Konten dari Pengguna

Istriku Pura-pura Amnesia untuk Menutupi Perselingkuhannya

Cinta dan Rahasia

Cinta dan Rahasia

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. PIxabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Dok. PIxabay.com

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi

Aku menikahi Coco selama lima tahun, kami hidup bahagia tanpa ada satu kekurangan apa pun. Aku mencintai Coco sebagai mana dirinya, tidak pernah aku melarang dan menuntutnya agar menjadi seperti wanita impianku. Kurasa Coco juga mencintai aku apa adanya sampai kabar buruk itu datang ke telingaku.

Coco mengalami kecelakaan lalu lintas saat hendak berkunjung ke salah satu teman masa kecilnya. Pagi itu Coco pamit akan menginap di sana selama tiga hari, "apa kamu tidak akan merindukanku?" Pertanyaan Coco masih terngiang di telingaku. Tak kusangka kepergian Coco akan membawanya ke rumah sakit, istriku mengalami koma selama empat jam.

Selama dia dalam kondisi tidak sadarkan diri, aku merasa hidupku hancur. Aku ketakutan setengah mati, membayangkan hidup tanpa cinta sejatiku. Waktu berlalu, aku memang tidak kehilangan cintaku tetapi dia kehilangan semua memorinya. Anehnya hanya aku yang tidak ada dalam ingatannya, Coco mengingat semua orang. Kecuali aku.

"Apa kamu dokter?" Tanya Coco saat melihat aku masuk ke dalam kamar rawatnya, "bukan aku suamimu" jawabku dengan hati yang bergetar. Sakit rasanya dilupakan oleh orang yang sangat kucintai meski kutahu itu bukanlah keinginannya, tetapi tetap saja rasanya menyakitkan.

Satu minggu aku berada di rumah sakit, tak sekalipun Coco menyebut namaku. Tak sekalipun ia melihat ke arahku, berulang kali aku menemui dokter tetapi jawaban yang kutemukan tetaplah sama. "Kondisi psikis istri Anda baik-baik saja, mungkin akan butuh waktu sedikit lebih lama untuk dia mengingat Anda."

Jika secara medis dia tidak bermasalah, mengapa dia masih tidak bisa mengingatku? Pikiranku terus berkecamuk. Ketika Coco sudah diperbolehkan pulang, ia tidak mau tinggal bersamaku "aku ingin tinggal di apartemenku" ucapnya. "Lalu bagaimana kamu bisa mengingatku jika kita tidak hidup bersama?" Tanyaku.

Coco terlihat sangat bingung dan akhirnya aku tidak menentang keputusannya. Hampir setiap hari aku datang ke apartemen Coco untuk mengingatkannya betapa aku mencintai dirinya. Mengingat bagaimana hari bahagia kami terselenggara, mimpi-mimpi kami, semuanya.

Aku tidak pernah berhenti berusaha untuk membawa semua memori itu kembali pada Coco-ku. Namun pernyataan yang keluar dari mulutnya sungguh membuatku terkejut. "Aku masih tidak mengerti mengapa kita bersama? Kamu dan aku memiliki pandangan yang berbeda tentang hidup" ucapnya.

Ucapannya sungguh menyakitkan hati, tetapi lagi-lagi aku mengingat kalau dia bukanlah Coco yang kukenal. Setidaknya ia belum kembali. Aku terus berusaha agar dia mengingatku dengan memberikannya semua hal yang berpotensi memorinya kembali.

Namun ketika aku hendak memberinya kejutan dengan memesan tempat di restoran pertama kali kami bertemu, aku justru menemui jawabannya. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat, Coco tahu kalau kami sudah menikah tetapi dia datang ke tempat itu dengan laki-laki lain.

Mereka tampak mesra dan bahagia, beginikah cara dia mengingatku? Dengan pergi bersama pria lain? Aku selalu menghargai apa yang menjadi kepentingan pribadinya, tetapi kali ini aku harus mengajaknya berbicara serius. Entah dia mengingatku atau tidak, aku tetaplah suaminya.

Ketika aku hendak menghampirinya aku mendengar semua percakapannya. "Kamu telah memilih antara aku dan suamimu dalam waktu cukup lama, ini adalah ide bagus buat kamu melupakannya. Kita tidak perlu menyembunyikan hubungan kita lagi" ucap pria itu.

Seketika hatiku remuk dan hancur. Selama ini Coco telah mengkhianatiku dengan pria itu, ia tidak benar-benar mencintaiku. Kondisinya saat ini adalah hal yang ia buat-buat untuk sengaja menyingkirkan aku.

Aku berdiri di samping Coco, wajahnya begitu terkejut dan di waktu bersamaan ia memainkan perannya lagi. Ia berpura-pura mengingat tentang aku, pernikahan kita, dan semua yang sudah kusebutkan sebelumnya. "Aku ingat kalau kamu adalah pria yang kucintai selama ini" ucapnya.

Namun semua sudah terlambat, aku sudah tahu kalau semua yang dilakukan Coco hanyalah sandiwara. "Sayang aku mengingatmu" tambahnya "kamu mengkhianatiku selama ini?" Tanyaku "tidak itu semua adalah kesalahan" jawab Coco.

Aku melepaskan tangan Coco dari tubuhku "pernikahan kita adalah kesalahan" balasku. "Uang adalah satu-satunya alasan mengapa kamu tidak menceraikanku" tambahku. "Semua ibu adalah kesalahan, kamu harus percaya padaku" rengeknya "aku percaya padamu, percaya kalau pandangan kita dalam hidup sangatlah berbeda, jadi untuk apa masih bersama?" Jawabku.

Berulang kali aku melepaskan tangan Coco dari tubuhku tetapi dia tetap mengikutiku. Tangisan Coco mulai pecah tetapi beruntung tekadku tidak pernah goyah. "Aku akan mengisi berkas perceraian dan mulai saat ini pengacaraku yang akan menjadi jembatan di antara kita" tuntasku.

Aku keluar dari restoran itu sambil membawa hatiku yang luka. Tak kusangka wanita yang kuanggap sebagai cinta sejatiku, justru dia yang paling dalam menancapkan pisau di jantungku. Sekarang semua sudah berakhir, aku tidak akan memberikan apa pun pada Coco meski aku masih mencintainya.