Cintaku dan Kakak Sepupu Tak Terpisahkan Meski Kami sudah Menikah

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi
Aku tidak tahu apakah ini salah atau benar? Aku jatuh cinta pada kakak sepupuku sendiri saat kami berlibur ke Bali. Saat itu aku sedang ingin berlibur ke Bali dengan beberapa teman dan mengunjungi kakak sepupuku yang tinggal di sana bernama Jeremy. Semua temanku sangat senang karena itu berarti kami tidak harus mengeluarkan uang lebih untuk menyewa sebuah penginapan.
Singkatnya, aku menghubungi Kak Jeremy dan dia setuju agar kami tinggal di rumahnya selama liburan di Bali. Sesampainya di sana Kak Jeremy menjemputku dan teman-teman di bandara menggunakan mobilnya lalu kami pergi ke sebuah restoran pinggir pantai karena aku sudah kelaparan. Teman-temanku langsung nyambung dengan Kak Jeremy, tak heran juga karena dia adalah orang paling supel yang pernah kutemui selama ini.
Kak Jeremy memberi tahu kami tempat-tempat mana saja yang seru dan jarang dikunjungi banyak orang, “tapi nanti lusa aku tidak bisa nemenin kalian ke sana ya, aku harus kerja ke kantor” ucapnya. “Engga masalah Kak, asal ada orang yang bisa jadi guide kita aja karena kan kita ga tau daerah sana” sahutku, “oh okeee nanti aku cariin deh yang bisa jadi guide kalian sekalian jagain kalian juga takut nyasar di daerah sana” jawabnya.
Hari pertama sampai di Bali, kami makan di sebuah restoran lalu ke rumah Kak Jeremy setelah menaruh beberapa barang dan ganti baju kami lanjut pergi ke bar karena hari sudah mulai sore. Di bar kami bersantai dan bersenang-senang sambil mendengarkan musik dengan suara yang tidak biasa, ditemani debur ombak, juga beberapa orang yang asyik mengobrol. Kak Jeremy tidak pernah meninggalkan aku sendirian, dia pasti duduk di sebelahku agar aku tidak kebanyakan menenggak alkohol.
Dia selalu mengingatkan aku untuk tidak banyak-banyak meminum alkohol di tempat seperti itu, “di tempat seperti ini jangan terlalu banyak minum, banyak sekali orang jahat yang memanfaatkan kondisi wanita mabuk untuk melakukan hal jahat” ucapnya. Aku menuruti ucapan Kak Jeremy hingga akhirnya beberapa teman mabuk dan tak kuat lagi berjalan ke mobil, dia menatapku dengan tatapan penuh arti seolah menyuruhku untuk melihat kata-katanya terbukti tepat di depan mataku.
Ketika berada di rumah, kami semua tidur di tempat yang tidak beraturan hingga akhirnya aku tidak kedapatan tempat. “Aku tidur di mana ya Kak, anak-anak pada tidur malang-melintang kaya begini” ucapku, “udah kamu tidur di kamar Kakak aja, nanti Kakak tidur di bawah pakai kasur lipat” jawabnya. Aku menuruti ucapan kakak dan dia sangat menjaga aku selayaknya adik sendiri, setelah mandi kami mengobrol banyak hal lalu tidur di tempat tidur masing-masing setelah hampir subuh.
Hari berikutnya, Kak Jeremy menemani aku dan teman-teman berkunjung ke sebuah pantai dengan tebing yang sangat curam. Tak pernah sekalipun dia melepaskan tangan dan pinggangku agar tidak terjatuh, mereka yang melihat kemesraan kami terus-terusan meledek bahkan cemburu karena dia sedang tidak memiliki kekasih. “Yaampuuun enak kali yaaa kalo dijagain kaya Yura begitu, sayang gue lagi jomblo. Eh apa gue cari pacar aja ya mumpung di sini?” celoteh Bella, temanku.
“Hahaha minta noh sama Kak Jeremy siapa tau ada yang mau sama lo” timpal Erik, “sialan lo, emang gue sejelek itu apa! Tapi bener juga sih, ada ga sih Kak temen lo yang laki? Kenalin kek ke gue siapa tau nyantol” tanya Bella pada kakak sepupuku itu. “Temen laki mah banyak tapi gue ga tau kalo dia mau sama lo atau engga ya Bel” jawabnya, “kaaan gue kata juga apaaaa!” balas Erik, akhirnya kami semua menertawakan Bella yang sibuk mencari pacar karena iri dengan kedekatan aku dan Kak Jeremy.
Dari matahari berada di atas kepala sampai tenggelam, kami masih berada di pinggir pantai dan sudah tidak tahu seberapa berubah warna kulit kami semua karena seharian benar-benar terjemur di bawah terik matahari. “Udah yuk pulang, besok Kakak harus kerja” ajak Kak Jeremy, semua temanku menurut dan kami menaiki banyak anak tangga lalu menyusuri jalanan berbatu untuk sampai ke mobil. “Kita makan dulu yuk sebelum pulang, gue laper lagi deh” ajak Bella, “boleh tuh tapi enaknya makan apa ya?” Tanya Erik, “cari-cari aja lah di pinggir jalan banyak makanan ini” sahut Bram.
