Cinta Tragis Pangeran Hodong dan Putri Nakrang dari Korea

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pangeran Hodong adalah putra pertama Raja Daemusin yang tampan dan cerdas dari Kerajaan Goguryeo (37 SM – 668 M). Kerajaan Goguryeo adalah salah satu dari tiga kerajaan kuno yang terletak di bagian utara dan tengah semenanjung Korea. Dikutip dari korea.net, begini cerita cinta Pangeran Hodong dan Putri Nakrang yang berakhir tragis.
Pangeran Hodong yang berusia 20 tahun sangat populer di kalangan rakyatnya karena kepribadian yang bersemangat, antusias, dan ceria. Pada suatu hari, sang pangeran mengikuti kompetisi berburu dan menangkap seekor rusa putih. Hewan tersebut dilambangkan sebagai makhluk yang saleh.
Secara kebetulan, dia bertemu Raja Choe Ri dari Nakrang, sebuah kerajaan yang bersekutu dengan Dinasti Han Tiongkok (206 SM – 220 M). Raja menemukan pesona Hodong yang berkilau dan memutuskan untuk memperkenalkannya kepada putrinya yang berusia 18 tahun, Putri Nakrang. Kedua sejoli itu jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tak seperti biasanya, pangeran kemudian kembali ke Goguryeo dengan berita istimewa. Hodong meminta izin ayahnya untuk menikahi Putri Nakrang hasil dari perjodohan beberapa hari yang lalu. Raja Daemusin menerima permintaan resmi putranya meskipun tidak sepenuh hati.
Daemusin menginginkan putranya memprioritaskan pemulihan wilayah kerajaannya dan penaklukan Nakrang untuk membebaskan orang Korea yang tinggal di sana. Pangeran berjanji memenuhi keinginan ayahnya untuk kebaikan rakyat Korea yang tidak bersalah di Nakrang. Janjinya memungkinkan dia mendapatkan izin menikahi Putri Nakrang.
Segera setelah menerima persetujuan resmi ayahnya untuk menikah, pangeran bergegas ke Kerajaan Nakrang untuk berbagi berita bahwa ayahnya, Raja Goguryeo, sangat mendukung pernikahannya. Pasangan muda itu akhirnya menikah, namun kebahagiaannya tidak berjalan dengan lama. Raja Daemusin ternyata diam-diam merencanakan untuk menaklukan Kerajaan Nakrang. Dia sangat siap untuk mempelajari kelemahan dan kekurangan kerajaan menantu perempuannya.
Kerajaan Nakrang memiliki drum ajaib yang disebut “jamyeonggo”. Drum dapat bermain sendirinya setiap kali bahaya mendekat. Keberhasilan penyerangan akan bergantung pada apakah Goguryeo dapat mengeluarkan drum besar itu dari Nakrang. Oleh karena itu, Raja Daemusin memerintahkan putranya Hodong untuk meminta istrinya membantu Goguryeo dengan cara merobohkan drum di Nakrang.
Goguryeo sebelumnya telah dikalahkan oleh Nakrang setelah genderang itu berbunyi sebagai tanda peringatan kepada tentara Nakrang untuk bersiap. Pangeran Hodong tidak bisa melanggar perintah ayahnya. Dia mengirim surat rahasia kepada istrinya yang meminta untuk menghancurkan drum untuk tujuan menaklukkan Kerajaan Nakrang dan membawa kedamaian di Goguryeo.
Putri Nakrang juga sempat bimbang untuk mengabulkan permintaan suaminya atau melindungi kerajaan dan rakyatnya. Tidak bisa memilih keduanya, maka sang putri rela menuruti keinginan sang suami. Dia dengan ceroboh membongkar jamyeonggo. Hal ini yang tidak bisa diampuni oleh ayahnya, Raja Choe Ri. Pada akhirnya sang raja membunuh anak perempuannya sendiri yang dianggap sebagai pengkhianat kerajaan.
