Entertainment17 September 2020 16:55

Ibuku Merebut Suamiku

Konten kiriman user
Ibuku Merebut Suamiku (729125)
Dok. Pixabay.com
Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi
Sejak dulu ibu selalu menganggap kalau akulah penyebab dia kehilangan masa mudanya. Ibu melahirkan aku ketika usianya baru menginjak 18 tahun. Ia selalu berteriak dan memperlakukan aku secara tidak baik, ketika aku beranjak dewasa ibu akan berdandan layaknya usiaku.
ADVERTISEMENT
Tak ada satu malam pun yang terlewatkan oleh ibu ketika aku dan teman-teman datang ke sebuah pesta. Banyak dari mereka yang menganggap kalau ibu jauh lebih menyenangkan daripada aku. Waktu demi waktu membuat aku berubah dan merasa memiliki tanggung jawab atas hidupnya.
Ibu terlalu mudah, tak jarang ia pergi keluar dari klub bersama dengan pria yang baru saja dia kenal. "Ma kamu baru saja mengenalnya," ucapku ketika melihat dia pergi dengan pria asing. "Mundur, ini bukan urusanmu," jawabnya sambil membalas pelukan pria asing itu.
Pun ketika aku didekati oleh seorang pria. Dia selalu hadir paling depan untuk menghalau siapa pun yang mendekatiku. Ketika pria yang menjadi ayahku meninggalkannya, ibu tak pernah lagi menjalin hubungan serius. Dia hanya menginginkan kesenangan untuk mendapatkan masa mudanya kembali.
ADVERTISEMENT
Aku sangat bahagia ketika aku bertemu dengan Jillian, darinya aku tahu kalau di dunia ini masih ada keluarga yang utuh dan bahagia. Ibu tidak pernah menyukai Jillian, dia selalu memberikan aku pengaruh buruk untuk tidak pernah percaya pada pria. Intinya, dia ingin membuatku memiliki hidup seperti dirinya.
"Semua pria sama saja, mereka itu binatang! Mereka bahkan tidak bisa mengontrol diri mereka sendiri," ucap ibu ketika melihat wajahku berseri-seri setelah kembali dari rumah Jillian. "Ini bukanlah sesuatu yang harus kamu urus," jawabku, saat itu aku sangat jatuh cinta pada Jillian.
Di mataku ia adalah seorang pria yang sengaja turun dari langit untuk menyembuhkan luka hatiku. Aku yakin Jillian yang berasal dari keluarga utuh dan bahagia akan membentuk keluarga serupa denganku. Setelah menjalin hubungan selama dua tahun, apa yang kuimpikan pun terwujud.
ADVERTISEMENT
"Maukah kamu menikah denganku?" Tanya Jillian saat kami tengah berlibur di sebuah pulau. Tanpa berpikir panjang aku menyetujui permintaannya, tak lama berselang kami pun menikah dan tinggal di apartemen milik Jillian.
Pada tiga bulan pertama, pernikahan kami terasa sangat menyenangkan. Namun Jillian berubah ketika tahu kalau aku sedang mengandung anaknya. "Kamu hanya berpikir tentang anakmu, bagaimana dengan aku?" Tanyanya berulang-ulang. Kupikir itu hanyalah sebuah metafora, jadi aku tidak menanggapinya dengan serius.
"Aku tidak enak badan, ketika bayi ini lahir semua pasti akan berubah," jawabku. Namun Jillian tetap dengan pendiriannya, aku merasa pernikahanku terasa tidak nyaman, jadi aku menghubungi ibu mertuaku untuk meminta saran.
"Kamu harus memaklumi perubahan suasana hatinya, sejak kamu mengandung dia sudah banyak berkorban untukmu," ucap ibu mertuaku. Menghubungi ibu mertua tidak membuat aku mendapatkan solusi dan malah semakin merasa depresi. Sampai suatu ketika untuk pertama kalinya setelah menikah, ibu menghubungiku.
ADVERTISEMENT
Ibu mengajak aku untuk bertemu dan kami menghabiskan waktu bersama. Sejak saat itu, dia menjadi tamu yang sering datang ke rumahku. Tak kusangka ibu akan cepat akrab dengan Jillian, pria yang selama ini tidak pernah ia sukai.