Akhirnya kami memutuskan untuk makan malam sebelum kembali ke rumah Kak Jeremy, malam itu aku tidur dengan Bella karena kami sudah menentukan posisi tidur yang sesuai dan nyaman. Kamar di rumah Kakak hanya ada dua dan sudah pasti tinggal satu kamar yang bisa kami tempati, aku dan Bella memilih untuk tidur berdua tapi itu pun kalau Bram tidak tiba-tiba masuk dan mengunci pintu. Selama tinggal di sana aku hampir selalu tidur bersama kakak sepupuku itu karena mereka asyik dengan dunianya sendiri.
Bermula dari cerita, aku dan Kak Jeremy mulai merasakan ada hal yang aneh selama kami berada di sana. Perhatiannya yang tidak biasa padaku dan cenderung overprotective membuat aku berpikir kalau ada sesuatu di antara kami. Maka malam terakhir sebelum pulang, aku memutuskan untuk tidur bersamanya dan membicarakan hal ini dari hati ke hati. Aku ingin tahu apakah dia juga merasakan hal yang sama ataukah hanya aku yang merasakannya?
Malam itu seperti biasa kami bercerita tentang banyak hal tapi bedanya dia tidak lagi tidur di bawah melainkan satu kasur denganku. Bermula pada malam ketiga, saat itu Bali sedang dilanda hujan deras dan udara menjadi sangat dingin karena letak rumahnya yang berada di pedalaman. Aku tidak tega melihat kakakku tidur meringkuk di bawah, jadi kupaksa dia untuk tidur satu kasur denganku dan sejak saat itu kami tidak pernah lagi tidur terpisah.
Bercerita sambil tiduran dan terkadang bercanda di atas kasur membuat kedekatan di antara kami semakin terjalin. Suatu ketika saat aku sedang perang bantal tiba-tiba Kak Jeremy berusaha merebut bantal dariku tetapi berakhir ia memelukku karena bantalnya sudah terjatuh ke lantai. Ada perasaan aneh yang menyambut pelukan hangatnya, tatapan dia padaku pun sungguh tak biasa hingga wajahnya mulai mendekat dan terus mendekat sampai bibir kami terpaut mesra.
Kami berciuman sangat lama dan dia pun mulai berani menggerakkan tangannya untuk mencari titik lemahku. Aku tidak peduli ke mana tangan dia mengarah dan berusaha menikmati setiap jengkal yang berusaha ia raih, sampai akhirnya kami benar-benar terlena lalu melakukan hubungan intim itu di tengah hujan deras. Setelah melakukan semua itu yang ada hanyalah perasaan sayang dan enggan untuk berpisah “besok kamu tidak harus pulang Ra, kamu bisa terus di sini sama aku” ucapnya, “tapi mereka?” Tanyaku, “biarkan saja mereka pulang” jawab Kak Jeremy.
“Aku pulang dulu Kak, Mama pasti khawatir kalau yang lain pulang sedangkan aku tidak. Nanti aku akan cari alasan untuk kembali ke sini tapi sendiri tidak ajak mereka” ucapku. “Okeee, kamu harus kembali ke sini, hubungan kita baru dimulai” balasnya, “hehehe iyaaa, sejak kapan Kakak punya rasa padaku?” Tanyaku, “sudah dari dulu kalau boleh jujur tapi baru ada kesempatan saat kamu datang ke sini bersama teman-temanmu” jawabnya.
“Kalau kamu?” Tanyanya lagi, “aku tidak tahu tapi kurasa semenjak perhatian Kakak padaku jauh berbeda dari biasanya” jawabku. “Aku kira kamu tidak pernah sadar tentang hal itu” balasnya, “aku sebenarnya ingin menanyakan hal ini padamu tapi kurasa sudah tidak perlu. Apa yang kita lakukan tadi sudah menjawab semuanya” jelasku. Percakapan-percakapan mesra seperti itu kami bicarakan sampai aku terlelap di dalam pelukannya dan keesokan hari dia harus mengantar kami kembali ke bandara.
Berat rasanya untuk melepas kakak yang sudah mulai kucintai itu apalagi saat melihat tatapan mata yang tak rela melepasku pergi. Dua bulan di Jakarta, aku mencari cara agar bisa kembali ke Bali dan selama itu, komunikasiku dengan Kak Jeremy hanya melalui pesan singkat atau telepon. Ketika ada kesempatan untuk kembali ke sana, aku tidak menyianyiakannya dan langsung menghubungi Kak Jeremy agar menjemputku di bandara lusa nanti.
