Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
28 Ramadhan 1446 HJumat, 28 Maret 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna
Ibu Mengusir Aku dari Rumah Karena Cemburu Ayah Tiri Selalu Memujiku
2 Desember 2020 18:17 WIB
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi
Ketika aku berusia lima tahun, ayah pergi begitu saja membawa semua barangnya. Ia bahkan tidak melihat ke arahku ketika melangkahkan kaki ke luar rumah. "Aku tidak siap memiliki keluarga" satu-satunya ucapan ayah yang masih terngiang di kepalaku. Sejak saat itu, ibu selalu menyalahkan aku atas kepergian ayah "aku berharap aku tidak pernah memilikimu" ucapnya berulang-ulang.
ADVERTISEMENT
Kepergian ayah membuat ibu mulai meminum alkohol lebih banyak. Hampir setiap hari teman-teman ibu akan datang untuk mengadakan pesta minuman bersama. Aku harus mencuci pakaian dan memasak untukku sendiri. Setelah itu merapihkan botol-botol dan sampah yang berserakan di dalam rumahku.
Kehadiran mereka membuat rumahku memiliki bau seperti toilet umum. Aku harus bekerja keras untuk membuat rumah kembali nyaman meski itu akan sia-sia. Di usiaku ke 15 tahun, ibu membawa pulang seorang laki-laki yang ia klaim sebagai suaminya. Ia tak jauh lebih baik dari beberapa teman yang datang untuk menemaninya menikmati minuman alkohol.
Tatapan pria itu membuatku sering merasa ketakutan tetapi puncaknya ketika ia mulai memuji sambil menyentuh tubuhku. Ketakutan yang teramat besar mendorong aku untuk mengatakannya pada ibu, berharap ia akan melindungiku dari pria brengsek yang ia sebut suaminya. Alih-alih dibela, ia justru memakiku "bilang saja kamu cemburu! Kamu ingin merebutnya dariku kan? Keluar kamu dari rumahku!" Teriak ibu.
ADVERTISEMENT
Ia mendorong hingga aku terpelanting ke luar rumah kemudian membuang semua baju lewat jendela kamarku. Barang terakhir yang ia lempar dari lantai dua adalah koperku, lengkap sudah rasanya penderitaanku hari itu. Digoda oleh lelaki tak bermoral sampai diusir ibuku sendiri dengan alasan tak masuk akal!
Aku berakhir hidup di pinggir jalan tanpa rumah dan uang, yang kulakukan hanyalah meminta belas kasihan mereka agar memberiku sedikit uang. Satu minggu terlunta-lunta di jalan hingga seorang pria menghampiriku "kamu cantik, sedang apa di jalan seperti ini? Ayo ikut denganku, kamu akan merasa jauh lebih aman" ucapnya.
Kebaikan hati pria itu adalah hal yang kudambakan dari seorang ayah. Mendengar kata "aman" membuat aku luluh hingga ikut dengannya pergi ke suatu tempat. Namun sesampainya di sana, ia melakukan sesuatu padaku dan menjadi penjahat yang sesungguhnya! Dia membuat aku memuaskan hasrat setiap pria yang datang ke sana.
ADVERTISEMENT
Aku tidak ingin melakukannya tetapi harus kulakukan karena rasa takutku pada pria itu begitu besar. Pria itu mengambil semua uang yang kuhasilkan, mengancam, hingga mengintimidasiku setiap hari. Hingga ketika usiaku menginjak 20 tahun, aku mengandung seorang bayi yang tidak kuketahui siapa ayahnya.
Namun kehamilan itu membuat aku tersadar kalau hidupku tak boleh selamanya seperti itu. Aku tidak akan membiarkan bayiku mengalami hal yang sama denganku. Jadi kuputuskan untuk melarikan diri ketika pria itu tak sadarkan diri akibat pengaruh alkohol. Entah apa yang ada di pikiranku setelah berhasil melarikan diri, aku memilih untuk kembali pulang ke rumah ibuku.
Aku tidak menemukan suaminya ketika sampai di sana, ibu terus mengoceh dan mengatakan kalau pria itu baru saja pergi. Tak ada yang berbeda setelah lima tahun aku pergi dari sini, ia tetap mengonsumsi alkohol dan hidup. Kelihatannya tidak seperti cerita dongeng ketika anak yang telah lama hilang baru saja bertemu dengan ibunya.
ADVERTISEMENT
Semua botol minuman alkohol itu satu per satu mulai kukosongkan dengan menuangkannya ke dalam tempat cuci piring. Aku hanya ingin membantu ibuku keluar dari lingkaran itu dan dia hanya melihatku sangat geram ketika botol-botol itu mulai kosong. Sembilan bulan terberat dalam hidup ketika aku harus menghadapi ibu dan juga kehamilanku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya tetapi yang harus kulakukan adalah melakukan segalanya agar aku tidak mengulangi kesalahan ibuku.