Pada kunjungan yang entah sudah berapa kali, ibu mengeluh karena talang air di apartemennya rusak dan secepat kilat Jillian menawarkan bantuan. Mereka menyocokkan jadwal agar suamiku bisa berkunjung dan memperbaiki talang air di apartemen ibu.
Aku merasa sangat bahagia karena pada akhirnya ibu bisa menyukai pria yang sangat kucinta. Sejak kejadian itu, Jillian menjadi sering berkunjung ke apartemen ibu untuk mereparasi sesuatu. Suatu hari ketika Jillian sedang berada di apartemen ibu, aku memutuskan untuk datang secara tiba-tiba sambil membawa kue kesukaan ibu.
ADVERTISEMENT
Aku memutuskan untuk membuat kejutan dengan membuka pintu tanpa sepengetahuan mereka. Aku masih menyimpan kunci cadangan untuk masuk ke dalam apartemen ibu. Tidak kusangka hari itu akan menjadi hari terburuk dalam hidupku.
Ketika sudah berada di dalam, aku tidak menemukan Jillian ataupun ibu hampir di semua ruangan. Sampai akhirnya aku mendengar suara rintihan dari dalam kamar ibu. Kudekati kamar itu perlahan dan mendengar suara rintihan Jillian tak lama setelah suara ibu.
Dengan jantung berdebar kencang aku memberanikan diri untuk membuka paksa pintu kamar ibu. Benar saja dugaanku, aku melihat ibu dan Jillian sedang melakukan hubungan intim. Aku mematung di depan pintu, sesaat mereka tidak menyadari keberadaanku sampai akhirnya aktivitas itu terhenti.
ADVERTISEMENT
"Kamu selingkuh dengan ibuku!!" Teriakku, "ini salahmu sayang, aku sudah memperingati kamu kalau semua pria itu binatang," sahut ibu. "Tentu saja, ibumu jauh lebih menyenangkan daripada kamu," balas Jillian. Mendengar ucapan itu keluar dari dua orang yang sangat kucinta membuat aku merasa dihujam oleh jutaan besi panas.
Aku menangis dan membuang kue yang sudah kubawa untuk ibuku. Sesampainya di rumah, aku hanya bisa menangis sambil berusaha menenangkan diriku sendiri. Aku tidak ingin terlalu stres sehingga berakibat buruk pada anakku.
Dua hari setelah kejadian menyedihkan itu, Jillian berusaha meminta maaf dan ingin memperbaiki segalanya. Namun aku tidak pernah membukakan pintu untuknya. Di hari yang sama dengan kedatangan Jillian, aku mengisi berkas perceraian dan memenangkan apartemen juga beberapa aset lain miliknya.
ADVERTISEMENT
Aku juga tidak pernah mengangkat telepon dari ibuku, terlalu sakit rasanya mengingat kejadian waktu itu. Sekarang aku hanya bertekad untuk membesarkan anakku sebaik mungkin tanpa campur tangan siapa pun. Perlahan tapi pasti, setelah anakku lahir semua berubah menjadi lebih baik.
Lima tahun setelah berpisah dan membesarkan anak seorang diri, akhirnya aku bertemu dengan seorang pria yang sangat baik. Dia memperlakukan aku layaknya wanita paling beruntung di dunia, dia sangat menyayangi anakku dan kami pun memutuskan untuk menikah. Suatu hari aku menerima undangan pernikahan ibu dengan Jillian.
Saat itu aku sudah memaafkan apa yang telah mereka lakukan padaku tetapi memutuskan untuk tetap membuang mereka dari hidupku. Jadi, aku membuang undangan pernikahan itu dan menutup telinga tentang mereka. Aku sudah bahagia dengan hidupku, seorang suami yang suportif dan anak laki-laki yang sehat.
ADVERTISEMENT
Setelah sekian lama, ibu membanjiriku dengan panggilan tak terjawab. Aku memang sengaja tidak merespons apa pun yang berhubungan dengannya. Akan tetapi baru kutahu kalau ibu dan Jillian sudah bercerai. Sekarang aku tahu mereka sudah hancur dari pilihan yang mereka buat sendiri.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tim Editor
drop-down
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white