Dia sangat senang saat kukabari akan tinggal di rumahnya selama tiga bulan untuk kepentingan kuliah dan di situlah semua kenangan manis kami bermula. Kami tinggal satu rumah bahkan satu kamar selama berada di Bali, semua hal sudah kami coba mulai dari olahraga air sampai jalan-jalan ke beberapa tempat yang hanya diketahui oleh orang lokal. Benih cinta di antara kami semakin menjadi-jadi bahkan rasanya tak sanggup untuk membayangkan tentang perpisahan yang harus diambil kalau kedua orang tua kami tahu.
Selama hubungan itu terjalin, aku dan kakak bertemu di Bali atau Jakarta itupun harus menyewa kamar hotel agar anggota keluarga tidak ada yang tahu tentang kedekatan kami. Lima tahun berlalu, hubungan kami semakin dekat meski dengan beragam lika-liku yang harus dijalani tapi suatu hari aku harus mendapat kabar yang mengejutkan karena kakak sudah dikenalkan oleh wanita, anak dari sahabat mamanya. Mulanya kakak menolak tapi lama-lama mereka nyambung dan hubungan kami pun semakin renggang.
Cemburu, marah, selalu menyelimuti hari-hariku. Aku tidak menyangka kalau kakak akan pergi begitu saja dengan wanita yang baru ia kenal tapi suatu malam ia menghubungiku dan menceritakan semuanya. “Kita tidak mungkin terus-terusan menolak orang lain meskipun aku sebenarnya juga tidak mau dengan dia tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak mau keluarga kita curiga” ucapnya, “tapi apa Kakak mencintainya?” Tanyaku, “belum, aku masih hanya nyaman dengan dia” jawabnya. “Berarti Kakak ingin semua ini berakhir?” Tanyaku lagi, “kamu harus tau kalau aku sayang sekali sama kamu, tapi aku tidak punya keberanian yang cukup untuk mengatakannya di depan keluarga. Aku tidak ingin semua ini terjadi tapi aku tidak punya pilihan lain selain menerima untuk menjalin hubungan dengan Monica” jelasnya.
Malam itu, hubunganku dengan kakak berakhir sudah. Satu minggu aku hanya mengurung diri di kamar hingga membuat semua keluarga khawatir. Di dalam kamar aku terus memikirkan cara untuk mendapatkan kakak kembali tapi percuma saja karena enam bulan kemudian mereka memutuskan menikah. Pupus sudah harapanku dan tidak ada kesempatan untuk bisa menyambung hubungan itu. Di saat semua keluarga sibuk mengurus pernikahannya, aku justru sibuk mencari universitas agar bisa melarikan diri.
Aku tidak ingin selamanya menyakiti diri sendiri dengan melihat kebahagiaan mereka di depan mataku, jadi setelah kakak dan Monica menikah aku melanjutkan studi di luar kota. Di sana lah aku bertemu kembali dengan Bram, sahabatku yang dulu ikut berlibur di Bali bersama kakak, ternyata dia bekerja di salah satu perusahaan dan perlahan dia-lah yang mulai mengisi hari-hariku. Bersama Bram aku bisa melupakan kakak dan menemukan kebahagiaan lain hingga kami memutuskan untuk menikah dua tahun setelahnya.
Kakak terkejut saat mendengar rencana pernikahanku, lama tak bertemu aku datang membawa calon suamiku di depannya. Semua keluarga kembali heboh karena mereka sangat mengenal siapa Bram, singkatnya pernikahan kami terjadi dan aku dibawa pulang ke kota tempat suami bekerja namun tiga tahun kemudian Bram dipindahtugaskan ke kota asalku. Mau tidak mau kami semua pindah ke sebuah rumah yang sudah disewakan oleh perusahaan, sebenarnya aku ingin menolak karena firasatku sudah buruk tapi aku tidak mungkin membiarkan suami pulang-pergi dengan jarak yang sangat jauh.
Aku melihat wajah kakak yang sangat bahagia ketika tahu aku akan kembali ke kota itu dan dia langsung mengirim pesan untuk bertemu denganku di sebuah tempat. Aku menyetujuinya setelah meminta izin pada Bram karena kupikir memang ada satu hal penting yang harus dia kabarkan padaku tapi ternyata dia justru membawa rasa itu kembali. Perasaan yang selama ini kukubur dalam-dalam berikut dengan rasa sakit hati dengan mudah ia ubah menjadi ladang bunga. Aku kembali terlena dan mengingat semua kenangan indah kami saat itu, meski dia sudah memiliki anak tapi perasaannya padaku tidak pernah berubah.
Hubungan kami kembali terjalin, diam-diam di belakang pasangan masing-masing. Aku dan kakak sering mencuri waktu untuk sekadar menginap di hotel atau makan siang bersama, semuanya harus dilakukan dengan rapi agar Bram juga Monica tidak curiga. Bahkan setelah aku kembali ikut bersama suami ke rumah kami, kakak masih tidak mau melepaskanku dan hubungan itu masih terjalin hingga saat ini.
