahun terakhir hidupnya dia habiskan untuk memandangi kemegahan Taj Mahal yang dibuat sambil melewati masa-masa terbawah dalam hidupnya. Pada 22 Januari 1666, Shah Jahan meninggal dan dikuburkan bersama Mumtaz Mahal di ruang bawah tanah, di bawah Taj Mahal.
Sayangnya meski Kekaisaran Mughal adalah salah satu yang paling kaya di dunia, kematian dari Shah Jahan juga turut membuat kekaisaran ini merosot. Biaya mengurusi Taj Mahal yang besar membuat bangunan megah ini perlahan hancur.
Sampailah di tahun 1800-an, Inggris datang mengusir Kekaisaran Mughal dan mengambil alih India. Saat itu tentara Inggris dipimpin oleh Lord Curzon yang merupakan seorang raja muda Inggris. Tidak mau membiarkan bangunan megah ini terkubur dalam tanah, Curzon justru berupaya memulihkannya.
Hari ini, Taj Mahal menjadi salah satu tempat yang masih mempertahankan kemegahan dan keluarbiasaannya. Setidaknya 2,5 juta orang setiap tahunnya datang ke tempat ini. Taj Mahal pun pernah dimasukkan ke dalam salah satu daftar warisan dunia oleh UNESCO pada 1983.
Tak disangka, di balik kemegahan serta keindahannya, ternyata ada kisah cinta yang juga megah dan indah. Semangat dan cinta sejati Shah Jahan pada Mumtaz Mahal lah yang mendorong bangunan ini berdiri kokoh di tanah India.
Cinta memang tak selalu terlihat, tapi selalu bisa diekspresikan. Shah Jahan setidaknya membuktikan bahwa cinta sejati memang benar adanya.
**
Sumber: Thoughtco.com
